Drone Rusia Serang Odesa, Enam Orang Terluka Saat Upaya Perdamaian Ukraina


Pada dini hari Rabu (31/12/2025), kota Odesa di Ukraina selatan menjadi sasaran serangan drone Rusia. Serangan ini menargetkan permukiman dan jaringan listrik, sehingga menyebabkan luka pada enam orang, termasuk seorang balita dan dua anak lainnya. Drone tersebut menghantam bangunan apartemen dan fasilitas energi di wilayah tersebut.

Menurut informasi dari Kepala Administrasi Militer Regional Odesa, Oleh Kiper, empat gedung apartemen mengalami kerusakan akibat serangan semalam. Sementara itu, perusahaan energi DTEK melaporkan bahwa dua fasilitas energi mereka mengalami kerusakan signifikan. Selama bulan Desember saja, 10 gardu induk distribusi listrik di wilayah Odesa rusak akibat serangan beruntun.

Serangan jarak jauh oleh Rusia terhadap wilayah perkotaan Ukraina meningkat sepanjang tahun ini, terutama dalam beberapa bulan terakhir ketika invasi Moskow ke negara tetangganya mendekati empat tahun pada Februari. Fokus serangan semakin beralih ke infrastruktur energi, dengan tujuan untuk melumpuhkan pasokan listrik, pemanas, dan air bersih selama musim dingin.

“Serangan semalam di Odesa merupakan bukti lanjutan taktik teror musuh yang secara sengaja menargetkan infrastruktur sipil,” kata Kiper, seraya menegaskan bahwa wilayahnya masih dalam siaga tinggi.

Dampak kemanusiaan konflik ini semakin berat. PBB mencatat bahwa dari Januari hingga November tahun ini, lebih dari 2.300 warga sipil Ukraina tewas dan lebih dari 11.000 orang luka-luka. Angka tersebut meningkat 26 persen dibanding periode yang sama pada 2024 dan 70 persen dibanding 2023, menurut data PBB yang dirilis awal bulan ini.

Di tengah upaya diplomasi baru untuk menghentikan pertempuran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjamu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di resor miliknya di Florida. Trump menyebut kesepakatan damai “lebih dekat dari sebelumnya,” sementara Zelensky akan menggelar pertemuan dengan para pemimpin Eropa pekan depan guna mengamankan syarat-syarat yang dapat diterima Kyiv.

Namun, eskalasi militer di lapangan justru memperkeruh suasana. Moskow mengklaim bahwa Ukraina berupaya menyerang kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin di wilayah barat laut Rusia dengan 91 drone jarak jauh pada akhir pekan. Ukraina membantah tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya pengalihan untuk mengganggu proses perundingan damai.

Mayor Jenderal Alexander Romanenkov dari angkatan udara Rusia mengatakan drone-drone itu diluncurkan dari wilayah Sumy dan Chernihiv di Ukraina. Ia mengklaim pertahanan udara Rusia mencegatnya di sejumlah wilayah, termasuk Bryansk, Tver, Smolensk, dan Novgorod. Klaim tersebut disampaikan dalam sebuah pengarahan tanpa sesi tanya jawab dan tidak dapat diverifikasi secara independen.

Uni Eropa merespons tudingan Moskow dengan menyebut klaim Rusia sebagai “pengalihan perhatian yang disengaja” dari upaya perundingan damai. Kepala kebijakan luar negeri UE, Kaja Kallas, menulis di platform X bahwa “tidak seorang pun seharusnya menerima klaim tak berdasar dari agresor yang sejak awal perang secara membabi buta menargetkan infrastruktur dan warga sipil Ukraina.”

Di sisi lain, Zelensky mengumumkan bahwa Rumania dan Kroasia menjadi negara terbaru yang bergabung dalam Prioritized Ukraine Requirements List (PURL)—mekanisme pendanaan untuk membeli persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer dari Amerika Serikat dengan kontribusi negara-negara anggota NATO (kecuali AS). Sejak dibentuk pada Agustus, 24 negara telah berkontribusi, dengan total dana mencapai US$4,3 miliar, hampir US$1,5 miliar di antaranya masuk pada Desember.

Perang drone antara kedua pihak terus berlanjut. Angkatan udara Ukraina menyatakan Rusia meluncurkan 127 drone pada malam yang sama, 101 di antaranya berhasil dicegat. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim menembak jatuh 86 drone Ukraina di berbagai wilayah Rusia, Laut Hitam, serta Semenanjung Krimea yang dianeksasi secara ilegal.

Serangan Ukraina dilaporkan sempat memicu kebakaran di sebuah kilang minyak di wilayah Krasnodar, Rusia selatan, meski api berhasil dipadamkan dengan cepat.

Serangan di Odesa menegaskan bahwa, meskipun jalur diplomasi kembali dibuka, ketegangan di medan perang tetap tinggi. Perang Rusia-Ukraina masih ditandai oleh eskalasi militer, perang drone intensif, dan dampak kemanusiaan yang luas—sebuah kontras tajam dengan harapan akan terobosan damai dalam waktu dekat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan