Kehidupan Seorang Polisi yang Menjadi Dukun Ular
Di kota Pati, Jawa Tengah, ada seorang polisi yang memiliki keahlian luar biasa. Aiptu Pudiyanto, anggota Polsek Jakenan, dikenal sebagai "dukun ular" karena kemampuannya dalam mengobati korban gigitan ular. Keahlian ini dia warisi dari ayahnya sejak masih remaja dan telah menjadi bagian dari hidupnya selama hampir 30 tahun.
Pada tahun 1996, terjadi peristiwa yang membuat nama Cipud semakin dikenal. Saat itu, seorang warga Desa Mantingan Tengah digigit ular dan dibawa ke Polsek Jakenan. Masyarakat yang mendengar kabar tersebut langsung ramai-ramai datang ke kantor polisi. Namun, ketegangan pun lenyap begitu mereka mengetahui bahwa di dalam Polsek Jakenan ada "dukun ular".
Metode Pengobatan Tradisional
Aiptu Pudiyanto menggunakan metode pengobatan tradisional untuk menyembuhkan korban gigitan ular. Alat yang dibutuhkannya cukup sederhana: air hangat, sebilah silet kecil, dan bunga tiga rupa (kembang telon) sebagai wewangian. Pertama-tama, dia akan membersihkan bekas gigitan dengan air hangat. Lalu, dia menyayat sedikit bekas gigitan dan menyedot racun dari aliran darah korban. Setelah itu, bunga tiga rupa direndam dalam air bersih dan diminum oleh pasien setelah dilakukan doa.

Banyak Pasien yang Terbantu
Metode pengobatan tradisional ini telah membantu banyak orang. Salah satu contohnya adalah Sutopo (67), warga Desa Dukuhmulyo. Saat itu, dia digigit ular hijau ekor merah saat membabat rumput liar di halaman belakang rumah. Setelah dibawa ke Puskesmas, petugas menyarankannya untuk datang ke Polsek Jakenan. Di sana, tangannya langsung dibelek dan racunnya disedot oleh Cipud. Hanya dalam waktu setengah jam, rasa sakit yang sempat meremukkan tubuhnya berangsur sirna.
Tanpa Pamrih
Cipud tidak pernah mematok tarif untuk jasa pengobatannya. Dia mengatakan bahwa niatnya harus tulus dan ikhlas. Bahkan, bagi pasien yang kurang mampu, dia sering memberikan ongkos ngojek. Tak jarang, pasien yang berhasil disembuhkannya datang bersilaturahim ke rumahnya. Ada juga yang pernah menunaikan nazar untuk menginap di rumahnya karena berhasil sembuh dari gigitan ular kobra.
Kehidupan Sebagai Petani
Banyak pasien Cipud berasal dari kalangan petani. Gigitan ular sering terjadi saat mereka bekerja di sawah. Musim penghujan menjadi masa waspada karena ular keluar dari sarangnya. Cipud mengatakan bahwa setiap awal Desember saja, sudah ada enam orang yang datang berobat. Selama setahun bisa mencapai 50-60 orang.
Warisan Keluarga
Keahlian Cipud diwariskan dari ayahnya sejak usia 17 tahun. Demi menjaga kelanggengan manfaat bagi sesama, dia telah mewariskan ilmunya kepada putranya. Putra ketiganya, yang baru berusia 17 tahun, telah menerima ilmu tersebut. Cipud juga menyampaikan amanah keluarga: tidak boleh pamrih, harus tulus ikhlas.
Dedikasi dan Motivasi
Meski telah memastikan regenerasi, Cipud berkomitmen untuk terus membantu orang-orang yang membutuhkan. Dia mengatakan bahwa motivasinya adalah pahala sebanyak-banyaknya. Mudah-mudahan bisa menebus dosa-dosanya dan membawa kebaikan untuk dirinya, keluarganya, dan institusi Polri.
Apresiasi dari Atasan
Kapolsek Jakenan, AKP Agus Arifin, sangat mengapresiasi kemampuan Cipud. Menurutnya, 29 tahun lebih masa pengabdian di Polsek Jakenan membuat Cipud sangat dekat dan dicintai masyarakat. Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, juga menyampaikan penghargaan atas kontribusi Cipud dalam memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar