Dosen Unusa Perkenalkan 'Nabung Bocah' untuk Bangun Karakter Anak Bersama Guru dan Orang Tua


Di tengah aktivitas ekonomi yang sibuk di kawasan Wonokromo, Surabaya, muncul harapan baru bagi anak-anak TK Swandayani. Program Digital dengan nama Nabung Bocah menjadi solusi inovatif untuk memperkuat hubungan antara guru dan orang tua. Dalam program ini, para guru dan orang tua mendapatkan pelatihan langsung dari tim dosen Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Program ini lahir dari kekhawatiran terhadap kondisi anak-anak di daerah padat penduduk yang sering bermain tanpa pengawasan. Banyak dari mereka memiliki perilaku kasar, mudah marah, atau cenderung menarik diri. Padahal, masa usia dini adalah fase penting dalam pembentukan karakter dan kemampuan sosial.

Orang tua memiliki peran besar, tapi mereka juga butuh bimbingan. Banyak yang sibuk berdagang dan tidak tahu bagaimana menstimulasi emosi anak. Kami ingin memberikan solusi yang sederhana dan berkelanjutan, ujar Firdaus, dosen Keperawatan Unusa.


Melalui pendekatan partisipatif, dosen Unusa memberikan pelatihan komunikasi efektif, pengelolaan emosi, serta cara menggunakan teknologi digital untuk memantau perkembangan anak. Orang tua diajak belajar berinteraksi positif dengan anak, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, memberi pujian yang tepat, serta mengenalkan emosi melalui permainan peran.

Selain itu, guru mendapatkan pelatihan strategi pembelajaran sosial emosional di kelas. Mereka diajak merancang aktivitas yang mendorong empati dan tanggung jawab, seperti permainan kelompok indoor dan outdoor.

Program ini juga memperkenalkan aplikasi digital Nabung Bocah, yang memungkinkan orang tua dan guru berkolaborasi secara daring. Melalui fitur laporan perkembangan, forum diskusi, dan pesan pribadi, komunikasi antara rumah dan sekolah menjadi lebih intensif.

Dulu orang tua jarang tahu apa yang terjadi di sekolah. Sekarang mereka bisa membaca laporan dan memberi tanggapan langsung. Anak pun merasa lebih diperhatikan, kata Firdaus, ketua tim pelaksana kegiatan.

Evaluasi program menunjukkan peningkatan signifikan: pemahaman konsep sosial emosional naik dari 28% menjadi 80%, dan kemampuan komunikasi efektif meningkat hingga 79%. Para peserta juga merasa lebih percaya diri menggunakan aplikasi digital dalam kegiatan sehari-hari.

Menurut Kepala TK Swandayani, Andini, program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan anak, tapi juga memperbaiki hubungan keluarga. Sekarang orang tua lebih sering ngobrol dengan anak tentang perasaan mereka. Kami juga lebih mudah berkoordinasi soal perilaku anak, ujarnya.

Program Nabung Bocah menegaskan pentingnya sinergi antara rumah dan sekolah. Pendidikan sosial emosional tidak cukup diajarkan di kelas, tetapi harus ditanamkan melalui keteladanan dan komunikasi hangat di rumah.

Kami berharap setiap orang tua menyadari bahwa membangun karakter anak tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh kolaborasi, empati, dan kesabaran, tutur Andini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan