Dari Labubu hingga Mohele, Mainan Jadi Investasi Menggiurkan

Boneka Labubu dan Mohele: Dari Hobi ke Investasi

Boneka Labubu monster berbulu tidak hanya sekadar mainan yang lucu, tetapi juga menjadi objek investasi yang bernilai tinggi. Harga jualnya bisa mencapai 10 hingga 20 kali lipat dari harga ritel aslinya. Meskipun kini semakin jarang ditemui di tas orang-orang, pada masa lalu, boneka ini sering tergantung di tas setiap orang ketiga.

Banyak orang melihat Labubu sebagai pengalih perhatian dari tekanan dunia modern. Namun, bagi sebagian orang, mereka memiliki tujuan lain yang tidak sekadar untuk dimainkan. Mereka menjadi investasi yang menarik. Edisi langka atau terbatas dari Labubu sering dibanderol dengan harga yang jauh lebih mahal daripada harga aslinya.

Produsen Labubu, Pop Mart, menggunakan mekanisme "kotak buta" dan rilis terbatas untuk menciptakan kelangkaan dan antusiasme. Hal ini memicu permintaan yang tinggi dan meningkatkan nilai jualnya. Karena potensi investasinya, banyak Labubu tidak dimainkan seperti boneka biasanya. Sebaliknya, mereka disimpan dalam kotak pajangan transparan dan disegel rapat agar tidak terkontaminasi, yang bisa mengurangi nilai jualnya.

Saya pernah melihat Labubu individual digantung di tas tangan dalam kotak transparan yang dibuat khusus, mirip dengan mayat yang dikubur dalam peti plastik. Seperti banyak gelembung spekulatif lainnya, nilai Labubu telah menurun seiring dengan berkurangnya permintaan dan popularitasnya. Oleh karena itu, saat ini lebih jarang ditemui.

Sejarah Boneka Mohele

Jauh sebelum Labubu muncul, orang Tiongkok sudah memiliki boneka Mohele. Nama Mohele berasal dari Mahoraga, ras makhluk penjaga dalam Buddhisme yang sering digambarkan sebagai figur antropomorfik dengan tubuh reptil dari pinggang ke bawah. Namun, Mohele adalah sesuatu yang kurang menakutkan dan jauh lebih menggemaskan: sebuah patung kecil anak berwajah bulat dan cerah, seringkali memegang daun teratai.

Boneka-boneka ini dibeli dengan antusias, dipajang, dan dimainkan selama Festival Qixi, yang jatuh pada hari ketujuh bulan ketujuh dalam kalender lunisolar Tiongkok. Mohele kemungkinan berasal dari tradisi huasheng, di mana patung bayi dari lilin diapungkan di air sebagai jimat bagi mereka yang ingin memiliki anak laki-laki. Keinginan akan kesuburan memberikan patung-patung tersebut tempat alami selama Qixi, sebuah festival yang merayakan percintaan.

Pada masa Dinasti Song Utara (9601127), boneka Mohele yang sederhana telah menjadi salah satu barang dagangan yang paling dicari. Tulisan-tulisan kontemporer menekankan popularitas Moheles yang luar biasa. Kipas ini dijual di mana-mana, di luar gerbang ibu kota kuno Kaifeng, di kawasan hiburan, dan di pasar-pasar besar. Keluarga rakyat biasa, keluarga elit, dan bahkan penghuni istana kekaisaran digambarkan sebagai penggemar kipas.

Anak-anak sangat menyukai boneka itu. Catatan sejarah menggambarkan anak laki-laki di Kaifeng meniru pose khas boneka itu dengan mengangkat daun teratai segar dalam prosesi Qixi, semacam cosplay massal. Seperti Labubus, harga Moheles mencerminkan kegemarannya. Versi sederhana dari tanah liat saja sudah dianggap tidak murah, sementara yang diukir dari gading atau kayu wangi, mengenakan sutra bersulam, bernaung di bawah kanopi kain kasa merah, dan dihiasi dengan emas dan giok bisa berharga ribuan koin masing-masing.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan