Dr Maya Alvionita Terima Penghargaan Dokter Teladan Sumsel di Puskesmas Makarti Mulya

Profil Dokter Maya Alvionita, Tenaga Medis Teladan di Sumatera Selatan

Dokter Maya Alvionita menjadi salah satu tokoh yang mendapatkan penghargaan sebagai Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Provinsi Sumatera Selatan. Penghargaan ini diberikan dalam kategori dokter, yang menunjukkan dedikasi dan kontribusi besar dari dr. Maya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Latar Belakang dan Pendidikan

Dr. Maya merupakan seorang dokter umum yang bertugas di Puskesmas Makarti Mulya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Ia berusia 31 tahun dan telah mengabdikan dirinya sejak lama di wilayah perbatasan antara Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung. Sejak kecil, ia sudah memiliki impian untuk menjadi dokter karena keinginannya untuk merawat dan membantu sesama. Impiannya ini akhirnya terwujud melalui pengabdiannya di daerah dengan tantangan geografis yang cukup berat.

Pendidikan dr. Maya dimulai dari Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 2018. Setelah lulus, ia mulai mengabdi sebagai CPNS pada tahun 2020 dan hingga saat ini masih bertugas di Puskesmas Makarti Mulya.

Tantangan dalam Pelayanan Kesehatan

Puskesmas Makarti Mulya yang menjadi tempat kerja dr. Maya memiliki tugas yang tidak mudah. Wilayah yang dilayani mencakup tujuh desa, dua di antaranya tergolong daerah terpencil dengan akses yang sulit, terutama saat musim hujan. Hal ini membuat pelayanan kesehatan tidak selalu mudah dijangkau oleh masyarakat.

Untuk mengatasi hal tersebut, dr. Maya bersama tim puskesmas melakukan pelayanan keliling dan posyandu dengan sistem jemput bola ke desa-desa. Selama masa pandemi Covid-19, mereka dituntut untuk mencapai target 90 persen cakupan vaksinasi dengan turun langsung ke desa-desa terpencil.

Keterbatasan Sumber Daya

Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan tenaga medis. Dr. Maya merupakan satu-satunya dokter di Puskesmas Makarti Mulya, yang berstatus rawat inap dan melayani sekitar 17 ribu penduduk. Kondisi ini memaksa dr. Maya untuk selalu siap siaga, termasuk di luar jam kerja. Jika ada pasien rawat inap atau kondisi gawat darurat, ia harus datang ke puskesmas meskipun di luar jam kerja.

Dedikasi dan Harapan

Meski berasal dari Jawa, dr. Maya memilih menetap dan mengabdi di Makarti Mulya setelah menikah dengan warga setempat. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya keterbatasan tenaga medis, tetapi juga luasnya wilayah pelayanan dan beragamnya karakter masyarakat.

Sebagian masyarakat, khususnya di daerah terpencil, masih memiliki kepercayaan yang rendah terhadap layanan kesehatan modern. Edukasi kesehatan seperti pentingnya ASI eksklusif menjadi tantangan tersendiri karena faktor budaya dan kebiasaan yang telah mengakar.

Di wilayah Makarti Mulya sendiri terdapat jejaring layanan kesehatan berupa klinik dan praktik mandiri bidan serta dokter, yang turut membantu pelayanan kesehatan masyarakat.

Harapan dr. Maya adalah dengan penghargaan yang diterima dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Ia juga berharap kepada pemerintah agar transformasi layanan kesehatan dibarengi dengan dukungan infrastruktur yang memadai.

“Tidak ada sistem kesehatan yang baik tanpa dukungan infrastruktur, sumber daya manusia kesehatan, ketersediaan obat, serta akses layanan yang memadai, terutama di daerah terpencil,” ujarnya.

Kesimpulan

Dengan semangat pengabdian dan dedikasi tinggi, dr. Maya Alvionita menjadi contoh nyata tenaga kesehatan yang tetap berjuang memberikan pelayanan terbaik di tengah keterbatasan, sekaligus menjadi inspirasi bagi tenaga medis lainnya di Sumatera Selatan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan