Dari Kain Sisa, 40 Produk Lahirkan Kreativitas Ibu-Ibu Kampung Perca

BOGOR, aiotrade
Di sebuah sudut RW 01 Kelurahan Sindang Sari, Bogor, deru mesin jahit bercampur tawa para perajin menjadi ritme yang menandai hidupnya ekonomi kreatif berbasis limbah tekstil.

Kampung Perca, yang lahir di masa pandemi Covid-19, tumbuh menjadi ruang kreatif yang memproduksi puluhan ragam kerajinan dari sisa-sisa kain garmen. Di ruangan yang tak begitu luas, potongan kain kecil yang dulu dianggap tak berharga kini disortir, dijahit, disusun, dan dirangkai menjadi benda-benda utilitas dan dekorasi yang diminati warga. Para ibu rumah tangga yang awalnya hanya mengikuti pelatihan menjahit, kini sudah terbiasa memproduksi pesanan dalam jumlah besar.

Hasilkan 40 Jenis Produk

Dari sekadar memproduksi masker kain di masa pandemi, geliat usaha Kampung Perca kini tumbuh jauh lebih besar. Sumber bahan bakunya pun semakin beragam. Tidak lagi hanya mengandalkan perca dari satu konveksi, mereka kini menerima kiriman limbah tekstil dari pabrik garmen, penjahit rumahan, hingga butik-butik di kawasan Pajajaran, Bogor.

Saat ini, lebih dari 40 jenis produk lahir dari tangan para ibu perajin. Ragamnya luas, mulai dari gantungan kunci, tempat tisu, notebook, dompet, pouch, sampai produk fesyen seperti pangsi.

"Salah satunya ya, ada notebook, tempat tisu besar, tempat tisu kecil, bantal duduk, bantal kursi, terus ada tas juga, ada syal, sama pangsi," jelas Kartika Dwi, salah satu pengurus Kampung Perca saat ditemui, Senin (8/12/2025).

Harganya bervariasi sesuai tingkat kerumitan, ukuran, dan jenis produk yang dibuat. Beberapa barang kecil dijual dengan harga terjangkau, sementara produk fesyen dan dekorasi rumah yang memerlukan proses lebih panjang dipasarkan dengan harga lebih tinggi. "Kita dari harga, seperti tempat jarum itu, harga Rp. 10.000, sampai ke fesyen itu tergantung size juga, ada yang Rp. 250.000," kata dia.

Sejumlah Ibu Terlibat dalam Produksi

Sebanyak sekitar 30 ibu terlibat dalam proses produksi, masing-masing dengan keahlian yang berbeda. Ada yang menekuni pembuatan pakaian, sementara yang lain mengerjakan kerajinan seperti keset atau cempal ayam. Sebagian ibu bekerja dari rumah dan difasilitasi dengan mesin jahit pinjaman agar produksi tetap berjalan lancar.

Berawal Dari Masker Hingga Sajadah

Sebelum puluhan produk muncul, perjalanan Kampung Perca dimulai dari masa ketika masyarakat membutuhkan barang praktis dan higienis saat pandemi. Kebutuhan itu kemudian menjadi peluang. Produksi pertama yang lahir dari tangan para ibu adalah masker kain cuci pakai. Potongan kain sisa yang semula tidak dilirik, justru menjadi penyelamat di tengah kelangkaan masker medis.

Setelah itu, beriringan dengan kelangkaan masker dan semakin banyaknya aktivitas luar rumah, permintaan produk lain pun bermunculan. Para ibu mulai memikirkan barang apa yang bisa mendukung kebutuhan sehari-hari selama pandemi, khususnya untuk ibadah dan perjalanan. “Waktu itu tuh, sejadah muka, karena kan banyak orang yang keluar kota, waktu covid itu, jadi banyak yang cari, biar aman juga kan praktis juga, bisa dibawa ke tas,” ujarnya.

Menyortir Kain Perca Jadi Produk Layak Jual

Tumpukan kain yang datang dari berbagai tempat tidak serta merta dapat langsung dijahit. Para pengurus dan perajin harus memilahnya terlebih dahulu. Setiap kain berbeda jenis, tekstur, ketebalan, dan kualitasnya. Kartika menjelaskan bahwa proses memilih bahan menjadi tahapan penting. “Karena kan kita nggak bisa request misalnya, ada yang ngasih, kita nggak bisa request, mereka juga kan, nerima jahitannya macam-macam kain, setelah dikasih beberapa kain, ya kita pilih-pilih,” kata dia.

Dia bilang, setelah kain terkumpul, para ibu biasanya mengelompokkan bahan berdasarkan karakteristiknya agar pengerjaan lebih cepat dan hasil jahitan lebih rapi. Proses ini juga membantu menentukan jenis produk apa yang cocok dibuat dari kain tertentu. “Misalnya dari bahan katun, ada juga bahan yang lainnya, seperti kaus, jadi biar nanti lebih mudah untuk membuat produksinya,” tutur Kartika.

Proses sortir dilakukan hampir setiap kali ada pasokan datang. Kain-kain itu kemudian disusun berdasarkan potensi produknya—kain tebal untuk bantal, kain lembut untuk syal, kain motif kecil untuk pouch atau notebook, dan sebagainya.

Tantangan Baru bagi Para Pengrajin

Namun tak semua produk yang diinginkan pasar tersedia, terlebih teknik atau tingkat kesulitannya masih jadi tantangan bagi para perajin. Hal itu justru menjadi tantangan bagi para perajin untuk terus mengasah kemampuan. “Ada sih, kayak misalnya, seperti notebook ya, terus, ada juga yang pesan untuk tempat tablet. Kan awalnya kita nggak ada, nah kita produksi, belajar,” kata Kartika.

“Jadi pesanan dari customer itu, suatu ini juga, inovasi untuk kita,” imbuh dia. Selain memproduksi barang yang umum dibuat, Kampung Perca juga menerima pesanan khusus. Produk-produk custom ini memerlukan ketelitian lebih, dan terkadang harus dibuat dengan pola yang belum pernah dicoba sebelumnya. Kartika menjelaskan bahwa pesanan seperti ini sering menjadi ruang belajar baru.

“Kalau pesanan khusus gitu sebenernya di sini nggak produksi itu, cuma ada yang request akhirnya produksi,” kata dia. Dia menceritakan bahwa prosesnya tidak selalu mudah. Ada kalanya pelanggan membawa contoh gambar atau desain tertentu yang belum pernah mereka kerjakan. Situasi seperti ini membuat para perajin harus mencari cara baru, menguji pola, atau mencoba beberapa kali sebelum hasilnya pas.

“Kayak kemarin itu kan di Purwakarta, dia ngasih contoh gambar, jadi itu kan suatu saat juga ya, untuk kami, jadi harus belajar lagi,” ujarnya. Nina (55), salah seorang perajin, mengungkapkan, bahwa setiap produk yang dipesan pembeli sering kali memiliki detail atau bentuk yang berbeda, sehingga para ibu harus terus belajar dan menyesuaikan kemampuan mereka. Proses ini membuat ruang kerja di Kampung Perca menjadi tempat belajar yang tidak pernah berhenti.

“Kesulitan pasti ada aja. Tapi kita coba terus, jangan menyerah kalau memang, oh ini kayaknya tantangan, itu harus dibuat tantangan, kadang orang pengennya beda-beda,” katanya. Di tengah berbagai permintaan itu, kata Nina, para perajin juga berusaha menjaga kualitas layanan. Mereka ingin setiap pesanan berjalan sesuai harapan pembeli, meski bahan baku yang tersedia tidak selalu lengkap atau seragam.

Karena seluruh produksi bergantung pada perca yang didonasikan, pilihan motif dan bahan tidak bisa ditentukan. “Kita kan kadang-kadang suka bilang ke orang, maaf ya Bu, kita tergantung ketersediaan perca itu sendiri,” ujarnya. Selain menjahit pesanan, para perajin juga perlu mengedukasi pelanggan tentang karakter perca yang tidak selalu sama. Setiap potongan kain memiliki warna, ketebalan, dan bahan yang berbeda-beda. Kondisi itu membuat tidak semua desain dapat diwujudkan persis seperti contoh. Meski begitu, mereka tetap berupaya memberikan hasil terbaik dan memastikan setiap pembeli tetap merasa dihargai.

“Kami coba untuk edukasi, arahkan bahwa, tidak semua perca di sini itu sama, kita kan namanya bahan bekas, ketersediaan perca itu, untuk juga menghindari ketidakpuasan,” katanya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan