
Debat Bakal Calon Rektor UIN Walisongo Semarang: Kandidat Berikan Visi dan Strategi untuk Masa Depan Kampus
Kegiatan debat bakal calon rektor UIN Walisongo Semarang yang digelar oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) Semarang menjadi momen penting dalam proses partisipatif pemilihan rektor. Acara ini diadakan di Auditorium 2 Kampus III pada Selasa (2/12/2025), dan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menilai langsung kualitas visi, integritas, dan kapasitas dari enam belas bakal calon rektor yang akan memimpin universitas tersebut pada periode mendatang.
Debat kali ini menghadirkan enam belas kandidat dengan berbagai latar belakang lintas keilmuan. Setiap kandidat diberikan kesempatan selama lima menit untuk menyampaikan gagasan strategis terkait arah pembangunan kampus. Berikut adalah beberapa poin utama yang disampaikan oleh para kandidat:
Prof. Dr. H. Fatah Syukur: Perlu Adaptasi terhadap Revolusi Digital
Prof. Fatah Syukur menyoroti dinamika persaingan PTKIN dengan PTN umum dalam menarik minat mahasiswa dari madrasah dan pesantren. Ia menilai UIN Walisongo perlu melakukan akselerasi transformasi agar mampu bersaing dalam era digital dan globalisasi pendidikan.
“PTKIN ini sangat ketat bersaing, harus adaptif terhadap revolusi digital dan globalisasi pendidikan. Kita perlu peningkatan SDM, sarana prasarana, pengembangan teknologi baru, serta pembukaan prodi-prodi yang relevan dengan kebutuhan masa depan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperluas jejaring kemitraan nasional dan internasional. “Kemitraan yang dibangun para pemimpin terdahulu itu banyak, tapi sebagian belum dikembangkan maksimal. Kita harus membuka peluang seluas-luasnya,” tambahnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa budaya inovasi, kolaborasi, dan keterbukaan informasi harus menjadi karakter kampus. “Tidak ada superman. Yang ada adalah superteam,” tegasnya.
Prof. Dr. H. Abdul Ghofur Be: Menjaga Kekuatan Akademik
Prof. Abdul Ghofur menegaskan komitmennya membangun UIN Walisongo sebagai kampus yang berbasis riset, futuristik, dan kuat pada nilai-nilai Islam. Ia menyampaikan bahwa perguruan tinggi modern harus dibangun dengan landasan akademik yang kokoh.
“Reason itu sekarang menjadi basis dari semua kebijakan. Manakala keputusan diambil tanpa riset, maka akar dan fondasinya tidak kuat. Karena itu sejak semester awal, mahasiswa harus dibiasakan berhadapan dengan tradisi ilmiah,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi informasi, budaya akademik berbasis riset, tata kelola profesional, peningkatan kompetensi SDM, penguatan jejaring kerja sama dalam dan luar negeri, serta pelibatan alumni.
Prof. Dr. Imam Yahya: Fokus pada Akreditasi dan Transformasi Digital
Prof. Imam Yahya membawa gagasan “unggul, inovatif, dan mendunia” sebagai fokus pembangunan kampus. Ia menyoroti pentingnya menjaga akreditasi institusi dan program studi.
“Tahun 2025 ini UIN Walisongo sudah unggul institusinya, dan hampir 60 persen prodinya unggul. Tapi ke depan standar itu naik. Kalau kita mau tetap unggul, minimal 60 persen prodi harus berstatus unggul,” tuturnya.
Ia juga menekankan urgensi transformasi digital dan kesiapan menghadapi era kecerdasan buatan. “Tanpa mengikuti perkembangan AI, kita akan tertinggal. Sistem akademik dari rektorat sampai mahasiswa harus adaptif,” katanya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa UIN Walisongo harus semakin terhubung dengan dunia global. “Semangatnya adalah kampus ini tidak hanya untuk Semarang, tapi juga untuk dunia,” terangnya.
Prof. Dr. H. Mansur: Pengembangan Kampus Berbasis Kesatuan Ilmu Pengetahuan
Prof. Mansur mengusung visi pengembangan kampus berbasis kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan kebudayaan. Ia menawarkan empat fokus utama: penguatan pembelajaran, penelitian dan pengabdian, perluasan kerja sama, serta perbaikan tata kelola.
“Irinya ingin pembelajaran di UIN Walisongo itu berbasis ilmu dan kebugaran. Semua karyawan, dosen, dan mahasiswa harus punya budaya belajar yang sehat, adaptif, dan berlandaskan Pancasila serta UUD 1945,” ujarnya.
Ia menambahkan pentingnya penelitian yang relevan dengan konteks lokal. “Kita ini bangsa Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang hidup di Indonesia. Maka penelitian harus dekat dengan konteks sosial masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan peningkatan sarana prasarana, percepatan kenaikan pangkat dosen, dukungan studi lanjut, penguatan koordinasi internal, serta integritas dalam tata kelola. “Yang kita utamakan adalah kepentingan lembaga, bukan kepentingan pribadi,” tegasnya.
KSMW: Mendorong Partisipasi Mahasiswa dalam Proses Pemilihan Rektor
Debat terbuka yang digagas KSMW ini menjadi salah satu ruang penting dalam proses partisipatif pemilihan rektor. Mahasiswa dapat menilai langsung kualitas gagasan para kandidat sebelum proses seleksi berlanjut ke tahap berikutnya.
Agenda ini diharapkan memperkuat tradisi akademik yang demokratis, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan kampus. Dengan adanya partisipasi aktif mahasiswa, diharapkan proses pemilihan rektor dapat lebih inklusif dan berorientasi pada kepentingan kampus secara keseluruhan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar