Dari Kampung Seni ke Panggung, Potret Ondel-ondel di Kramat Pulo

Kampung Ondel-ondel: Jejak Tradisi yang Terancam

Di tengah keramaian permukiman padat Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, terdapat sebuah kampung kecil dengan lorong-lorong sempit yang masih menyimpan denyut tradisi Betawi. Kampung ini dikenal sebagai Kampung Ondel-ondel, yang sejak awal 1990-an menjadi pusat para perajin boneka raksasa ikon budaya Betawi.

Namun, seperti banyak tradisi lainnya, Kampung Ondel-ondel kini menghadapi tantangan. Jumlah perajin berkurang, dan pemanfaatan ondel-ondel mulai bergeser. Dulu kampung ini ramai pesanan, tetapi kini lebih banyak mengandalkan pendapatan dari anak-anak pengamen di jalanan.

Untuk mencapai kampung tersebut, bisa melalui Jalan Letjen Suprapto menuju Jalan Kramat Pulo atau lewat Jalan Kembang Sepatu hingga bertemu Jalan Inspeksi dan Jalan Kembang Pacar. Di dalam kampung, kehidupan Betawi terasa kuat. Di kiri dan kanan jalan utama, deretan ondel-ondel besar berdiri, dengan laki-laki berwajah merah dan perempuan berwajah putih serta hiasan kembang kelapa.

Beberapa boneka bersandar pada tembok rumah, sementara yang lain menempel pada tiang kayu dan seng. Warna pakaian ondel-ondel tampak memudar, menunjukkan intensitas penggunaan untuk arak-arakan, hajatan, atau ngamen oleh anak-anak.

Di sepanjang jalan utama, lapak-lapak kecil menjual miniatur ondel-ondel, gantungan kunci, makanan ringan, dan minuman kemasan. Para pedagang duduk di kursi plastik sambil mengawasi pembeli, sementara anak-anak berlarian di antara motor-motor yang parkir rapat.

Di bagian dalam kampung, rumah-rumah berdempetan. Sebagian menggunakan seng sebagai dinding tambahan, sementara yang lain menutup halaman dengan terpal. Di salah satu gang, sepasang ondel-ondel berdiri membelakangi jalan, pakaian lusuh menempel karena ruang penyimpanan yang terbatas.

Miniatur ondel-ondel sekitar 20–25 sentimeter digantung dalam plastik, dijual sebagai suvenir khas. Meski sederhana, miniatur ini menjadi satu-satunya produk baru yang konsisten diproduksi dalam skala kecil.

Di depan gapura merah-putih bertuliskan nomor 202, warga duduk sambil mengawasi anak-anak bermain. Dahulu gapura itu bertuliskan “Kampung Ondel-Ondel”, tetapi kini tulisan tersebut sudah hilang.

Dari Empat Hingga Dua Perajin

Ketua RT 11 RW 04 Kramat Pulo, Endang (62), menyambut aiotrade di rumahnya, rumah kecil yang tak jauh dari deretan ondel-ondel besar di pinggir jalan. Menurut Endang, kampung ini sudah dikenal sebagai Kampung Ondel-ondel sejak tiga dekade lalu. Saat itu, empat perajin utama memproduksi ondel-ondel untuk keperluan acara adat, arak-arakan, dan perayaan Betawi.

Namun, kini hanya dua orang yang benar-benar masih membuat ondel-ondel dari nol. Dari total 148 KK, hanya sebagian kecil saja yang berhubungan dengan produksi ondel-ondel. Sanggar besar yang dikenal sebagai CS Sanggar Betawi dibentuk oleh empat pencetus awal. Kini sanggar itu masih ada, tetapi hanya berjalan jika ada panggilan acara.

Cerita Perajin Ondel-ondel

Di lorong kampung, aiotrade bertemu Firli (44), seorang perajin yang meneruskan usaha ayahnya. Firli bercerita bahwa ia mulai serius meneruskan usaha perajin sekitar 2017, setelah ayahnya meninggal. Kini ia menjadi satu dari sedikit orang yang masih memproduksi ondel-ondel secara manual.

“Saya buat ondel-ondel kalau ada pesanan, kalau enggak ada pesanan ya disewakan ke anak-anak untuk mengamen,” ujar Firli. Menurutnya, banyak anak di kampungnya yang putus sekolah sehingga ikut ngamen ondel-ondel untuk menambah pemasukan keluarga. Tetapi sistem sewanya sangat fleksibel.

Firli menjelaskan bahwa pesanan ondel-ondel saat ini datang dari berbagai tempat, termasuk sekolah-sekolah atau konten kreator. Harga satu set ondel-ondel lengkap sepasang laki-laki dan perempuan berkisar di Rp 3 juta–Rp 3,5 juta, tergantung ukuran. Untuk pesanan khusus dengan tinggi 2,5–3 meter, harganya bisa lebih tinggi.

Antara Pelestarian dan Ketertiban

Fenomena anak-anak mengamen ondel-ondel di jalanan bukan hal yang asing di Jakarta. Namun kegiatan itu berhadapan langsung dengan aturan ketertiban umum. Firli mengaku sering melihat anak-anak ditangkap petugas. “Masuk ring 1 ditangkap. Kalau cuma lewat nggak apa-apa, tapi kalau ngamen ya langsung dibawa ke Dinas Sosial.”

Kasatpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, menegaskan bahwa aturan itu merujuk pada Perda Ketertiban Umum Nomor 8 Tahun 2007, khususnya Pasal 40 huruf a–c, yang melarang seseorang menjadi pengamen maupun memberi uang kepada pengamen.

Pandangan Budayawan

Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, memandang fenomena menurunnya jumlah perajin dan meningkatnya penggunaan ondel-ondel untuk mengamen sebagai pergeseran besar dalam pemahaman masyarakat terhadap simbol budaya Betawi. Ia menilai pemanfaatan ondel-ondel untuk tujuan kreatif seperti membuat kaus, komik, hingga gantungan kunci merupakan hal yang baik selama mengikuti pakem budaya.

Potensi Wisata Budaya

Jika melihat kondisi lapangan, Kampung Ondel-ondel sebenarnya memiliki potensi wisata budaya yang besar. Deretan ondel-ondel besar yang berdiri di setiap tikungan, aktivitas sanggar, hingga jejak sejarah para perajin sejak 1990-an cukup kuat untuk dikembangkan menjadi destinasi edukasi budaya Betawi.

Firli mengatakan ia terbuka jika kampungnya dijadikan kampung wisata. “Sudah sering disampaikan. Kalau enggak boleh ngamen, minimal jadikan kampung ini kampung wisata.” Ia berharap ada pendampingan dari pemerintah, baik dari sektor pariwisata, UMKM, maupun kebudayaan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan