
Kasus Dosen Unima yang Diduga Melecehkan Mahasiswinya hingga Membuatnya Depresi
Sebuah kasus dugaan pelecehan seksual oleh seorang dosen Universitas Negeri Manado (UNIMA) terungkap setelah mahasiswi korban meninggal secara tidak wajar. Korban, Evia Maria Mangolo (21), ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di kamar kosnya di kawasan Kaaten, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada Selasa (10/12/2025). Awalnya, pihak keluarga dan polisi mengira korban mengalami depresi berat hingga mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun, kejanggalan mulai muncul ketika keluarga menemukan tanda-tanda luka lebam di bagian kakinya. Hal ini memicu keluarga untuk memutuskan melakukan otopsi meskipun awalnya polisi tidak bisa melakukan prosedur tersebut karena penolakan dari pihak keluarga. Dari hasil otopsi, ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan adanya perlakuan tidak wajar terhadap korban.
Salah satu bukti penting adalah surat tulisan tangan yang ditulis oleh Evia. Dalam surat tersebut, ia menjelaskan kronologi dugaan pelecehan yang dilakukan oleh dosen UNIMA berinisial DM alias Danny A Masinambow. Kejadian tersebut terjadi pada 12 Desember 2025, saat Danny mengirim pesan ke Evia tentang urutan atau pijatan. Ia bertanya apakah Evia bisa memberikan layanan tersebut, namun Evia menolak dengan alasan tidak memahami cara melakukannya.
Selain itu, ada percakapan sebelumnya antara Evia dan Danny mengenai hal serupa. Dua temannya sudah memperingatkan Evia untuk tidak menemui Danny. Namun, Danny justru mengalihkan topik pembicaraan ke rekapan nilai yang sebenarnya sudah selesai. Akhirnya, Evia memutuskan untuk pergi ke lokasi parkir kampus.
Pada pukul 14.20, Evia mengirimkan live location ke grup temannya. Setelah sampai di lokasi, ia langsung diminta masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, posisi kursi dipindahkan menjadi berbaring. Pada titik ini, Danny memaksa Evia untuk memijat tubuhnya. Bahkan, ia mencoba mencium pipi Evia, sementara Evia mencoba menutup mulutnya dan mendorong Danny.
Sayangnya, bukti chat yang menjadi bukti utama telah hilang karena batas waktu penghapusan pesan. Hal ini menyulitkan proses penyelidikan lebih lanjut. Namun, trauma yang dialami oleh Evia sangat dalam. Ia merasa takut dan malu jika bertemu dengan Danny. Selain itu, ia juga merasa tertekan karena kejadian tersebut bisa menjadi bahan pembicaraan di kalangan mahasiswa.
Kepala Humas UNIMA, Titof Tulaka, mengatakan bahwa Danny sudah diperiksa oleh kampus dan kepolisian. "Sudah diperiksa. Oknum tersebut langsung menuju ke polisi untuk pemeriksaan," katanya. Namun, Kapolsek Tomohon Tengah Iptu Stenly Tawalujan mengatakan bahwa pihaknya belum melakukan pemeriksaan terhadap Danny. "Laporan tidak masuk ke kami. Dia diperiksa ke Polda Sulut," ujarnya.
Penyebab Kematian Korban yang Masih Mencurigakan
Dari hasil pemeriksaan sementara, tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh Evia. Namun, keluarga tetap merasa ada yang tidak wajar dalam kematian korban. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk melakukan otopsi agar bisa mendapatkan kejelasan.
Selain itu, surat tulisan tangan Evia menjadi salah satu bukti penting dalam kasus ini. Isi surat tersebut menjelaskan detail kejadian yang dialaminya, termasuk permintaan Danny untuk memijat dan tindakan tidak senonoh yang dilakukannya. Meskipun beberapa bukti seperti chat telah hilang, informasi yang diberikan oleh korban tetap menjadi dasar untuk penyelidikan lebih lanjut.
Langkah yang Diambil oleh Pihak Kampus dan Polisi
Pihak kampus dan kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap Danny. Meskipun ada perbedaan informasi antara pihak kampus dan polisi, kasus ini tetap menjadi perhatian besar bagi masyarakat. Banyak pihak menuntut kejelasan dan keadilan dalam kasus ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar