Dosen STIPER Flores Bajawa Bantu Petani Wogo Kembangkan Olahan Jagung Berbasis Budaya Lokal

Dosen STIPER Flores Bajawa Bantu Petani Wogo Kembangkan Olahan Jagung Berbasis Budaya Lokal

Program Pengabdian Masyarakat STIPER Bajawa: Diversifikasi Jagung untuk Peningkatan Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Tim dosen dari Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (STIPER) melakukan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan fokus pada pendampingan diversifikasi jagung menjadi berbagai olahan pangan fungsional berbasis kearifan lokal di Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Tujuan utama dari program ini adalah meningkatkan nilai tambah jagung, memperkuat ketahanan pangan, serta membuka peluang ekonomi baru bagi petani setempat.

Program PKM ini digawangi oleh enam dosen lintas program studi, yaitu Victoria Ayu Puspita (Prodi Agribisnis), Igniosa Taus (Prodi Biologi Terapan), Rofinus Neto Wuli (Prodi Agroteknologi), Olivia Gaudensio Reku (Prodi Agroteknologi), Yohanes Radho Tay (Prodi Agroteknologi), dan Kanisius Alvensius Reo (Prodi Agribisnis). Mereka dibantu oleh mahasiswa sebagai tim teknis dalam mendampingi proses pelatihan hingga produksi.

Desa Wogo merupakan salah satu sentra jagung di Ngada dengan pola tanam dua musim, April–September dan November–Maret. Namun selama ini, petani hanya menjual jagung dalam bentuk segar, baik dalam klobot maupun pipilan. Kurangnya fasilitas pengolahan dan minimnya pengetahuan terkait diversifikasi menyebabkan jagung memiliki nilai jual yang rendah.

“Padahal peluang pengembangan olahan jagung sangat besar. Produk seperti beras jagung, mie jagung, jagung bose, hingga uta tabha memiliki nilai tambah tinggi serta bernilai ekonomi, sosial, dan budaya,” kata ketua tim, Victoria Ayu Puspita.

Program PKM ini menyasar dua masalah utama, yaitu aspek produksi dan aspek manajemen kelompok tani. Dalam aspek produksi, tim PKM mengajarkan teknik pengolahan modern berbasis IPTEK, mulai dari pembuatan mie jagung, beras jagung, jagung bose, hingga uta tabha. Petani yang sebelumnya hanya menjual tongkol jagung kini mulai memproduksi olahan pangan siap konsumsi. Penggunaan mesin penggiling juga mempercepat proses dan menghasilkan kualitas beras jagung yang lebih baik.

Pada aspek manajemen usaha, petani dibekali pelatihan pencatatan keuangan, manajemen usaha tani, hingga literasi keuangan digital agar kelompok tani mampu mengelola usaha secara lebih profesional dan berkelanjutan.

Program pendampingan ini dilakukan melalui beberapa tahap yakni survei lapangan dan identifikasi masalah, Analisis kebutuhan mitra, Sosialisasi dan penyusunan program bersama perangkat desa dan kelompok tani, Pelatihan produksi dan pengemasan produk, Pendampingan usaha dan pembukuan hingga monitoring dan evaluasi tiap dua minggu.

Melalui pendekatan tematik dan partisipatif andragogis, seluruh anggota kelompok tani dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan pelatihan.

Program PKM ini menghasilkan sejumlah kemajuan signifikan, di antaranya:

  • Untuk pertama kalinya, Desa Wogo mampu memproduksi sekitar 100 kg olahan jagung dalam satu musim, meliputi beras jagung, jagung bose dan uta tabha.
  • Terbentuknya kelompok tani terlatih dengan kemampuan pengolahan dan manajemen usaha yang meningkat.
  • Adopsi teknologi pengolahan oleh petani, yang sebelumnya seluruh proses dilakukan manual.
  • Desa Wogo mulai menjadi pusat contoh inovasi teknologi pengolahan jagung bagi desa-desa lain.

Menurut dosen Agroteknologi, Rofinus Neto Wuli, pendampingan ini membuka peluang usaha kreatif baru yang memanfaatkan potensi lokal. “Jika terus dikembangkan, olahan jagung ini dapat menjadi branding pangan lokal khas Wogo,” ujarnya.

Penguatan Ketahanan Pangan Daerah

Diversifikasi olahan jagung ini juga dinilai mendukung ketahanan pangan daerah, sekaligus mendorong masyarakat untuk menjadikan jagung sebagai pangan alternatif selain beras. Produk lokal seperti mie jagung dan beras jagung dapat menjadi pilihan menu sehari-hari yang lebih sehat, murah, dan sesuai budaya masyarakat Ngada.

Program ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dengan judul: “Pendampingan Diversifikasi Jagung melalui Olahan Pangan Fungsional Berbasis Kearifan Lokal di Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.” Manuskrip ini diajukan pada 25 November 2025, diterima 26 November 2025, dan langsung dipublikasikan pada tanggal yang sama.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan