
Ringkasan Berita:
- Debit air Bendung Leko Pancing di Desa Pucak, Maros, masih tinggi dengan ketinggian 70 sentimeter di atas mercu dan berstatus waspada.
- Kondisi ini dipicu hujan deras beberapa hari terakhir.
- BMKG menyebut Sulsel masih berada di puncak musim hujan hingga Maret 2026 dan mengimbau langkah antisipasi banjir.
TRIBUNMAROS.COM, MAROS – Debit air Bendung Leko Pancing di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, masih berada di level tinggi dan berstatus waspada, Senin (12/1/2026).
Petugas Operasi Bendung Leko Pancing, M Syamsir, mengatakan ketinggian air saat ini mencapai 70 sentimeter di atas mercu, atau bagian bendung berfungsi mengatur tinggi muka air.
“Normalnya debit air berada di kisaran 0 hingga 50 sentimeter di atas mercu. Jika berada di 50 sampai 100 sentimeter, statusnya waspada,” ujar Syamsir.
Ia menjelaskan, status siaga ditetapkan apabila ketinggian air mencapai 100 hingga 200 sentimeter di atas mercu, sementara status awas diberlakukan jika melebihi 200 sentimeter.
“Saat ini ketinggian air 70 sentimeter di atas mercu, sehingga masih berstatus waspada,” jelasnya.
Syamsir menambahkan, debit air yang melimpas melalui mercu mencapai 130.919 liter per detik.
Sementara itu, debit air yang masuk ke pintu pengambilan atau intake tercatat sebesar 2.679 liter per detik.
“Debit air di intake inilah yang dialirkan ke saluran untuk kebutuhan air baku dan irigasi,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya debit air di Bendung Leko Pancing dipicu oleh intensitas hujan cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Ia memperkirakan debit air masih berpotensi meningkat seiring hujan yang masih terus mengguyur wilayah Maros.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan di Sulawesi Selatan diperkirakan berlangsung hingga Maret 2026.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulsel, Syamsul Bahri, menyebutkan saat ini wilayah Sulsel masih berada pada puncak musim hujan, yang ditandai dengan tingginya akumulasi curah hujan bulanan.
Selain hujan lebat, puncak musim hujan juga disertai potensi angin kencang dan petir dengan intensitas cukup tinggi.
Meski demikian, Syamsul mengatakan intensitas hujan diperkirakan tidak terlalu ekstrem karena tidak ada pengaruh kuat dari fenomena El Nino maupun La Nina.
“Kondisi cuaca saat ini cenderung netral, tidak ada El Nino maupun La Nina yang mendominasi,” katanya saat dikonfirmasi wartawan Tribun Timur, Nurul Hidayah, Minggu (11/1/2026).
Ia menyebutkan, sejumlah wilayah di pesisir barat Sulawesi Selatan telah memasuki puncak musim hujan, seperti Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, dan Barru.
Syamsul pun mengimbau pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan langkah-langkah antisipatif, termasuk pemangkasan pohon rawan tumbang serta pembersihan saluran air.
“Kami mengimbau stakeholder seperti BPBD untuk memangkas pohon-pohon yang berpotensi tumbang karena hujan disertai angin kencang,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan sistem drainase berfungsi dengan baik.
“Musim hujan ini ibarat air yang ‘mudik’ ke daerah kita. Maka selokan harus dibersihkan, drainase dikeruk, dan sungai dinormalisasi agar air tidak meluap dan menyebabkan banjir,” imbuhnya. (*)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar