
Penutupan Tambang Batu Granit di Baseh, Banyumas Berpotensi Memicu Masalah Baru
Penutupan tambang batu granit di Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kini menjadi sorotan masyarakat setempat. Puluhan warga yang bekerja di pabrik batu granit di sekitar lokasi tambang kini terancam kehilangan pekerjaan akibat penutupan tersebut.
Pabrik batu granit yang berada di dekat tambang ini telah beroperasi sejak tahun 2002 dan memiliki reputasi baik dalam produksi batu granit yang diekspor ke pasar Yogyakarta, Bali, bahkan hingga Jepang dan Australia. Namun, kini situasi berubah drastis setelah aksi penutupan tambang dilakukan oleh sejumlah warga lainnya.
Novianto, penanggung jawab pabrik granit di Baseh, mengungkapkan bahwa saat ini pabrik masih beroperasi meskipun aktivitas penambangan berhenti sementara sejak 4 November 2025. Ia menyebutkan bahwa pabrik masih memiliki stok batu granit yang harus diproduksi, namun stok bahan baku hanya cukup untuk tiga bulan ke depan.
"Kalau sampai berhenti total, ya tidak ada lagi bahan baku," ujarnya. Novianto menilai bahwa penghentian sementara aktivitas penambangan diperlukan untuk penataan area bukaan tambang agar sesuai dengan kaidah teknis pertambangan. Selain itu, pemilik tambang juga diminta untuk melakukan pengendalian air permukaan secara baik.
Ia berharap, penambangan batu granit di Baseh tidak ditutup sepenuhnya setelah dilakukan perbaikan. "Harapan saya, kita jalankan rekomendasi dulu selama 60 hari. Kalau bisa, jangan ada aksi lagi karena menguras tenaga," kata Novianto.
Dampak Lingkungan yang Mengkhawatirkan
Tidak hanya berdampak pada ekonomi warga, tambang batu granit di Baseh juga menimbulkan masalah lingkungan yang serius. Sebanyak 19 kolam ikan milik warga rusak akibat endapan pasir, kerikil, dan lumpur dari area tambang. Air keruh mengganggu fotosintesis alga dan tanaman air, sehingga membuat kolam-kolam itu tak lagi produktif.
Selain itu, material tambang menimbun struktur tanah dan membuat 24 hektare lahan pertanian tak lagi subur. Debu tambang turut mengendap di permukaan tanaman, sehingga hasil panen menurun dan sebagian sawah mulai tampak seperti padang pasir.
Saat musim hujan, batu dan lumpur dari bukit penambangan kerap hanyut ke jalan desa hingga membuat jalan licin dan penuh material. Selain khawatir longsor, keberadaan tambang batu granit ini juga ditakutkan merusak sumber air yang digunakan oleh 100 kepala keluarga (KK).
Budi Tartanto, salah satu warga Baseh, menyampaikan kekhawatiran tersebut. "Jangan sampai Baseh mengalami apa yang terjadi di daerah lain," katanya.
Keberlanjutan Pekerjaan dan Lingkungan
Novianto menjelaskan bahwa pabrik dan tambang batu granit berada di RT 07 RW 05 Desa Baseh. Banyak pemuda desa pernah bekerja di pabrik maupun tambang batu granit itu. Di pabrik, 8 orang bekerja di bagian produksi dan dua menjadi operator mesin. Sementara itu, aktivitas tambang berada di ranah DPA (Dinas Pertambangan dan Energi).
"Pabrik tetap berjalan. Yang dihentikan hanya tambang untuk penataan lahan dan dampak lingkungan," ujarnya.
Warga Baseh berharap, kebijakan penutupan tambang tidak berdampak terlalu besar terhadap kehidupan mereka. Mereka berharap, penambangan dapat dilanjutkan setelah dilakukan perbaikan yang memadai.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar