Dari Pecahan Genting ke Insan Unggul: Menghidupkan Pendidikan Raden Dewi Sartika

Semangat Perjuangan Raden Dewi Sartika Dihidupkan Kembali

Pada Jumat, 26 Desember 2025, seminar yang diberi judul “Manifestasi Sumanget Raden Dewi Sartika Ngawangun Insan Unggul” diadakan di Balé Rumawat Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Acara ini juga disiarkan secara daring melalui Zoom. Seminar ini menjadi ruang untuk merefleksikan dan mengaktualisasikan nilai-nilai pendidikan transformatif yang diwariskan oleh Raden Dewi Sartika, terutama dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital dan global.

Para pembicara dalam seminar ini mencakup tokoh akademisi dan budayawan seperti Prof. Dr. Apt. Keri Lestari, M.Si., Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd., serta tokoh perempuan Sunda Ceu Popong. Mereka secara kritis membedah pemikiran, keteladanan, dan relevansi perjuangan Dewi Sartika bagi masa kini.

Dukungan Keluarga dan Keberanian Bertindak

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Apt. Keri Lestari, M.Si. menyoroti aspek pribadi Dewi Sartika yang sering kali tidak mendapat perhatian, yaitu dukungan kuat dari laki-laki di sekitarnya. Menurutnya, keberhasilan Dewi Sartika tidak hanya berasal dari usaha individu, tetapi juga dari ekosistem keluarga yang visioner.

Ayah Dewi Sartika disebut sebagai sosok yang jauh melampaui zamannya. Di tengah kultur yang belum menganggap penting pendidikan bagi perempuan, ia memberi kesempatan bagi putrinya untuk belajar bahasa dan ilmu pengetahuan. Hal ini menjadikan Dewi Sartika berbeda dari kebanyakan perempuan pada masanya.

Setelah menikah, dukungan serupa juga datang dari sang suami, yang memberikan ruang, kepercayaan, serta dukungan moral dan material agar Dewi Sartika dapat berkiprah secara konsisten dalam dunia pendidikan.

“Dewi Sartika adalah sosok yang tidak menunggu keadaan ideal. Ia memulai dari apa yang ada, bahkan dengan peralatan sangat sederhana,” ungkap Prof. Keri.

Ia menceritakan bagaimana Dewi Sartika mengajarkan baca-tulis kepada perempuan dengan menggunakan pecahan genting dan arang, di ruang kecil di belakang dapurnya. Bagi Prof. Keri, hal ini menjadi pesan kuat bahwa dampak sosial tidak harus menunggu kesiapan sempurna.

Pendidikan Praktis yang Kontekstual

Lebih lanjut, Prof. Keri menekankan bahwa pemikiran Dewi Sartika telah melampaui zamannya. Pendidikan yang ia rancang tidak semata-mata berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga pada keterampilan hidup yang relevan.

Perempuan diajarkan membaca dan menulis, sekaligus dibekali keterampilan menjahit, mengelola rumah tangga, serta mendidik anak. Pendekatan ini membuat perempuan menjadi mandiri, berdaya, dan mampu berkontribusi langsung bagi keluarga dan masyarakat.

“Apa yang kini dikenal sebagai project-based learning atau pendidikan kontekstual, sejatinya sudah dipraktikkan Dewi Sartika lebih dari satu abad lalu,” tambahnya.

Kebanggaan Perempuan Sunda

Tokoh perempuan Sunda Ceu Popong mengajak peserta seminar untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah intelektual perempuan Sunda. Ia menegaskan bahwa Dewi Sartika adalah perempuan pertama yang berhasil mendirikan sekolah formal khusus perempuan di Nusantara, yakni Sekolah Keutamaan Istri di Jalan Kautamaan Istri, Bandung.

Ceu Popong juga menempatkan perjuangan Dewi Sartika dalam konteks yang lebih luas dengan menyebut tokoh-tokoh lain seperti R.A. Kartini dan Lasminingrat. Menurutnya, Kartini adalah pahlawan gagasan yang menuangkan cita-cita emansipasi perempuan melalui surat-surat, sementara Lasminingrat telah lebih dulu mempraktikkan pendidikan perempuan secara nonformal.

“Yang berhasil mewujudkan pendidikan perempuan dalam bentuk sekolah formal adalah Dewi Sartika. Itu yang harus kita hargai dan lanjutkan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kebanggaan ini bukan untuk menegasikan tokoh lain, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman kontribusi perempuan dalam sejarah bangsa.

Perempuan sebagai Agen Perubahan

Sementara itu, Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd. menyoroti tantangan pembangunan sumber daya manusia di era modern. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berupa kesenjangan akses, tetapi juga krisis moral, degradasi karakter, dan disrupsi teknologi.

Ia menegaskan bahwa perempuan harus menjadi agen perubahan, baik di ranah keluarga maupun masyarakat. Kepandaian perempuan, menurutnya, akan berdampak langsung pada kualitas generasi berikutnya.

“Perempuan harus melek teknologi, termasuk memahami kecerdasan buatan. Namun teknologi harus dibarengi dengan karakter dan nilai,” jelasnya.

Prof. Nenden juga mengangkat filosofi pendidikan Dewi Sartika yang memberdayakan perempuan agar tetap mandiri dalam berbagai situasi kehidupan, termasuk ketika tidak lagi berada dalam naungan suami. Hal inilah yang menjadikan pemikiran Dewi Sartika relevan hingga saat ini.

Relevansi untuk Indonesia Emas

Para pembicara sepakat bahwa nilai-nilai perjuangan Dewi Sartika sejalan dengan visi Indonesia Emas, khususnya dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berkeadilan gender. Penghargaan dari pemerintah kolonial pada tahun 1939 hingga penetapannya sebagai Pahlawan Nasional menjadi bukti pengakuan atas kontribusi besar Dewi Sartika bagi bangsa.

Seminar ini tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah, tetapi juga seruan untuk bertindak. Peserta diajak meneladani semangat Dewi Sartika dengan berani bergerak, berbuat dengan sumber daya yang ada, serta menempatkan pendidikan sebagai jalan pembebasan dan pemberdayaan.

Sebagaimana dicontohkan Dewi Sartika lebih dari satu abad lalu, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan dan keberanian.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan