
Isu Kerusakan Alam di Kaki Gunung Ciremai Mengemuka dalam Seminar
Pada akhir pekan lalu, sebuah seminar yang bertajuk “Hablum Minal Alam di Era Krisis Iklim” digelar di Universitas Islam Al Ihya (Unisa) Kuningan. Acara ini dihadiri oleh sejumlah mahasiswa, akademisi, serta aktivis lingkungan dari wilayah Ciayumajakuning. Topik utama yang dibahas adalah upaya pelestarian hutan dan lingkungan di kawasan kaki Gunung Ciremai.
Ancaman Kerusakan Alam yang Terlihat Langsung
Salah satu peserta seminar, M Hilmi dari Unisa Kuningan, menyampaikan hasil pemantauannya terkait aktivitas di lahan milik pribadi yang berada di kawasan penyangga hutan Ciremai. Ia menemukan adanya kegiatan pengerukan tanah dan penebangan pohon besar. Menurutnya, bukan hanya pohon kaliandra yang ditebang, tetapi juga beberapa jenis pohon lainnya.
Hilmi mempertanyakan apakah penanaman kembali dengan jenis tanaman berbeda dapat dikategorikan sebagai reboisasi. Pertanyaan ini menggambarkan kekhawatiran terhadap cara-cara yang digunakan untuk memulihkan lingkungan. Ia menilai bahwa langkah-langkah seperti ini perlu dipertimbangkan secara lebih matang agar tidak justru merusak ekosistem yang sudah ada.
Peran Akademisi dalam Pelestarian Lingkungan
Dalam kesempatan yang sama, Pandu Hamzah, seorang akademisi dari Kuningan, memberikan pandangan tentang pentingnya partisipasi aktif dari kalangan mahasiswa dalam menjaga lingkungan. Ia menekankan bahwa pengawasan harus dilakukan dengan berbagai cara, termasuk menyuarakan aspirasi di ruang publik, media, maupun melalui dialog langsung.
Menurut Pandu, eksploitasi alam yang merusak keseimbangan ekosistem bisa dilakukan oleh siapa saja, baik individu, pihak swasta, maupun pemerintah. Ia juga menyoroti bahwa kesalehan individu tidak selalu sejalan dengan kepedulian terhadap lingkungan, terutama dalam praktik bisnis. Ada kalanya seseorang terlihat peduli pada alam secara pribadi, namun saat berperan sebagai pengusaha justru memandang alam semata sebagai sumber keuntungan tanpa mempertimbangkan dampak ekologis.
Tanggapan Aktivis Lingkungan
Andini Rahmawati, seorang aktivis lingkungan dan pencinta alam dari Kuningan, memberikan tanggapan terkait fenomena pemulihan lahan yang justru diawali dengan perusakan. Ia menegaskan bahwa reboisasi memang merupakan langkah positif, tetapi pelaksanaannya tidak boleh dilakukan secara serampangan.
Menurut Andini, jika reboisasi dijadikan alasan untuk membuka lahan yang sebelumnya sudah hijau dan asri, terlebih di kawasan sensitif, maka hal tersebut patut dipertanyakan. Ia menilai bahwa langkah-langkah seperti ini perlu dipertimbangkan dengan hati-hati agar tidak merusak lingkungan yang sudah ada.
Kesimpulan
Seminar ini menjadi wadah penting bagi para pihak untuk saling berbagi informasi dan perspektif terkait isu lingkungan di kaki Gunung Ciremai. Dari berbagai sudut pandang yang disampaikan, terlihat bahwa perlindungan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi juga masyarakat luas, termasuk kalangan akademisi dan aktivis.
Kepedulian terhadap lingkungan harus terus ditingkatkan, terutama di kawasan yang memiliki nilai ekologis tinggi seperti kaki Gunung Ciremai. Dengan kolaborasi antara berbagai pihak, diharapkan dapat ditemukan solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar