Dua Dekade Disiksa di Malaysia, Seni TKW Asal Temanggung Lupa Identitas, Hanya Ingat Satu Nama

Kehidupan Seni yang Penuh Duka dan Harapan

Seni (47), seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Temanggung, Jawa Tengah, mengalami penderitaan berat selama 20 tahun di Malaysia akibat penyiksaan oleh majikan. Kondisi fisik dan mentalnya sangat memprihatinkan ketika pertama kali diselamatkan. Selama puluhan tahun hidup dalam kesengsaraan, ia bahkan kehilangan identitas dirinya.

Yang masih teringat oleh Seni hanya nama seseorang di Temanggung, yaitu Ricky Alvian, anaknya yang ia tinggalkan saat masih berusia tiga tahun. Nama itu menjadi satu-satunya harapan untuk kembali bertemu dengan keluarga. Meski demikian, Seni belum bisa kembali ke Indonesia. Ia masih menjalani proses pemeriksaan sebagai saksi korban oleh pihak kepolisian setempat.

Pertemuan antara Seni dan keluarganya terjadi setelah lama sekian tahun tidak dapat bertemu. Ricky Alvian, putra Seni, akhirnya dapat bertemu langsung dengan ibu kandungnya pada Senin (8/12). Pertemuan ini dilakukan di Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Serdang, Puchong, Selangor, Malaysia, atas fasilitasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia. Dampingi oleh keponakan bernama Lilin Triyanah serta istri Bupati Temanggung, Panca Dewi, mereka melakukan pertemuan yang penuh perasaan.

Perjumpaan yang Penuh Emosi

Perjumpaan yang dinanti-nanti tersebut diselimuti nuansa perasaan bahagia bercampur haru. Namun, ada cerita yang belum banyak diketahui masyarakat luas. Dalam percakapan antara Bupati Temanggung, Agus Setyawan, dengan Ricky, Lilin, dan Panca Dewi, terungkap bahwa Seni sempat lupa akan identitas dirinya sendiri. Yang masih teringat hanyalah nama Ricky Alvian dari Temanggung.

“Bu Seni sempat lupa akan identitas dirinya sendiri. Tetapi, yang masih dapat diingat hanyalah nama Ricky Alvian dari Temanggung. Meski sedikit informasi yang diperoleh, namun hal tersebut mempermudah pihak kepolisian dalam melacak dan menggali identitas serta keberadaan keluarga korban,” jelas Panca Dewi.

Selain itu, Seni masih ingat dengan wajah keponakannya, Lilin Triyanah. Namun, ia tidak begitu mengenali wajah puteranya, Ricky Alvian, yang sudah terpisah selama 23 tahun. Bahkan, Seni juga tidak lagi memahami dialektika bahasa Jawa, ia hanya fasih berbahasa Melayu.

Rasa Bahagia yang Terpendam

Ricky menyampaikan rasa syukurnya dapat bertemu dan melihat wajah ibu kandungnya pertama kali setelah lebih dari dua dekade. “Sangat bahagia bisa ketemu ibuk. Meski pangling dengan wajah saya. Tapi alhamdulillah ibuk dalam kondisi sehat. Sebenarnya mau menangis, tapi kasihan ibuk,” ujarnya.

Meskipun perjumpaan ini membawa rasa bahagia, Seni masih belum bisa dipulangkan ke kampung halamannya di Dusun Letih, Desa Mergowati, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Proses kepulangan Seni terganjal karena ia masih menjalani proses pemeriksaan intensif sebagai saksi korban oleh pihak kepolisian setempat.

Proses Hukum yang Masih Berlangsung

Bupati Temanggung, Agus Setyawan, menjelaskan bahwa pihak kepolisian setempat dan Kedutaan Besar Republik Indonesia Untuk Malaysia meminta agar pihak keluarga bersabar. Saat ini, Seni tengah menjalani serangkaian proses penegakan hukum dengan status sebagai korban sekaligus saksi kunci.

“Keduanya memang sudah bertemu di Malaysia. Namun, saat ini pihak keluarga diminta untuk bersabar karena Ibu Seni adalah saksi kunci atas kasus yang proses hukumnya terus berjalan di pengadilan setempat. Keterangan beliau sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Pihaknya berharap, pertemuan pertama setelah 21 tahun berpisah tanpa kabar ini, setidaknya dapat mengobati rasa rindu serta semakin meneguhkan hati korban dan pihak keluarga, hingga seluruh proses hukum yang tengah dijalani benar-benar rampung.

Upaya Mempercepat Proses

Sebelumnya, di awal terkuaknya kasus yang menimpa Seni, Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong langsung menemui pihak keluarga korban dan memfasilitasi pembuatan paspor bagi putera kandung, Ricky Alvian dan salah seorang keponakan bernama Lilin Triyanah. Harapannya, pihak keluarga dapat segera bertemu korban di Malaysia, untuk sekedar mengobati rasa rindu setelah sekian lama putus komunikasi.

Tak berselang lama, dirinya juga menjajaki komunikasi secara langsung dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Malaysia, Dato' Indera Hermono serta Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Selain memantau kondisi dan perkembangan kasus yang menimpa Seni, langkah ini juga dimaksudkan agar upaya mempertemukan kedua belah pihak dapat berjalan secara lancar.

“Mas Ricky (anak dari Seni-red) ini kan mengaku belum mengenali wajah ibunya karena sudah ditinggal bekerja di Malaysia sejak usia 3 tahun. Dan setelah mengetahui kondisi serta keberadaan ibunya, dia ingin sekali bertemu. Oleh karena itu, sepenuh hati kami bantu upaya mempertemukan kedua belah pihak,” jelasnya.

Namun kala itu, pihak kedutaan besar meminta keluarga yang bersangkutan untuk bersabar sejenak, sembari menunggu informasi lanjutan. Pasalnya, pihak kepolisian setempat di Malaysia juga tengah menempuh langkah-langkah hukum tertentu, termasuk meminta keterangan dari Seni selaku pihak korban.

“Yang jelas, kami selalu berkoordinasi agar seluruh penanganan berjalan dengan baik,” tambahnya.

Setelah menanti beberapa waktu, akhirnya kabar baik yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada Rabu (3/12) lalu, pihak Kedubes menginformasikan pemberian izin pertemuan antara pihak korban dengan keluarga. Hingga, pada Sabtu (6/12), pihak keluarga yang diwakili oleh Ricky Alvian serta Lilin Triyanah bertolak ke Negeri Jiran melalui Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo, dengan didampingi istri bupati, Panca Dewi.

Suasana bahagia bercampur haru benar-benar pecah pada Senin (8/12). Atas fasilitasi dari pihak Kedubes dan Polisi Diraja Malaysia, Seni akhirnya dapat bertemu secara langsung dengan pihak keluarga, setelah 21 tahun lamanya mereka tak dapat bertatap muka, bahkan sekedar saling bertukar informasi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan