
Ringkasan Berita:
- Omah Indische adalah bangunan Indis abad ke-19 yang menjadi saksi sejarah sosial dan politik Yogyakarta
- Rumah ini pernah dihuni keluarga Prof. Dr. H. Rasjidi, Menteri Agama pertama Republik Indonesia.
- Meski terdampak gempa 2006 dan dilabeli media secara framing, Omah Indische dilestarikan sebagai wisata sejarah edukatif.
nurulamin.proKotagede dikenal sebagai jantung sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini menyimpan jejak awal berdirinya Kesultanan Mataram Islam, sekaligus menjadi ruang hidup bagi berbagai bangunan bersejarah yang masih bertahan hingga kini. Keautentikan arsitekturnya tidak lekang oleh waktu dan menjadi saksi perjalanan sosial, ekonomi, serta politik masyarakat pada masa lampau.
Salah satu bangunan bersejarah yang masih berdiri adalah Omah Indishe yang berlokasi di Gang Soka, Jagalan, Banguntapan, Bantul. Bangunan ini didirikan sekitar tahun 1860 dan pada awalnya digunakan sebagai tempat tinggal Ibu Atmossoedigdo, seorang saudagar kaya pada masanya yang dikenal dalam perdagangan emas antam dan berlian. Arsitektur Omah Indishe merepresentasikan gaya Indis, yakni perpaduan unsur Eropa dan lokal Jawa, yang lazim digunakan oleh kalangan elite pada abad ke-19.
Dalam perkembangannya, bangunan bersejarah ini sempat dikenal publik dengan sebutan Rumah Pocong Sumi, nama populer yang muncul dari salah satu konten di media, bukan dari pemilik maupun pengelolanya.
Tim Tribunjogja mengumpulkan berbagai informasi menarik mengenai fakta unik Omah Indhishe atau dikenal Rumah Pocong Sumi.
1. Rumah Menteri Agama Pertama di Indonesia
Rumah berarsitektur Hindia tersebut pada awalnya ditinggali oleh Bapak H. Atmosudigdo bersama sang istri dan kelima anaknya. Lingkungan keluarga ini menjadi bagian penting dari sejarah rumah, mengingat peran besar salah satu anggotanya dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Anak pertama keluarga ini, Prof. Dr. H. Rasjidi, tercatat dalam sejarah nasional sebagai Menteri Agama pertama Republik Indonesia yang diangkat pada tahun 1946.
Sejak Prof. Dr. H. Rasjidi mengemban amanah sebagai pejabat negara, rumah tersebut tidak lagi ditinggali oleh keluarga. Dalam kurun waktu yang cukup lama, bangunan ini berada dalam kondisi tidak terawat secara optimal akibat kekosongan penghuni. Namun, nilai sejarah dan arsitekturalnya tetap melekat sebagai bagian dari warisan budaya kawasan Kotagede.
Upaya pelestarian baru mulai terlihat pada tahun 2006, ketika seorang warga bernama Nono mengajukan inisiatif untuk merawat dan menjaga bangunan peninggalan Hindia tersebut.
Tawaran tersebut mendapat persetujuan langsung dari Prof. Dr. H. Rasjidi. Sejak saat itu, rumah ini kembali mendapat perhatian dan perawatan.
2. Tidak Roboh, meski Diterjang Gempa
Yogyakarta terjadi gempa bumi berkekuatan sekitar 6,3 skala Richter yang terjadi pada 27 Mei 2006 menyebabkan kerusakan parah pada ribuan bangunan dan menelan korban jiwa. Kawasan Kotagede, dengan dominasi bangunan tua dan bersejarah, menjadi salah satu wilayah yang terdampak signifikan.
Sejumlah bangunan bersejarah di Kotagede mengalami kerusakan berat hingga roboh, termasuk Omah Indishe. Pada peristiwa tersebut, bagian dapur belakang rumah ini runtuh, sementara plafon yang terbuat dari kayu jati ikut ambruk akibat guncangan kuat.
Meski demikian, bangunan utama tetap berdiri dengan kondisi relatif utuh, meskipun mengalami sedikit kemiringan. Ketahanan struktur utama ini menunjukkan kualitas konstruksi bangunan Indis yang dirancang dengan perhitungan matang pada masanya.
Pasca gempa, bangunan Omah Indishe tidak diabaikan begitu saja. Pak Nono merawat dan melestarikan dengan mempertahankan keaslian bentuk serta arsitektur. Hingga kini, bangunan Hindia Belanda ini masih berdiri dan difungsikan sebagai bagian dari kawasan wisata sejarah Kotagede yang terbuka untuk masyarakat umum.
3. Sebutan Rumah Pocong Sumi Bukan dari Sang Pemilik
Menurut keterangan Pak Nono pada kanal YouTube @Rizkyana Iswahyuni, nama Omah Indishe sebagai bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi, sehingga tidak hanya menarik perhatian peneliti dan pegiat pelestarian budaya, tetapi juga media massa.
Salah satu stasiun televisi swasta pernah menjadikan bangunan ini sebagai lokasi penelusuran dalam konten bertema sejarah dan misteri. Pemilihan Omah Indishe didasarkan pada usia bangunan yang telah berdiri sejak abad ke-19 serta rekam jejak fungsinya yang berkaitan dengan dinamika sosial dan pemerintahan pada masa lalu.
Dalam rangka meningkatkan minat dan kesadaran masyarakat untuk menonton, pihak produksi memberi judul populer “Rumah Pocong Sumi”. Penyematan nama tersebut merupakan strategi komunikasi media untuk menarik perhatian publik, khususnya penonton yang menyukai konten berbalut cerita misteri.
Pak Nono selaku pihak yang merawat Omah Indishe, bersama keluarga pemilik bangunan, menegaskan bahwa mereka tidak pernah menyebut atau mengakui rumah tersebut dengan sebutan “Rumah Pocong Sumi.”
Bagi Pak Nono dan keluarga, Omah Indishe lebih dimaknai sebagai bangunan cagar bersejarah yang sarat nilai budaya dan historis. Rumah ini merekam perjalanan panjang kehidupan sosial, ekonomi, dan politik di Kotagede, mulai dari hunian saudagar pada abad ke-19 hingga menjadi saksi peristiwa penting dalam sejarah nasional. Oleh karena itu, mereka berupaya menjaga identitas Omah Indishe agar tetap berfokus pada nilai edukatif dan pelestarian warisan budaya.
Kalo penasaran dengan cerita lebih lengkapnya, kamu dapat mengunjungi secara langsung. Pengunjung dapat memperoleh penjelasan sejarah bangunan secara lengkap dari Pak Nono, selaku pihak yang merawat dan menjaga Omah Indishe hingga saat ini. (MG Erlysta Nafa Azhary)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar