Diah, Warga Mempawah, Kehilangan Rumah Akibat Banjir Rob Setelah 9 Tahun Tinggal

Kehidupan di Pinggir Pantai yang Terus Berubah

Di Desa Penibung, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Diah Agus Rini tinggal selama hampir sembilan tahun di rumah sederhana. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika banjir rob menerjang untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir. Peristiwa ini mengejutkan warga setempat, karena biasanya air hanya menggenangi halaman rumah, bukan masuk ke dalam bangunan.

Diah mengingat bagaimana air mulai naik sejak Senin (8/12/2025) dini hari. Awalnya, air hanya menggenangi halaman, tetapi perlahan-lahan merambat masuk ke kolong rumah dan akhirnya menyentuh papan lantai ruang tamu. “Dari awal tinggal di sini tahun 2016, baru kali ini air naik sampai masuk rumah. Biasanya cuma sampai halaman saja,” katanya saat ditemui di kediamannya.

Ia masih memindahkan beberapa barang ke tempat yang lebih tinggi agar tidak rusak. Menurutnya, banjir datang bersamaan dengan angin kencang dan gelombang laut yang tidak biasa. Lokasi Desa Penibung yang berada dekat pesisir membuat warga sangat bergantung pada kondisi pasang surut. Namun, intensitas pasang dalam beberapa hari ini dirasakan jauh berbeda dari biasanya.

“Air naiknya cepat sekali. Subuh masih aman, tapi sekitar setengah jam kemudian sudah setinggi mata kaki. Kami semua panik karena ini pertama kali terjadi,” ungkap Diah. Meskipun ia tidak mengalami kerugian besar, beberapa peralatan rumah tangga terpaksa diselamatkan dengan terburu-buru.

Ia juga mengkhawatirkan kesehatan kedua anaknya yang masih sekolah dasar, terutama jika banjir rob kembali terjadi dalam beberapa hari ke depan. “Yang paling saya takutkan itu anak-anak. Kalau air sering naik begini, mereka susah keluar pergi sekolah, belum lagi kotor dan bisa bawa penyakit,” tambahnya.

Diah menyebutkan bahwa dalam sepekan terakhir, gelombang pasang memang meningkat seiring dengan cuaca ekstrem yang melanda pesisir Mempawah. Beberapa rumah yang berada lebih rendah dari kediaman Diah bahkan lebih dulu terendam. Meski begitu, Diah berharap kondisi ini hanya berlangsung sementara. “Semoga cepat surut dan tidak terulang. Baru tahun ini kami merasakan betul-betul banjir rob sampai masuk rumah,” ujar Diah.

Tindakan Pemerintah dan Warga Setempat

Pemerintah desa telah meminta warga untuk tetap waspada, sambil melakukan pendataan dan memonitor kondisi pasang harian. Sementara itu, masyarakat di Penibung mulai menyiapkan langkah darurat, seperti meninggikan barang berharga dan menjaga akses keluar rumah tetap aman.

Pontianak siaga 1
Sebagai informasi, Pemerintah Kota Pontianak telah menetapkan status Siaga 1 banjir rob setelah air pasang kembali merendam kawasan pesisir di sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kenaikan air dipicu oleh angin laut kencang yang menahan aliran sungai. Beberapa titik terdampak, termasuk kawasan Yuka dan gang-gang di Sungai Jawi Dalam, dengan genangan mencapai 60–80 sentimeter.

Pemkot mengaktifkan posko bencana, menyiagakan petugas, dan mempersiapkan evakuasi bila diperlukan. Wali Kota Edi Rusdi Kamtono mengimbau warga untuk tetap waspada karena puncak pasang diperkirakan akan terjadi esok hari.

Di Kabupaten Kubu Raya, empat desa di Kecamatan Teluk Pakedai—Sungai Nibung, Kuala Karang, Selat Remis, dan Sungai Nipah—juga terendam banjir rob setinggi 20–70 sentimeter akibat pasang laut, hujan, dan dampak badai siklon. Akses jalan sempat putus, beberapa bangunan termasuk SDN 12 Kuala Karang mengalami kerusakan, namun warga belum mengungsi.

Aparat kepolisian dan Bhabinkamtibmas dikerahkan untuk memantau kondisi dan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kenaikan air.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan