Di tengah kemajuan, servis termos air tetap diminati warga Majalengka

Kehidupan Seorang Pemulihan Termos di Kabupaten Majalengka

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan masyarakat, layanan servis termos masih tetap diminati oleh banyak orang, terutama di wilayah Kabupaten Majalengka. Salah satu yang menjalani pekerjaan ini adalah Udin (53), seorang warga asal Desa Rajagaluh, Kecamatan Rajagaluh. Baginya, servis termos bukan hanya sekadar pekerjaan, tapi juga menjadi sumber penghidupan utama yang bisa menopang keluarganya.

Udin setiap hari berjalan kaki sejauh kurang lebih 25 kilometer, menyusuri jalan dan gang di desa-desa di Kabupaten Majalengka dan Sumedang. Ia membawa beberapa termos bekas berbagai jenis untuk menawarkan jasa servis yang ia kuasai. Dengan begitu seringnya mengunjungi pelanggan di tiap desa, Udin cukup akrab dengan setiap orang karena kebiasaan yang ia lakukan setiap hari.

“Setiap hari saya berjalan kaki dari kampung ke kampung, kuat keneh leumpang sakitu mah, dan mun teu leumpang ke langganan kaliwat,” ujar Udin. Dari jasa servis termos tersebut, Udin bisa memberi belanja untuk istrinya serta menyekolahkan anak-anaknya hingga tamat SMA. Anak bungsunya kini masih duduk di bangku kelas III SD.

Dalam sehari, Udin memperoleh pendapatan kotor sebesar Rp 150.000 hingga Rp 200.000. Pendapatan bersihnya sekitar Rp 100.000, dan dia juga menjual termos bekas sebagai tambahan penghasilan. Termos bekas yang telah diservis dijual dengan harga Rp 30.000 untuk termos biasa, dan Rp 40.000 untuk termos pompa. Udin harus mengganti kaca dalam atau luarnya serta upah mencuci karena kebanyakan termos dari warga sudah kusam.

Udin biasa membeli termos rusak dari warga dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 7.000. Kerusakan umumnya terjadi pada kaca dalam atau casing luarnya yang pegangannya putus. “Kaca dalam ada jualannya, saya disuplai dari orang lain,” kata Udin. Dia juga memberi garansi jika termos bekas yang dibeli darinya ternyata panas airnya hanya bertahan beberapa jam saja.

Keahlian servis termos Udin diperoleh dari mertuanya sejak tahun 2000. Setelah mertuanya meninggal, dia langsung melanjutkan usahanya. Ia berusaha berkeliling ke desa-desa menemui mereka yang telah menjadi pelanggannya.

Saat berkeliling, Udin hanya sesekali meneriakan “termos – termos” atau “bu bade servis termos”. Setelah itu, dia duduk di tempat yang biasa dilakukannya, seperti depan warung atau di bawah pohon yang berada di Kawasan pemukiman warga. Jika ada yang butuh bantuannya, maka warga langsung datang melakukan konsultasi kesulitan dan negosiasi harga. Adu tawar pun terjadi hingga dicapai kesepakatan harga.

Tak jarang, Udin mendapatkan termos kecil yang biasa digunakan bepergian dengan mudah. Barang tersebut dia jual setelah diperbaiki. “Nu kieu mah paling klepna, kamari mah aya 5 tos pajeng sapalih diical salawean,” ungkapnya.

Salah satu pelanggannya adalah Halimah, pemilik warung di Kelurahan Majalengka Wetan. Dia sering melakukan servis karena termos airnya pecah akibat terjatuh. Karena telah menjadi pelanggannya, jasa servis pun diberikan lebih murah dibanding ke konsumen lainnya. “Sering mamang ini mah ke sini, biasa mangkal disini, kalaua da barang yang lebih bagus bisa dipesen,” katanya sambil memesan termos air besar yang ditekan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan