Desa Rura Julu Taput Hilang dari Media Sosial, Polisi: Itu Hoaks

Desa Rura Julu Taput Hilang dari Media Sosial, Polisi: Itu Hoaks

Desa Rura Julu Tidak Lenyap Akibat Bencana Alam

Desa Rura Julu, yang berada di Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Taput, sempat ramai dibicarakan di media sosial. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa desa tersebut lenyap akibat bencana alam pada November lalu. Namun, informasi tersebut telah disampaikan oleh pihak kepolisian sebagai hoaks.

Kasi Humas Polres Taput, Aiptu Walpon Baringbing, menjelaskan bahwa informasi tersebut menyesatkan. Ia menegaskan bahwa memang terjadi longsor di kawasan tersebut, tetapi tidak menyebabkan desa hilang. Kawasan itu merupakan daerah perladangan bagi masyarakat yang tinggal di Lobu Sikkam.

"Benar ada longsoran, tapi bukan membuat desa tersebut lenyap," ujarnya pada Jumat (12/12/2025).

Pihak kepolisian juga sedang melakukan penyelidikan terkait adanya penebangan kayu di kawasan tersebut. Menurutnya, isu penebangan kayu ini sudah menjadi perhatian sebelum bencana terjadi. Penyelidikan dilakukan dan ternyata lokasi tersebut dinyatakan sebagai APL (Area Penggunaan Lahan) oleh pihak kehutanan.

Ia juga memberikan penjelasan mengenai kondisi desa setelah bencana. Meskipun terjadi longsoran, tidak ada rumah warga yang tertimbun material. Selain itu, jalan utama di kawasan tersebut tertutup material longsoran, tetapi tidak ada indikasi desa lenyap.

"Saat bencana terjadi, material longsoran menutupi badan jalan dan tidak ada rumah warga yang tertimbun material longsor. Maka, bisa dipastikan tidak ada desa yang lenyap di kawasan tersebut," tambahnya.

Narasi dari Akun Media Sosial

Seorang pengguna media sosial bernama Daniel Bona menyampaikan narasi berbeda. Ia menyebutkan bahwa alat berat yang digunakan untuk merambah hutan terjebak di lokasi saat banjir bandang terjadi bulan November lalu. Lokasi tersebut berada di Hullang, Rura Julu, Sipoholon, Tapanuli Utara.

Menurutnya, beberapa alat telah dievakuasi oleh pemiliknya untuk menyembunyikan jejak. Namun, masih ada dua alat lain yang tertinggal di lokasi.

Hutan Hullang ini berada di hulu sungai yang meluap di daerah Barus, Kolang, dan Sorkam Tapanuli Tengah, serta Tapanuli Utara. Menurut Daniel, hutan ini menjadi salah satu sumber bencana yang paling vital di Tapanuli.

Namun, ia menilai bahwa belum ada tindakan apapun yang dilakukan oleh penegak hukum terkait alat-alat berat yang seharusnya menjadi bukti. Malah, alat-alat tersebut justru ditutup-tutupi.

Dua desa yang menjadi lokasi perambahan hutan tempat alat berat terjebak juga mengalami kerusakan parah akibat banjir dan longsoran. Kerusakan infrastruktur jalan dan rumah-rumah penduduk banyak yang hilang karena kayu-kayu balok yang belum sempat diangkut.

Ia berharap hukum menjadi panglima dalam kasus ini.

Penyelidikan Berjalan

Pihak kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan terkait penebangan kayu dan kondisi bencana masih berlangsung. Mereka akan memberikan informasi lebih lanjut setelah proses penyelidikan selesai.

Selain itu, pihak kepolisian juga akan memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut agar dapat memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan