
Program Budi Pekerti di SMA Negeri 7 Pontianak
SMA Negeri 7 Pontianak, yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Ibrahim, telah meluncurkan sebuah program pembentukan karakter bernama Gerakan Budi Pekerti. Program ini dirancang sebagai upaya komprehensif untuk menumbuhkan perilaku positif dan budaya disiplin di lingkungan sekolah. Dalam menjalankan program tersebut, Ibrahim menggabungkan berbagai aspek seperti pencegahan perundungan (anti-bullying), penanganan kekerasan, menciptakan lingkungan ramah anak, hingga penerapan kawasan bebas asap rokok.
Seluruh komponen dalam gerakan ini dikumpulkan dalam satu sistem bernama Reward Budi Pekerti, yang diberikan kepada siswa yang konsisten menunjukkan perilaku baik. Menurut Ibrahim, program ini diambil dari dalil Islam, lalu dikemas dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa di sekolah.
Salah satu keberhasilan program ini terlihat pada penanganan pelanggaran merokok di lingkungan sekolah. Dengan adanya sistem pengawasan yang melibatkan seluruh warga sekolah, termasuk tukang kantin, kasus merokok bisa diminimalkan hingga nol dalam enam bulan.
Untuk memastikan proses evaluasi yang objektif, calon penerima penghargaan Budi Pekerti dinilai oleh seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah hingga pengelola kantin. Hasil penilaian tersebut akan menentukan enam besar siswa yang berhak menerima reward dalam program PERAKDIPETI (Pelopor Gerakan Budi Pekerti).
Selain fokus pada pembinaan karakter, SMA Negeri 7 Pontianak juga memperkuat budaya peduli lingkungan dengan mewajibkan siswa membawa pulang sampah mereka sendiri. Kebijakan ini sejalan dengan upaya sekolah untuk meningkatkan predikat Adiwiyata Nasional menuju Adiwiyata Mandiri.
Ibrahim menyatakan bahwa kondisi gedung sekolah yang sederhana dan sudah tua bukan menjadi penghalang bagi sekolah untuk terus berprestasi dan berinovasi. Ia bersama seluruh warga sekolah berharap agar revitalisasi gedung dapat segera dilanjutkan.
Pada tahun 2024, sebagian ruang kelas telah direvitalisasi, namun pekerjaan hanya sampai pada tahap pondasi. Di tahun 2025, proses revitalisasi terhenti karena kebijakan efisiensi anggaran. Akibatnya, proses belajar mengajar dibagi menjadi dua sesi, pagi dan sore. Kondisi ini dinilai tidak efektif, baik bagi siswa maupun guru.
Waktu belajar siswa yang sebelumnya delapan jam, sekarang hanya bisa empat sampai lima jam per hari. Sementara sebagian besar guru harus masuk pukul 06.45 dan pulang hampir pukul 17.30, jelas Ibrahim.
Ibrahim berharap pemerintah dapat memberikan prioritas agar SMA Negeri 7 Pontianak segera mendapatkan giliran revitalisasi, sehingga pembelajaran kembali optimal dan kondisi sekolah semakin mendukung pencapaian prestasi.
Langkah-Langkah dalam Program Budi Pekerti
- Pencegahan Perundungan: Program ini memiliki pendekatan aktif dalam mencegah perundungan di lingkungan sekolah.
- Penanganan Kekerasan: Ada mekanisme khusus untuk menangani kasus kekerasan yang terjadi di sekolah.
- Lingkungan Ramah Anak: Program ini bertujuan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi siswa.
- Kawasan Bebas Asap Rokok: Penggunaan kawasan bebas asap rokok menjadi bagian dari program ini.
- Sistem Reward Budi Pekerti: Siswa yang menunjukkan perilaku baik akan diberikan penghargaan.
- Evaluasi Oleh Seluruh Warga Sekolah: Proses evaluasi dilakukan oleh seluruh komunitas sekolah, termasuk pengelola kantin.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar