
Bahaya Baterai Drone yang Harus Diperhatikan
Baterai pesawat nirawak atau drone tidak hanya berisiko terbakar, tetapi juga bisa meledak dan mengeluarkan gas beracun. Hal ini diungkapkan oleh Dosen dari Program Studi Fisika Universitas Padjadjaran (Unpad), Sahrul Hidayat. Ia menjelaskan bahwa ledakan baterai ini diduga menjadi penyebab utama kebakaran di kantor PT Terra Drone Indonesia di Kemayoran, Jakarta Pusat pada 9 Desember lalu.
Jika baterai terbakar, suhunya bisa mencapai lebih dari 600 derajat Celcius, sehingga memicu kebakaran di sekitarnya, ujarnya pada Kamis, 11 Desember 2025.
Komponen Baterai Drone yang Rentan Terbakar
Menurut Sahrul, baterai drone umumnya menggunakan lithium polymer (Li-Po). Selain komponen anoda dan katoda, baterai juga terdiri dari elektrolit berbentuk gel. Penghantar elektrolitnya menggunakan garam lithium, biasanya berjenis Lithium hexafluorophosphate (LiPF6).
Bagian yang mudah terbakar itu elektrolit. Sifatnya eksplosif, kata dia.
Ketika baterai terbakar, garam tersebut berubah menjadi gas hidrogen fluorida (HF). Elektrolit polimer dalam baterai juga menghasilkan gas beracun karbon monoksida (CO). Dari dua gas tersebut, HF lebih cepat bereaksi dalam proses kimia, bahkan hanya dalam hitungan menit. Kondisi ini berbeda dengan reaksi CO yang lamban, bisa memakan waktu 1-2 jam.
Reaksi Api Saat Disiram Air
Sahrul menegaskan bahwa litium bersifat sangat reaktif. Jika baterai terbakar disiram air, bukannya api padam, malah bisa membesar. Api hanya akan padam jika akses oksigennya terputus, misalnya setelah ditimbun pasir, bisa juga ditutup dengan kain atau karung basah, jelasnya.
Risiko Over Charging dan Korsleting
Dalam kebakaran di kantor Terra Drone yang menewaskan 22 orang karyawan, Sahrul menyatakan bahwa api bisa muncul dari hubungan arus pendek, kondisi baterai yang rusak, serta pengisian menerus (over charging) yang melampaui batas tegangan 2,4 volt. Meski semakin canggih, tidak semua teknologi drone sudah dilengkapi sistem pemutusan arus otomatis.
Baterai drone juga rentan rusak dan mudah tertusuk benda tajam. Lapisan baterai drone umumnya hanya dilapisi bahan seperti plastik dan aluminium foil, tidak setebal baterai ponsel. Lapisan tipis ini biasanya untuk mengurangi bobot perangkat saat terbang.
Langkah Pencegahan yang Direkomendasikan
Untuk mengantisipasi api dari baterai drone, Sahrul menyarankan penyimpanan yang aman dari kondisi panas. Saat mengisi ulang baterai, pengguna harus memastikan kelengkapan sistem pemutus arus otomatis pada alat pengisian daya, terutama untuk menghindari kelebihan daya. Pasalnya, ketika melampaui tegangan, baterai bisa meledak karena terjadi kenaikan suhu.
- Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan:
- Simpan baterai di tempat yang dingin dan jauh dari sumber panas.
- Pastikan alat pengisi daya memiliki sistem pemutus arus otomatis.
- Hindari pengisian terlalu lama atau over charging.
- Jangan menyimpan baterai di dekat benda tajam atau permukaan kasar.
- Jika terjadi kebakaran, jangan gunakan air untuk memadamkan api, tetapi gunakan pasir atau kain basah untuk menghentikan akses oksigen.
Dengan memahami risiko dan cara pencegahan yang tepat, pengguna drone dapat lebih waspada dan mengurangi potensi bahaya yang mungkin terjadi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar