Diduga Ada Kecurangan Penyebab Harga Ayam dan Telur Melonjak di Palembang

Diduga Ada Kecurangan Penyebab Harga Ayam dan Telur Melonjak di Palembang

Kenaikan Harga Ayam dan Telur di Pasar Dinilai Tidak Wajar

Ketua Asosiasi Perunggasan Sumsel menyatakan bahwa kenaikan harga ayam dan telur di pasar tidak masuk akal. Ia menilai bahwa suplai dari peternak cukup dan harga yang diberikan oleh peternak masih stabil. Seharusnya, harga di pasar tidak terlalu jauh berbeda dengan harga dari kandang.

Ia menduga ada permainan yang menyebabkan harga ayam dan telur melonjak. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan dan harga komoditas tersebut di wilayah Sumatera Selatan.

Kondisi Pasokan Ayam dan Telur di Sumatera Selatan

Asosiasi Peternak Unggas Sumatera Selatan menyebut bahwa pasokan ayam dan telur di wilayah Sumatera Selatan dalam kondisi aman dan suplai terjaga. Namun, harga yang terjadi di pasar dinilai melonjak secara tidak wajar.

Menurut Ismaidi, Ketua Asosiasi Perunggasan Sumsel, produksi telur di Sumatera Selatan saat ini mencapai sekitar 350 ton per hari. Sementara itu, kebutuhan konsumsi masyarakat hanya sekitar 150 ton per hari, sementara sisanya sebesar 200 ton per hari dikirim ke Pulau Jawa serta Bangka Belitung.

Untuk komoditas ayam pedaging, produksi harian di Sumatera Selatan mencapai sekitar 350 ribu ekor dengan rincian 170 ribu ekor untuk konsumsi Palembang dan sekitarnya seperti Ogan Ilir.

Dugaan Ada Permainan di Pasaran

Ismaidi mempertanyakan lonjakan harga ayam dan telur di pasaran yang dinilai tidak wajar. Ia menduga ada permainan dari pedagang atau broker ayam yang memengaruhi harga.

Biasanya, harga akan melonjak setelah sampai pada tangan kedua dan ketiga. Namun, saat ini harga dari pasar dianggap aman dan suplai juga cukup.

"Seharusnya harga ayam di pasar itu Rp 32-33 ribu per kg itu paling tinggi dan telur ayam 30-31 ribu sampai ke konsumen. Tapi kalau ada harga yang lebih tinggi dari itu, fix itu ada permainan pedagang," katanya, Sabtu (3/1/2026).

Pengaruh Program MBG dan Liburan Nataru

Ismaidi menyebut dengan kondisi suplai aman dan saat ini program MBG sekolah sebagian setop, seharusnya harga di pasar tidak melonjak tajam. Efek Nataru dan MBG seharusnya tidak membuat serta merta harga naik karena dia menegaskan suplai cukup untuk konsumsi di Sumsel.

Menurutnya, walaupun nanti program MBG berjalan setelah siswa usai libur sekolah, seharusnya harga ayam dan telur tetap normal dan tidak akan melonjak tajam lagi. Sebab suplai aman untuk Sumsel, sedangkan daerah lain juga punya suplai sendiri atau peternakan sendiri juga.

Penyebab Ayam Mahal

Ismaidi menyebut penyebab ayam mahal sebenarnya yakni saat stok ayam ukuran besar sedikit. Sebab harga ayam jika ukurannya kecil atau di bawah harga 1,8 kg ayam hidup dari kandang, maka harga modalnya akan naik yang juga berdampak naiknya harga ayam di pasaran.

Tapi saat ini stok ayam dari peternak cukup dengan ukuran standar 1,8 kg ayam hidup. Oleh sebab itu seharusnya harga ayam dan telur tidak naik drastis meski bertepatan momen Nataru.

Harga Pasar Saat Ini

Sementara itu harga ayam Ras di pasar Sako dibanderol beragam mulai dari Rp 34-37 ribu per kg tergantung pedagang yang menjualnya. Sedangkan harga telur ayam dibanderol Rp 28-30 per kg.

Sedangkan harga yang dipantau Dinas Perdagangan Palembang di pasar 10 Ulu kemarin, Jumat (2/1/2025) harga ayam ras dibanderol Rp 36 ribu per kg dan telur ayam Rp 28 ribu per kg.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan