Dialektika Diri dan Kerusakan Alam

Dialektika Diri dan Kerusakan Alam

Pemikiran tentang Mitos dan Kesadaran Lingkungan

Saya merenung sejenak, mencoba mengingat kembali bagaimana dunia bisa berubah begitu cepat, sebelum teknologi menjangkau segala penjuru alam. Dulu, masyarakat desa memiliki cara sederhana namun sangat matang untuk menjaga lingkungan. Mereka membuat cerita tentang penunggu hutan (mawang), keangkeran sungai (antu buyut), atau kekeramatan bukit (anje-anje). Cerita itu terdengar aneh, tetapi bisa membuat orang berhenti untuk menebang pohon, hingga menahan diri agar tidak merusak sungai. Jika dipikirkan, sangat sederhana namun penuh makna.

Saya pernah menganggap cerita-cerita ini hanya sekadar dongeng untuk pengantar tidur. Namun setelah memahami lebih dalam, saya menyadari bahwa cerita-cerita tersebut dapat berfungsi sebagai pagar batin manusia itu sendiri, guna melindungi lingkungan dari keserakahan manusia lainnya.

Saat ini, seiring perkembangan manusia yang merasa lebih pintar, kepercayaan terhadap mitos perlahan tergerus. Kita menganggap diri kita sudah terlalu modern untuk percaya pada cerita-cerita yang tidak bisa dibuktikan. Kita sering menganggapnya takhayul. Kita sudah sekolah tinggi-tinggi, bahkan sudah membaca buku sains. Dan kita tidak percaya hantu lagi. Lalu, dengan kepintaran kita, kita mulai menghitung nilai kayu, nilai tambang, dan nilai lahan di pinggir sungai. Segalanya berubah jadi angka, dan angka itu kita usahakan untuk dikuras habis. Hingga terjadilah pembabatan hutan dengan alasan ekonomi, mengekang aliran sungai demi pembangunan, melubangi bukit demi hasil tambang.

Saya bertanya pada diri sendiri, benarkah yang merusak itu kepintaran? Atau ego dan keserakahan kita sendiri yang mengatasnamakan kepintaran?

Makin dewasa, saya mulai sadar akan sesuatu yang dulunya sempat luput. Mitos sebenarnya bukan hanya tentang kebohongan. Hal itu adalah sistem pengetahuan yang sengaja disamarkan dengan indah, agar mudah diterima oleh masyarakat. Seperti sebuah bentuk teknologi sosial yang dibalut dengan rasa hormat, rasa takut, dan rasa kagum. Ketika bukit dianggap angker, masyarakat tidak akan berani merusaknya. Ketika sungai juga diyakini dijaga oleh makhluk halus, mereka juga akan menjaga kebersihannya. Tidak ada kata “konservasi”, tidak ada “mitigasi bencana”, dan alam akan tetap terawat. Tidak ada banjir besar atau banjir bandang, tidak ada longsor, sebab manusia akan menjaga jaraknya dari hal-hal yang seharusnya tidak boleh diganggu.

Atas dasar itu, saya mulai bertanya lebih dalam kepada diri sendiri. Apa benar mitos punya pengaruh sebesar itu? Jika benar, kenapa kita melepasnya begitu saja? Apakah kita memang tidak membutuhkan pengingat tentang batas yang tak seharusnya dilewati?

Modern ini, ilmu pengetahuan membuktikan bahwa apa yang dulu dijaga oleh mitos, ternyata memang benar memiliki nilai ekologis penting. Hutan yang “angker” itu ternyata kawasan resapan air. Sungai yang “keramat” rupanya jalur kehidupan bagi ekosistem. Bukit yang ada “penunggu” sebenarnya adalah penahan alami agar tanah tidak bergerak bebas.

Akan tetapi, manusia kini tidak lagi mendengar pantangan-pantangan lama itu. Dan akhirnya ketika banjir datang, ketika longsor merenggut banyak nyawa, kita baru memahaminya, bahwa ada sesuatu yang hilang dari kesadaran kita. Bukan karena mitosnya yang hilang, tetapi rasa hormat pada alam.

Jika kita cermati, sebenarnya bukanlah kepintaran, kecerdasan, atau pendidikan yang mengkhianati alam, tetapi hal itulah yang akan menyatukan kita kembali dengannya.

Kita perlu membangun rasa takut yang baru, bukan hanya kepada Tuhan sang pemilik alam semesta, bukan pada mitos, tetapi pada masa depan yang gersang untuk anak cucu kita nanti. Dan kita juga perlu membangun kesakralan yang baru, bukan pada tempat keramat, tetapi pada prinsip kita sendiri. Bumi ini bukanlah warisan dari nenek moyang, melainkan pinjaman untuk generasi kita yang akan datang.

Pada akhirnya, akan tiba suatu pemikiran yang sederhana. Alam tidak meminta manusia untuk percaya pada penunggunya, alam hanya meminta manusia untuk tahu batas. Entah melalui mitos atau melalui ilmu pengetahuan. Sebagaimana mitos mengajarkan kita agar takut dan hormat. Ilmu pengetahuan (sains) mengajarkan kita tentang bagaimana dan mengapa. Tugas kita sekarang adalah menyatukan keduanya sebelum semuanya terlambat. Sebab menjaga alam merupakan tindakan rasional yang paling beradab untuk dilakukan oleh manusia yang menyebut dirinya “pintar”.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan