Dari Gang Sempit Bogor, Barokah Farm Hasilkan 100 Liter Susu Harian Selama Puluhan Tahun

Kampuss Bondes: Peternakan Sapi Perah di Tengah Kota Bogor

Di Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terdapat sebuah kawasan yang dikenal sebagai Kampuss Bondes. Kawasan ini menjadi sentra susu sapi perah yang menarik perhatian banyak orang. Di balik deretan rumah warga dan gang-gang sempitnya, tepatnya di Gang Piagam, berdiri sebuah peternakan yang telah lama menjadi andalan warga setempat.

Peternakan itu bernama Barokah Farm, milik Haji Mahpudin atau Haji Apud, yang kini sudah masuk generasi ketiga. Meski berada di tengah padatnya permukiman, Barokah Farm tetap eksis dan menjadi sumber susu segar setiap hari bagi banyak pelanggan. Usaha ini mampu bertahan puluhan tahun berkat pengelolaan kandang yang teratur, komitmen menjaga kualitas susu, dan adaptasi yang terus dilakukan mengikuti perkembangan zaman.

Barokah Farm berdiri pada 1 Januari 1996, namun sejarahnya sudah berakar jauh sebelumnya. Sejak kecil, Haji Apud sudah terbiasa membantu orang tuanya mengurus sapi. Dari kebiasaan itulah kecintaannya pada dunia peternakan tumbuh, hingga akhirnya membuka usaha sendiri yang kini memelihara sekitar 50 ekor sapi perah dan pedaging seperti Frisian Holstein (FH), Limosin, Simental, Peranakan Ongole (PO), dan Belgian Blue.

Haji Mahpudin, pemilik Barokah Farm, menerangkan bahwa beternak di kawasan perkotaan tetap dapat berjalan baik selama pengelolaannya tepat dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. “Kebersihan itu nomor satu, setiap hari kandang selalu dibersihkan, sapi dimandikan, dan kami pastikan tidak ada bau menyengat yang mengganggu tetangga,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh proses reproduksi sapi perah di Barokah Farm menggunakan metode inseminasi buatan (IB), bukan kawin alam. Cara ini dipilih demi menjaga kualitas bibit sekaligus meminimalkan risiko cedera pada sapi.

Rutinitas pagi di Barokah Farm dimulai sejak subuh. Pemerahan pertama dilakukan pukul 04.30, sementara pemerahan kedua dilakukan sore hari sekitar pukul 15.30. “Sapi diperah dua kali sehari, pagi dan sore. Banyak pelanggan yang menunggu langsung proses pemerahan di kandang untuk mendapatkan susu yang baru diperah, karena susu baru diperah itu memang paling segar,” kata Haji Apud.

Dari total sapi yang dimiliki, Barokah Farm mampu menghasilkan hingga 100 liter susu per hari, atau lebih dari 3.000 liter per bulan. Meski jumlahnya dapat menurun saat banyak sapi sedang bunting, kualitas tetap dijaga sepenuhnya. Setelah proses pemerahan, susu disaring dan dipastikan kebersihannya. Untuk permintaan pasteurisasi, proses dilakukan langsung di lokasi dengan biaya tambahan. Harga susu segar pun dijaga agar tetap terjangkau.

Haji Apud menjelaskan bahwa harga untuk pembeli eceran dan reseller tentu berbeda, sebagai bentuk dukungan terhadap usaha kecil. “Susu murni di sini 10 ribu per liter. Kalau yang dipasteurisasi 12 ribu. Murah tapi tetap kami jaga kualitasnya. Kalau untuk pelanggan tetap atau reseller yang ambil banyak, biasanya harganya bisa 6–7 ribu per liter,” ungkapnya.

Setelah pembelian ditingkatkan oleh reseller, permintaan susu pun semakin tinggi. Karena itulah pelanggan disarankan melakukan pemesanan terlebih dahulu. Pembeli yang datang tanpa memesan biasanya kehabisan stok karena seluruh susu segar sudah dipesan sejak pagi. Barokah Farm melayani pemesanan melalui WhatsApp agar pengambilan susu lebih terjadwal dan tidak mengganggu proses pemerahan.

Pembeli Barokah Farm datang dari berbagai wilayah Bogor hingga luar kota. Ada yang membeli untuk konsumsi pribadi, ada yang untuk usaha minuman, dan ada pula yang bertindak sebagai reseller. Tak hanya susu, peternakan ini juga menjual kotoran sapi yang sudah difermentasi menjadi pupuk kompos.

Selain dikelola keluarga, Barokah Farm juga dibantu tiga orang pegawai tetap. Jumlah pegawai biasanya bertambah menjelang Idul Adha ketika aktivitas kandang meningkat dan kebutuhan tenaga kerja lebih besar.

Rohmat, salah satu pegawai Barokah Farm, menceritakan bahwa ia telah bekerja di peternakan ini selama lebih dari 15 tahun, sehingga hampir setiap detail aktivitas harian sudah ia kuasai. “Rutinitas harian pegawai di sini mulai dari memeriksa kondisi sapi, memandikan sapi, membersihkan kandang, sampai menyiapkan pakan untuk sapi,” ujarnya.

Rohmat juga menjelaskan bahwa pakan yang diberikan kepada sapi terdiri dari ampas tahu, ampas tempe, konsentrat, dan pelet bungkil khusus sapi perah. “Jenis pakan ini tinggi akan protein dan serat, sehingga membantu meningkatkan kualitas produksi susu sekaligus mempercepat pertumbuhan sapi agar sehat dan gemuk,” tambahnya.

Haji Apud berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih besar kepada peternak lokal, terutama bantuan modal berbunga rendah agar usaha peternakan di seluruh Indonesia bisa terus berkembang. Bagi kamu yang ingin melihat langsung proses pemerahan, membeli susu segar yang baru diperah, atau sekadar mengenal lebih dekat peternakan sapi perah di tengah kota, kamu bisa datang langsung ke peternakan Haji Apud, yang berlokasi di Jalan Piagam No. 64, Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan