Kondisi Wilayah Sumatera Utara Pasca-Bencana Banjir dan Longsor
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan bahwa masih ada dua kabupaten di Sumatera Utara yang dilaporkan terisolir akibat banjir bandang dan tanah longsor. Hal ini disampaikannya dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah Kementerian/Lembaga terkait penanganan bencana di Banda Aceh.
“Sumatera Utara yang masih terisolir tinggal dua kabupaten. Dari 18 kota yang terdampak, 7 desa terisolir. Ini Humbang Hasundutan, satu kecamatan, dan Tapanuli Utara ada 7 kecamatan,” kata Suharyanto dikutip dari siaran langsung Sekretariat Presiden.
“Tapanuli Utara yang dua kabupaten/kota yang masih tadi dikatakan terisolir, ini ada dua kecamatan. Humbang Hasundutan ada 6 kecamatan. Ini semuanya juga sudah didistribusikan logistik lewat udara,” tambahnya.
Dikutip dari data Pemkab Humbang Hasundutan (Humbahas), bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025 di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) berdampak pada beberapa kecamatan, terutama Kecamatan Pakkat dan Tarabintang. Bencana ini juga melaporkan dampak pada beberapa wilayah lain, dengan total enam kecamatan yang mengalami kerusakan rumah.
Kerusakan di Kecamatan Pakkat dan Tarabintang
Kecamatan Pakkat
Lokasi spesifik bencana longsor dan banjir bandang berada di Dusun Lumban Sihotang, Desa Panggugunan. Akses jalan penghubung menuju Tapanuli Tengah di jalur Pakkat–Barus juga sempat terputus akibat material longsor. Area di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Pakkat di Dusun Nanggumba, Desa Purba Bersatu, juga mengalami longsor beruntun.
Kecamatan Tarabintang
Bupati Humbahas juga dilaporkan meninjau lokasi longsor dan pengungsi di aula HKBP Sihombu di kecamatan ini. Secara keseluruhan, data terbaru menunjukkan bahwa 427 unit rumah di 18 desa pada enam kecamatan di Humbahas mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
Dampak Bencana di Kecamatan Tarabintang
Jalur Akses Terputus: Jalan penghubung antara Kecamatan Tarabintang dan Kecamatan Pakkat terputus di Desa Sihombu akibat tanah longsor yang menutup badan jalan dengan material batu dan lumpur.
Rumah Rusak: Setidaknya dua unit rumah mengalami kerusakan di wilayah ini.
Warga Mengungsi: Warga terdampak bencana longsor di Desa Sihombu mengungsi dan ditampung sementara di Aula HKBP Sihombu.
Pemerintah daerah bersama tim gabungan BNPB dan BPBD Humbang Hasundutan telah melakukan penanganan darurat dan pendataan kerusakan lebih lanjut di lokasi.
Dampak Bencana di Kecamatan Pakkat
Korban Jiwa dan Hilang: Bencana ini menimbulkan korban jiwa, di mana beberapa warga dilaporkan meninggal dunia dan ada yang masih dinyatakan hilang di wilayah ini.
Kerusakan Rumah: Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan, bahkan beberapa di antaranya dilaporkan hanyut akibat banjir bandang.
Infrastruktur dan Akses Jalan Terputus: Akses jalan utama, termasuk jalur penghubung Pakkat menuju Barus/Tapanuli Tengah dan Jalinsum Pakkat-Dolok Sanggul, terputus total akibat tertutup material longsor berupa lumpur dan bebatuan.
Kerusakan Infrastruktur: Juga mencakup dua jembatan hilang dan satu jembatan amblas, serta pemadaman aliran listrik dan jaringan komunikasi.
Kerusakan Lahan Pertanian: Area pertanian juga terdampak signifikan, dengan sekitar 768 hektare lahan pertanian rusak.
Area PLTA Terdampak: Di Dusun Nanggumba, Desa Purba Bersatu, longsor beruntun terjadi di area dinding bukit sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Pakkat, menyebabkan warga di sekitar lokasi diminta mengungsi dan proyek PLTA dihentikan sementara.
Tim gabungan dari BPBD, TNI-Polri, dan relawan telah bergerak cepat untuk melakukan evakuasi, pembersihan material longsor dengan alat berat, dan mendirikan dapur umum untuk membantu warga terdampak.

Upaya Membuka Akses Jalan
Kepala BNPB Suharyanto melaporkan bahwa perbaikan akses jalan dari Tapanuli Utara menuju Tapanuli Tengah melalui Sibolga terus dikebut pemerintah. Akses tersebut masih terputus di Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara.
“Per hari ini mungkin Satgas sudah bisa masuk 40 kilometer lebih, karena begitu saya tinggal ke Aceh kemarin sudah 38 kilometer. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, satu minggu dari sekarang ini sudah bisa tembus,” ujar dia.
“Sehingga kalau ini bisa tembus, Tapanuli Tengah, yang Bapak Presiden datang, dengan Sibolga, ini sudah pulih hampir 100 persen, Bapak Presiden. Meskipun Tapanuli Tengah dengan Sibolga ini sekarang logistik, air, listrik tidak masalah karena bisa disuplai lewat laut,” lanjutnya.
Sementara itu, akses jalan dari Tapanuli Selatan menuju Mandailing Natal belum dapat dilalui kendaraan roda empat, meski sepeda motor sudah bisa melewati jalur tersebut.
Distribusi Logistik dan Kondisi Jaringan
Logistik di Bandara Silangit, Sumatera Utara, tercatat mencapai jumlah besar. Sebanyak 193 ton bantuan telah didistribusikan, sementara buffer stock yang masih tersedia berjumlah 165 ton, mencakup pangan, minuman, sandang, sarana kebersihan, perlengkapan logistik, serta alat komunikasi.
Dalam hal komunikasi, Sumatera Utara dilaporkan telah pulih 100 persen. Sementara itu, jaringan listrik hampir sepenuhnya pulih, dengan 99,9 persen wilayah sudah terlayani.
“Kemudian untuk listrik, ini terakhir per sore ini 99,9 persen dari Bapak Direktur Utama PLN, karena ada dua desa, yaitu Desa Tuka dan Desa Sorkang ini masih padam, karena dua desa itu masih terkena banjir begitu,” kata Suharyanto.
“Desa Tuka barusan katanya sudah menyala, Bapak Presiden. Jadi tinggal satu saja, Desa Sorkang,” tambahnya.
Untuk layanan air bersih, operasional PDAM di Kabupaten Mandailing Natal telah pulih 100 persen, sedangkan di Tapanuli Selatan mencapai 90 persen.
Wilayah Tapanuli Tengah masih menghadapi kendala akibat beberapa daerah terisolasi dan akses darat yang belum dapat dilalui.
Pemerintah memastikan ketersediaan alutsista di Sumatera Utara memadai untuk dukungan darat, laut, maupun udara.
Setelah kondisi di Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah membaik, sebagian alutsista akan digeser untuk memperkuat penanganan bencana di Aceh.
“Kemudian untuk data sementara untuk wilayah Sumatera Utara, datanya seperti itu Bapak Presiden. Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk mengembalikan kondisi semula, ini rehabilitasi-rekonstruksi membutuhkan anggaran sekitar Rp 12,88 triliun. Tentu saja data ini masih terus kami perbaiki secara terus-menerus,” ungkap Suharyanto.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar