
Cuaca Ekstrem Akibatkan Pesawat Wings Air Batal Mendarat di Bandara Rahadi Oesman
Kondisi cuaca yang ekstrem di wilayah Ketapang pada Kamis 11 Desember 2025 sore menyebabkan pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan IW 1344 gagal mendarat di Bandara Rahadi Oesman. Sebagai langkah keselamatan, pilot memutuskan untuk melakukan return to base (RTB) dan kembali ke Pontianak.
Kepala Kantor UPBU Kelas II Rahadi Oesman, Dwi Muji Raharjo, menjelaskan bahwa jarak pandang yang sangat terbatas menjadi alasan utama pengambilan keputusan tersebut. Ia menegaskan bahwa kondisi hujan deras dan angin kencang tidak kunjung mereda, sehingga membuat pendaratan menjadi sangat berisiko.
"Kondisi cuaca saat itu hujan deras, jarak pandang sangat terbatas. Pesawat kembali ke Pontianak. Setelah mendapat informasi dari BMKG bahwa dalam dua jam kondisi tidak membaik, maskapai memutuskan menunda penerbangan hingga besok pagi," ujar Dwi saat di konfirmasi.
Untuk memberikan peluang lebih besar bagi pesawat mendarat, pihak bandara telah memberikan perpanjangan jam operasional hingga pukul 18.00 WIB. Namun, hujan lebat dan angin kencang tetap mengganggu proses pendaratan.
"Izin extend sudah kami keluarkan sampai pukul 18.00 WIB. Tetapi hujan tidak berhenti dan angin cukup kencang, sehingga pesawat kembali ke Pontianak," tambahnya.
Bandara Rahadi Oesman memiliki fasilitas bantu pendaratan visual sesuai standar pesawat ATR. Namun, jika jarak pandang minimum tidak terpenuhi, pendaratan harus ditunda.
"Kami punya alat bantu visual, tetapi ada batasannya. Kalau pilot tidak bisa melihat runway, tidak bisa dipaksakan mendarat. Itu sangat berbahaya," tegas Dwi.
Menurutnya, kasus pesawat gagal mendarat akibat cuaca ekstrem bukanlah yang pertama terjadi bulan ini. "Desember ini sudah dua sampai tiga kali terjadi kondisi serupa. Polanya sama, cuaca ekstrem dan jarak pandang memburuk," jelasnya.
Dwi juga menekankan bahwa koordinasi antara pihak bandara, maskapai, BMKG, dan tower ATC berjalan baik dalam pengambilan keputusan penundaan penerbangan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan penumpang dan kru pesawat.
Terkait kompensasi bagi penumpang, Dwi menegaskan bahwa aturan sudah jelas. Kompensasi hanya berlaku jika keterlambatan disebabkan oleh pihak maskapai. Faktor cuaca, seperti hujan deras atau angin kencang, tidak termasuk dalam kriteria kompensasi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendaratan Pesawat
-
Jarak Pandang
Jarak pandang yang terbatas adalah salah satu faktor utama yang memengaruhi kemampuan pilot untuk mendarat. Tanpa visibilitas yang cukup, pilot tidak dapat melihat landasan pacu (runway), sehingga risiko kecelakaan meningkat. -
Cuaca Ekstrem
Hujan deras dan angin kencang dapat mengganggu sistem navigasi pesawat serta mengurangi stabilitas pesawat selama penerbangan. Kondisi ini membuat pendaratan menjadi sangat berisiko. -
Fasilitas Bantu Pendaratan
Bandara Rahadi Oesman memiliki fasilitas bantu pendaratan visual, namun fasilitas ini memiliki batasan. Jika jarak pandang tidak memadai, fasilitas tersebut tidak dapat digunakan secara efektif. -
Koordinasi dengan Pihak Terkait
Koordinasi antara pihak bandara, maskapai, BMKG, dan tower ATC sangat penting dalam pengambilan keputusan. Ini membantu memastikan keputusan yang diambil adalah yang paling aman bagi semua pihak.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar