Dominasi konglomerat membanjiri pasar saham 2025, saham besar melonjak pesat


Pada tahun 2025, pasar modal Indonesia menjadi panggung utama bagi saham-saham yang dimiliki oleh konglomerat-konglomerat besar. Mayoritas emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar atau big market cap diisi oleh perusahaan yang terafiliasi dengan kelompok-kelompok bisnis nasional. Hal ini menunjukkan dominasi konglomerat dalam peta pasar modal Indonesia.

Salah satu tokoh yang masih menjadi konglomerat terkaya di Indonesia adalah Prajogo Pangestu. Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index, kekayaan pemilik Grup Barito mencapai US$ 46,1 miliar pada 2025, meningkat signifikan dibandingkan akhir 2024. Di pasar modal, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi yang terbesar dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 1.294,28 triliun. Posisi ini mengungguli PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 992,36 triliun.

Selain BREN, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang juga merupakan afiliasi Prajogo Pangestu, masuk dalam jajaran 10 besar saham berkapitalisasi besar dengan nilai Rp 607,74 triliun. Menurut analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, ruang kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar kini tidak lagi seagresif seperti emiten yang masih berada pada fase awal pertumbuhan.

Sebagai contoh, saham PT Chandra Daya Investasi (CDIA) telah melonjak 552% dari harga penawaran awal. Meski demikian, aksi korporasi tetap menjadi faktor penting dalam mendukung kenaikan harga saham. Salah satu langkah strategis CDIA adalah akuisisi PT Chandra Shipping International (CSI) dan PT Marina Indah Maritim (MIM) dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,68 triliun.

Fenomena serupa juga terjadi pada saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat Hapsoro Sukmonohadi atau Happy Hapsoro. Menurut Muhammad Wafi, Head of Korea Investment Sekuritas Indonesia, saham-saham dalam grup ini bergerak sangat agresif sepanjang 2025. Sentimen politik pasca-transisi pemerintahan serta isu merger, akuisisi, dan ekspansi turut memengaruhi minat pasar.

Beberapa emiten dalam ekosistem Happy Hapsoro, seperti PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), mencatat reli tajam hingga mencapai rekor harga tertinggi sepanjang masa. Salah satu contoh paling menonjol adalah BUVA, yang harga sahamnya melonjak lebih dari 2.500% sepanjang 2025.

Kenaikan saham BUVA didorong oleh keberhasilan rights issue senilai Rp 603,98 miliar serta pembalikan kinerja keuangan, dengan laba bersih mencapai Rp 108,6 miliar pada kuartal III-2025.

Selain itu, saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat Hashim Djojohadikusumo juga mencuri perhatian. Adik Presiden Prabowo tersebut tercatat memiliki kekayaan sekitar Rp 11 triliun pada 2024 versi Forbes, dan nilainya diperkirakan meningkat seiring lonjakan harga saham sepanjang 2025. Salah satu kontributor utamanya adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang melesat hingga 700% sepanjang tahun lalu.

Grup Bakrie pun kembali menjadi sorotan pasar. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat reli hingga 240% sepanjang 2025 dan diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatan pada 2026. Hal ini menunjukkan bahwa konglomerat-konglomerat besar masih menjadi penggerak utama pasar modal Indonesia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan