Dia datang tidak diundang

Dia datang tanpa janji, tanpa pesan singkat, tanpa salam pembuka. Seperti banyak peristiwa penting dalam hidup---cinta, kehilangan, dan tagihan listrik---ia muncul begitu saja. Pagi itu, suasana rumah sebenarnya biasa saja. Sampai terdengar teriakan kecil, lirih tapi memaksa, dari jalan depan rumah. Suara yang tidak cukup keras untuk disebut ribut, tapi terlalu pilu untuk diabaikan.

Saya membuka pintu. Sebuah sedan biru melintas perlahan, seolah tidak tahu bahwa beberapa detik sebelumnya ia telah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar barang. Di tepi jalan, seekor anak kucing berdiri kikuk. Tubuhnya kecil, matanya besar, dan suaranya---Tuhan---suara itu seperti bertanya, "Ini dunia siapa? Dan saya harus ke mana?"

Begitu mata kami bertemu, ia langsung berjalan tertatih ke arah saya. Tidak ragu. Tidak malu. Tidak pakai basa-basi. Ia mendekat dan minta dibelai, seolah kami sudah lama saling kenal. Mungkin dalam dunia kucing, saya terlihat seperti jawaban dari doa singkatnya: pintu terbuka, tangan hangat, dan wajah yang---mudah-mudahan---tidak terlalu galak.

Ini bukan pertama kalinya kejadian seperti ini. Entah kenapa, rumah kami seperti alamat rahasia untuk kucing-kucing yang "tidak diinginkan". Mereka datang tanpa undangan, tanpa kartu ucapan, tapi selalu membawa cerita yang sama: ditinggalkan. Saya sering bertanya-tanya, apa yang ada di benak manusia yang dengan enteng meletakkan makhluk hidup di pinggir jalan, lalu melaju pergi seperti baru saja membuang bungkus permen.

Walau "hanya" seekor kucing, rasanya tetap memelas melihat mata kecil itu. Tatapan takut, bingung, dan penuh tanda tanya. Dunia yang ia kenal barangkali baru sebatas perut hangat induknya, sudut sempit yang aman, dan suara manusia yang---mungkin dulu---pernah ramah. Lalu tiba-tiba semuanya berubah. Jalan aspal, kendaraan, bau asing, dan rasa sepi yang terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.

Syukurlah, dunia kita hari ini tidak sepenuhnya gelap. Ada banyak pencinta binatang yang menyediakan shelter, membuka rumah dan hati untuk kucing dan anjing yang dicap "liar". Hukum pun perlahan berpihak; menyiksa binatang bukan lagi hal yang bisa dianggap sepele. Ada pasal, ada laporan polisi, ada kesadaran yang tumbuh---meski kadang tertatih.

Namun satu hal masih sering terjadi: membuang. Anak kucing yang terlalu banyak, anjing yang sudah tua, atau hewan yang tak lagi lucu untuk dipamerkan. Mereka dilepas begitu saja, seolah naluri bertahan hidup akan otomatis aktif seperti aplikasi bawaan. Padahal, kalau mereka bisa bercerita, mungkin kita tidak akan sanggup mendengarnya sampai selesai. Cerita tentang rumah yang tiba-tiba hilang. Tentang tangan yang dulu mengelus, lalu melepaskan.

Karena masih kecil, saya beri ia nama Ucrit. Nama sementara, tentu saja. Nama yang lahir dari spontanitas dan rasa gemas. Mungkin nanti akan ada nama yang lebih cantik, lebih anggun, atau lebih sesuai dengan karakternya. Tapi untuk sekarang, Ucrit cukup. Pendek, ringan, dan terdengar seperti panggilan yang tidak menakutkan.

Saya mencoba memberinya makanan kucing kering yang ada di rumah. Ia mencium, lalu mundur pelan. Bukan menolak, lebih seperti bingung. Mungkin ia belum terbiasa. Mungkin hidupnya sejauh ini belum mengenal butiran-butiran keras itu. Akhirnya saya belikan makanan basah. Begitu dibuka, Ucrit langsung makan dengan lahap, seolah berkata, "Oh, jadi beginilah rasanya aman."

Ada perasaan aneh saat melihatnya makan. Campuran haru, lega, dan sedikit geli. Betapa sesuatu yang sederhana---semangkuk makanan dan tempat berteduh---bisa berarti segalanya bagi makhluk lain. Di saat manusia sering bingung mencari makna hidup, Ucrit sudah menemukannya: kenyang, hangat, dan tidak sendirian.

Hari itu, data anggota keluarga kami resmi bertambah. Tidak ada rapat keluarga. Tidak ada voting. Tidak ada protes. Semua berjalan alami, seperti seharusnya. Ucrit datang tidak diundang, tapi diterima sepenuh hati. Ia tidak membawa apa-apa selain dirinya sendiri, dan ternyata itu sudah lebih dari cukup.

Selamat datang, Ucrit.

Semoga dunia tidak lagi terasa terlalu besar untuk langkah kakimu yang kecil.

Dan semoga manusia, suatu hari nanti, belajar setia---setidaknya pada makhluk yang pernah mereka peluk.***MG

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan