
Pelatihan Kepemimpinan Transformatif di Bulukumba
Udara malam di Kedai Kopi Litera terasa lebih pekat dari biasanya. Bukan karena lalu lalang kendaraan yang sesekali lewat, melainkan karena muatan percakapan di atas satu meja kayu yang letaknya agak ke sudut.
Sri Puswandi—atau yang lebih karib disapa Bung Wandi—duduk dengan punggung tegap. Di depannya, kepulan uap kopi hitam. Ia mengurai agenda teranyar Dana Mitra Tani (DMT) Bulukumba, yaitu Pendidikan Kepemimpinan Transformatif yang digelar DMT Bulukumba bersama Bina Desa pada 19–21 Desember 2025 lalu.
"Mereka tidak hanya belajar cara memimpin, tapi belajar cara menjadi manusia yang adil di tengah kerumitan organisasi desa," kata Wandi pada Ahad, 28 Desember 2025.
Bagi DMT Bulukumba, pelatihan kepemimpinan di Bonto Matene yang dihadiri Kepala Desa Syahiruddin akan diuji di hari-hari setelahnya. Wandi menekankan bahwa Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) yang disusun peserta adalah sebuah perjanjian dengan komunitas. Tak ada ruang untuk sekadar menjadi alumni pelatihan yang pasif.
“Januari 2026 nanti, kita tidak akan lagi bicara di bawah atap gedung yang nyaman. Kita akan masuk ke 'Pendidikan Kaji Tindak Partisipatif'. Kita akan turun ke tanah-tanah sengketa, ke kelompok-kelompok yang suaranya dibungkam, dan ke desa-desa yang selama ini menjadi wilayah program kita. Di sanalah laboratorium kalian yang sebenarnya,” urai Wandi.
20 Kader Pemimpin Transformatif
Dana Mitra Tani (DMT) Bulukumba sukses menyelenggarakan Pendidikan Kepemimpinan Transformatif bagi 20 peserta dari berbagai komunitas akar rumput. Kegiatan yang didukung oleh Bina Desa ini berlangsung selama tiga hari, 19–21 Desember 2025, bertempat di Gedung Pertemuan Desa Bonto Matene, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba.
Ketua Dana Mitra Tani Bulukumba, Sri Puswandi, menjelaskan bahwa pendidikan ini dirancang untuk memperkuat nilai-nilai kepemimpinan di tingkat desa. Selain itu, kegiatan ini bertujuan menjadi ruang belajar kritis bagi warga dalam merefleksikan peran sosial dan tanggung jawab kolektif mereka.
"Pendidikan ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader perubahan di tingkat komunitas serta menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat," ujar Wandi.
Pelatihan ini melibatkan keterwakilan yang luas dari unsur masyarakat Desa Bonto Matene, meliputi Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Kelompok Perempuan, serta komunitas Serumpun Tau Manuju.
Tak hanya warga lokal, sejumlah lembaga dan komunitas penggerak di Kabupaten Bulukumba turut mengirimkan perwakilannya, di antaranya: Teras Tani Alami Desa Anrang, Gerakan Pemuda Tani Desa Sapobonto, Koperasi Dana Mitra Tani, Volunteer Dana Mitra Tani, dan Yayasan Pendidikan Rakyat Bulukumba.
Peserta Dibekali Materi Komprehensif
Selama pelaksanaan, peserta dibekali materi yang komprehensif, mulai dari Bina Suasana, Keorganisasian, Manajemen Organisasi, Kepemimpinan, hingga Akuntabilitas Sosial dan Advokasi Kebijakan.
Proses belajar menggunakan metode Pendidikan Orang Dewasa (POD) yang mengedepankan diskusi kelompok, curah pendapat, serta tanya jawab. Fasilitator utama dalam kegiatan ini adalah Sri Puswandi dan Nurul Daqmar (Ketua Serikat Perempuan Bajiminasa), didampingi Harlina dari DMT sebagai co-fasilitator.
Sebagai bentuk komitmen pasca-pendidikan, seluruh peserta telah menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL). Sri Puswandi menegaskan bahwa kegiatan ini akan diteruskan dengan aksi nyata di lapangan.
“Setelah ini, kami mempersiapkan kegiatan lanjutan berupa Pendidikan Kaji Tindak Partisipatif yang direncanakan pada Januari 2026. Kegiatan tersebut akan ditempatkan di desa-desa yang selama ini menjadi wilayah program Dana Mitra Tani di Bulukumba,” tambah Wandi.
Penutupan Acara
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Bonto Matene, Syahiruddin, dengan dihadiri oleh Babinkamtibmas setempat. Pihak DMT menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Desa Bonto Matene atas partisipasi dan dukungan fasilitas yang diberikan selama kegiatan berlangsung.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar