
Taman Karya Anak: Ruang Alternatif untuk Pendidikan dan Pengasuhan Anak
Libur sekolah sering menjadi momen yang menantang bagi para orang tua, terutama ibu-ibu. Anak-anak cenderung lebih banyak memegang gawai, sementara rutinitas mandi dan aktivitas dasar lainnya menjadi urusan yang melelahkan. Banyak orang tua tidak memiliki waktu, kemampuan, atau biaya untuk menitipkan anak ke lembaga pengasuhan yang jauh dan mahal. Dari kekhawatiran ini, Sakola Motekar Ciamis kembali meluncurkan Taman Karya Anak sebagai ruang alternatif pengasuhan dan pendidikan yang inklusif.
Pada liburan sekolah akhir tahun 2025, Sakola Motekar menyelenggarakan Taman Karya Anak #6, sebuah program rutin yang telah berjalan sejak 2022 dan diadakan setiap enam bulan sekali secara gratis dan terbuka untuk umum. Kegiatan ini berlangsung selama satu minggu, mulai dari Minggu, 28 Desember 2025, hingga Sabtu, 4 Januari 2026, dengan puncak acara Gelar Karya dan Lelang Karya di Lembur Kaulinan Cibunar, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis.
Peserta dari Berbagai Jenjang dan Wilayah
Kegiatan Taman Karya Anak kali ini diikuti sekitar 70 anak dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD, SD, SMP hingga SMA. Yang menarik adalah peserta tidak hanya berasal dari Ciamis, tetapi juga dari Sukabumi, Bandung, Kota Banjar, dan Majalengka. Selain anak-anak, sebanyak 40 relawan dari berbagai kota dan universitas turut terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini, meskipun tidak semua relawan berpartisipasi secara optimal.
Forum Diskusi Orang Tua: Saling Belajar dan Berbagi Pengalaman
Yang menjadi sorotan utama dalam Taman Karya Anak adalah forum diskusi orang tua yang berlangsung paralel dengan aktivitas anak. Saat anak-anak berkarya, para orang tua—terutama para ibu—dikumpulkan dalam forum diskusi kepengasuhan atau parenting. Forum ini menjadi ruang aman untuk saling berbagi pengalaman, keluhan, dan refleksi seputar karakter anak, pola asuh di rumah, hingga kritik terhadap sistem pendidikan formal.
Diskusi ini bukan sekadar obrolan ringan, melainkan proses belajar bersama. Banyak orang tua menyadari bahwa pendidikan tidak selalu identik dengan sekolah, dan belajar tidak selalu harus melalui mata pelajaran. Kesadaran ini tumbuh dari dialog yang jujur dan pengalaman nyata sesama orang tua.
Dampak Positif pada Keluarga
Dampak positif kegiatan ini dirasakan langsung oleh orang tua. Bu Maliha, salah satu peserta diskusi parenting, mengungkapkan perubahan signifikan pada anaknya, mulai dari kebiasaan bangun pagi, merapikan tempat tidur, hingga membantu pekerjaan rumah. Melalui diskusi orang tua di Taman Karya Anak Sakola Motekar Ciamis, terlihat jelas bahwa pendidikan anak adalah kerja kolektif. Program ini tidak hanya bermanfaat bagi anak, tetapi juga memperkuat kapasitas orang tua dan relawan dalam memahami esensi pengasuhan.
Keberlanjutan dan Keterlibatan Masyarakat
Dengan konsistensi penyelenggaraan dan keterlibatan lintas lapisan masyarakat, Taman Karya Anak layak menjadi model praktik baik pendidikan berbasis komunitas di Indonesia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu harus dilakukan di sekolah, tetapi bisa juga dilakukan di lingkungan yang lebih dekat dengan keluarga dan masyarakat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar