Debat BEM UGM dan MPM Tertunda

Peran Student Government dalam Kampus UGM

Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) menantang Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) untuk berdebat terbuka mengenai peran organisasi kemahasiswaan sebagai akibat dari keluarnya BEM UGM dari Keluarga Mahasiswa. Debat tersebut awalnya dijadwalkan pada Sabtu, 13 Desember di Boulevard UGM. Namun, rencana itu dibatalkan karena MPM menolak ajakan BEM. MPM memilih menggunakan jalur penengah melalui Direktorat Kemahasiswaan.

BEM UGM sebelumnya telah bersiap menyebarkan undangan kepada 20 perwakilan BEM fakultas. Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengkritik tindakan MPM dengan menyatakan bahwa menolak debat terbuka adalah kekonyolan sistemik. Menurutnya, negara mahasiswa tidak mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Poster debat terbuka yang dipersiapkan oleh BEM UGM memiliki tema Negara Mahasiswa: Bertahan atau Bubarkan?. Dalam poster tersebut terdapat foto Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan empat perwakilan MPM.

Tiyo menyayangkan penolakan MPM dengan alasan menjaga kondusifitas dan tak mau memperkeruh keadaan. Menurutnya, debat terbuka seharusnya menjadi bagian dari kultur akademik di kampus untuk menguraikan berbagai perbedaan pandangan.

Keluarga Mahasiswa UGM menaungi BEM UGM dan MPM. Sistem ini meniru struktur pemerintahan, di mana BEM menjalankan fungsi eksekutif dan MPM menjalankan fungsi pengawasan atau legislatif.

Keluarga Mahasiswa UGM juga menaungi BEM UGM dan MPM. BEM UGM lahir dari Gerakan Reformasi 1998. Student Government UGM menjadi contoh di kampus lain, di mana mereka menggunakan nama BEM sebagai lembaga eksekutif mahasiswa.

Tiyo mengatakan BEM kini tak relevan karena mengalami kemunduran. Ia menyoroti kurangnya keterlibatan mahasiswa dalam berbagai gerakan mengawal isu-isu publik yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah maupun kebijakan kampus. Ide membubarkan BEM muncul dari refleksi secara nasional karena BEM kerap terkooptasi oleh kekuasaan.

Sekarang, BEM sedang mematangkan konsep organisasi baru yang lebih fokus pada pendidikan dan perjuangan politik mahasiswa serta masyarakat.

Perseteruan antara BEM dan MPM muncul sejak Kongres Istimewa yang melibatkan MPM pada 7 November 2025 secara daring. BEM UGM menyatakan kekecewaan terhadap MPM karena tidak mau mendengarkan masukan tentang transformasi Keluarga Mahasiswa UGM supaya lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Menurut Tiyo, pimpinan sidang forum tersebut tidak membuka ruang dialog. BEM menuntut adanya Kongres Istimewa yang baru secara luring yang menjunjung prinsip demokrasi dan sesuai prosedur, katanya.

MPM menolak debat dan mengunggah alasannya melalui akun Instagram. Dalam unggahannya, mereka menjelaskan bahwa MPM dan BEM telah mengikuti pertemuan yang difasilitasi pihak universitas atau Direktorat Kemahasiswaan UGM. Salah satu komitmen bersama dalam pertemuan itu adalah menjaga kondisifitas dan menunggu pertemuan yang telah dijadwalkan. MPM menghargai dan melaksanakan kesepakatan tersebut secara penuh.

MPM mengajak seluruh pihak menjaga ketenangan ruang publik dan mendukung suasana dialog yang konstruktif. Selain itu, mereka juga mengajak semua pihak menghormati bentuk mediasi yang diinisiasi pihak kemahasiswaan UGM.

MPM menghargai masukan, kritik, dan perbedaan pandangan. Tapi, mereka menawarkan penyelesaian persoalan melalui mekanisme konstitusional sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Keluarga Mahasiswa UGM dan peraturan rektor.

Salah satu pimpinan MPM Devin Ramadhani mengatakan MPM mengupayakan jalur konstitusional melalui Kongres Istimewa dan mediasi resmi melalui bidang kemahasiswaan UGM. Devin beralasan upaya itu sejalan dengan marwah lembaga yang dewasa dan mengikuti alur demokrasi secara institusional.

MPM juga mempertimbangkan proses komunikasi bertahap yang masih berlangsung. Kami menyesalkan tindakan BEM yang tidak mencerminkan sikap kepala dingin, kata Devin dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Devin menuding BEM menjalankan aksi sepihak sehingga muncul berbagai kegaduhan. Dalam berdinamika dan berinteraksi dalam kehidupan demokrasi kampus, BEM menurut dia belum mampu menerima hasil musyawarah dari forum.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan