Dewi Astutik, Bandar Narkoba 2 Ton dari Balong Ponorogo yang Ditangkap

Gembong Narkoba Dewi Astutik, Otak Penyelundupan 2 Ton Sabu

Dewi Astutik adalah sosok yang kini menjadi perhatian utama dalam dunia perang melawan narkoba. Seorang gembong narkoba asal Kecamatan Balong, Ponorogo, ia juga menjadi buronan Interpol terkait kasus penyelundupan sabu seberat 2 ton yang ditangkap di Kamboja. Selain itu, ia juga dikenal sebagai otak dari penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun dari KM Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau, pada 20 Mei 2025.

Nama asli Dewi Astutik adalah Paryantin. Ia memiliki beberapa nama samaran seperti Kak Jinda dan Dinda. Meski namanya sering muncul dalam berita, ternyata identitas aslinya tidak sepenuhnya diketahui oleh masyarakat luas. Bahkan, warga setempat mengenalnya dengan inisial PA, bukan Dewi Astutik.

Penangkapan di Kamboja

Setelah satu tahun buron, Dewi Astutik akhirnya ditangkap di Sihanoukville, Kamboja, pada Senin (1/12/2025). Penangkapan ini dilakukan melalui operasi lintas negara yang dipimpin oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan. Ia ditangkap saat hendak menuju lobi sebuah hotel di Sihanoukville. Setelah ditangkap, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antarotoritas.

Di Indonesia, ia akan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap alur pendanaan, logistik, serta pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan narkotika yang ia kelola. Jaringan ini aktif mendistribusikan berbagai jenis narkotika, termasuk kokain, sabu, dan ketamin, ke wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara.

Peran Sentral dalam Jaringan Golden Triangle

Berdasarkan penyelidikan BNN, Dewi Astutik memiliki peran penting dalam jaringan Golden Triangle. Ia diduga menjadi pemimpin lapangan sekaligus perekrut kurir, dengan sebagian besar kurir berasal dari Indonesia. Perannya terkuak setelah aparat mengamankan dua ton sabu dari kapal MT Sea Dragon Tarawa di perairan Kepulauan Riau pada 22 Mei 2025.

Empat awak kapal berstatus WNI diketahui memiliki keterkaitan langsung dengannya. Berdasarkan temuan BNN, tiket perjalanan para kurir dipesan oleh pihak yang berhubungan dengan Dewi Astutik. Fakta ini menguatkan posisinya sebagai pengendali jaringan.

Kendalikan Ratusan Kurir WNI

BNN menyatakan bahwa Dewi Astutik diduga telah mengendalikan ratusan kurir narkoba, mayoritas warga negara Indonesia. Lebih dari 110 WNI yang ditangkap di berbagai negara mengaku berada dalam jaringan yang dikendalikan oleh Dewi Astutik. Penangkapan para kurir tersebut terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Asia hingga Amerika Latin dan Afrika, mengindikasikan luasnya jangkauan operasi jaringan yang dipimpinnya.

Terhubung dengan Sindikat Afrika

Selain berperan di Golden Triangle, Dewi Astutik juga disebut terhubung dengan sindikat narkoba Afrika yang beroperasi di Thailand dan kawasan Semenanjung Malaya. Meski diyakini BNN bukan sebagai pimpinan tertinggi, Dewi Astutik dinilai memiliki posisi strategis dalam struktur organisasi jaringan tersebut. Koneksi lintas benua itu membuat Dewi Astutik masuk radar otoritas internasional, termasuk sempat menjadi buronan Korea Selatan.

Kehidupan Sebelum Jadi Gembong Narkoba

Sejak lama, Dewi Astutik diketahui bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI). Ia pernah bekerja di Hongkong, Taiwan, dan terakhir kali di Kamboja. Diduga, ia menggunakan identitas palsu milik anggota keluarganya. Warga sekitar mengenalnya dengan nama asli PA, bukan Dewi Astutik. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, yang menyatakan bahwa nama Dewi Astutik tidak ada di lingkungannya.

Menurut Gunawan, jika sesuai KTP maupun paspor warga mengenal namanya berinisial PA. Diakui Gunawan, PA memang bekerja di luar negeri. “Memang kerja di luar negeri dan sudah lama berangkatnya. Pernah bekerja di Hongkong dan Taiwan, dan terakhir ini katanya bekerja di Kamboja,” urainya. Salah satu warga, Sri Wahyuni, juga mengatakan hal yang sama. Kata dia tidak ada nama Dewi Astutik di lingkungannya. “Lihat di media sosial memang seperti warga sini. Tetapi namanya bukan Dewi Astutik melainkan PA,” pungkasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan