Drone besar jatuh di Afghanistan, diduga MQ-9 Reaper


Sebuah kendaraan udara nirawak (UAV) strategis berukuran besar jatuh di provinsi Maidan Wardak, Afghanistan, dalam sebuah insiden yang hingga kini masih diselimuti ketidakpastian terkait asal-usul dan tipe wahana tersebut.

Puing-puing drone ditemukan di wilayah pegunungan dekat markas Taliban di Maidanshahr, ibu kota provinsi Maidan Wardak. Sumber yang terkait dengan Kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri kelompok tersebut menyatakan bahwa fragmen wahana udara dikumpulkan di lokasi kejadian dan kemudian dibawa ke Kabul, di mana dilaporkan diserahkan kepada Kementerian Pertahanan untuk penyelidikan teknis.

Seorang sumber dari Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa “bagian-bagian wahana udara telah dipindahkan ke kementerian untuk penyelidikan”, sementara anggota Taliban secara informal mengklaim bahwa drone tersebut ditembak jatuh oleh pasukan khusus kelompok itu. Meski demikian, tidak ada pernyataan resmi mengenai jenis UAV yang tepat maupun negara asal peralatan tersebut.

Selain insiden di Maidan Wardak, juga dilaporkan adanya kerusakan pada sebuah drone dalam peristiwa terpisah di provinsi Kandahar, meskipun keadaan insiden kedua ini masih belum jelas.

Kemungkinan keterlibatan drone Amerika Serikat

Sebagian besar drone yang beroperasi di wilayah udara Afghanistan umumnya dikaitkan dengan Amerika Serikat dan, dalam beberapa kasus, Pakistan. Taliban sendiri mengklaim memiliki drone, demikian pula Taliban Pakistan yang belakangan ini juga menggunakan jenis peralatan tersebut. Namun, para ahli menilai bahwa drone yang digunakan oleh kelompok-kelompok ini biasanya memiliki jangkauan dan ketinggian operasional yang terbatas serta terutama digunakan di wilayah perbatasan dan terhadap target jarak dekat, sehingga tidak sesuai dengan karakteristik UAV strategis berukuran besar.

MQ-9 Reaper adalah UAV pengintaian dan serangan yang dikembangkan oleh General Atomics Aeronautical Systems. Wahana ini merupakan pengembangan dari MQ-1 Predator, dengan penerbangan perdana tercatat pada 2 Februari 2001. Ketinggian operasionalnya sekitar 13.000 meter, dan daya jelajah maksimum dapat mencapai hingga 24 jam.

Reaper memiliki enam titik gantung senjata: dua internal yang masing-masing mampu membawa hingga 680 kg; dua di bawah sayap dengan kapasitas hingga 270 kg; serta dua titik eksternal dengan kapasitas 90 kg. Senjata yang kompatibel mencakup rudal udara-ke-darat AGM-114 Hellfire dan bom berpemandu seri Mark 82, serta berbagai sistem serangan dan sensor pengawasan lainnya.

Riwayat kehilangan drone

Biasanya, insiden yang melibatkan hilangnya drone berukuran besar seperti ini diumumkan secara terbuka oleh komando militer Amerika Serikat. Hingga kini, tidak terdapat catatan resmi pada laman komando AS yang melaporkan hilangnya sebuah drone di wilayah Afghanistan.

Sebagai contoh, pada November 2025, selama latihan militer, sebuah drone dari Skuadron Pengintaian Ekspedisioner ke-431 yang berbasis di Semenanjung Korea mengalami kegagalan teknis saat terbang di dekat Pulau Maldo Ree. Setelah kehilangan kontak dengan stasiun kendali darat dan tidak mampu memulihkan kendali, militer AS memutuskan untuk menghancurkan wahana tersebut secara terkendali di atas laut guna menghindari risiko bagi wilayah berpenduduk. Insiden serupa juga tercatat pada tahun 2021 di wilayah Afrika yang tidak disebutkan secara rinci.


Sumber-sumber lokal dan laporan media regional menyebutkan bahwa drone tersebut kemungkinan merupakan MQ-9 Reaper buatan Amerika Serikat, meskipun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi.


Hingga terdapat konfirmasi resmi, identifikasi drone yang jatuh di Maidan Wardak masih bersifat spekulatif, sementara otoritas de facto di Afghanistan terus melanjutkan penyelidikan atas insiden tersebut.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan