
Kehadiran Danantara dan Peluang IPO BUMN di Pasar Modal
Sejak sekitar dua tahun terakhir, tidak ada lagi perusahaan BUMN atau anak usaha BUMN yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini menjadi perhatian khusus dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menilai partisipasi BUMN dalam pasar modal memiliki peran penting dalam memperkuat likuiditas dan diversifikasi instrumen investasi.
Saat ini, total BUMN dan anak perusahaannya yang tercatat di BEI mencapai 37 perusahaan. Dari jumlah tersebut, 14 di antaranya merupakan BUMN murni, sedangkan 23 lainnya adalah anak perusahaan pelat merah. Angka ini tidak mengalami perubahan signifikan dalam dua tahun terakhir.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyatakan bahwa pihaknya memahami pentingnya partisipasi BUMN dalam pasar modal. Menurutnya, kehadiran BUMN dapat membantu meningkatkan ketersediaan instrumen investasi yang beragam serta memperkuat likuiditas pasar.
Untuk mendukung hal tersebut, OJK terus melaksanakan program pendalaman pasar bersama dengan self-regulatory organization (SRO) dan pelaku pasar modal, termasuk perusahaan efek. "OJK melakukan sosialisasi dan diskusi dengan perusahaan yang memiliki kesiapan untuk melakukan IPO, termasuk BUMN dan anak perusahaannya, guna meningkatkan pemahaman terkait proses penawaran umum serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi," ujarnya dalam jawaban tertulis.
Namun, Inarno menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan IPO sepenuhnya merupakan pertimbangan dan kebijakan bisnis masing-masing perusahaan. Peran OJK, menurutnya, adalah memastikan proses berjalan secara profesional, transparan, serta melindungi kepentingan investor.
Peluang IPO di Tengah Hadirnya Danantara
Di tengah situasi ini, hadirnya Danantara Indonesia memberikan harapan baru bagi pasar modal nasional. Danantara, yang merupakan sovereign wealth fund, akan berkontribusi dalam pengembangan pasar modal baik dari sisi penawaran maupun permintaan.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa salah satu tujuan Danantara adalah memastikan perusahaan-perusahaan yang ada dalam portofolionya siap untuk masuk sebagai emiten di bursa. "Kami ingin perusahaan-perusahaan yang ada dalam Danantara siap untuk masuk menjadi emiten yang baik di bursa," katanya dalam acara Opening Ceremony dan Seminar Utama Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2025.
Pandu juga menyampaikan bahwa sebagian dana investasi Danantara akan dialokasikan ke pasar modal. Secara keseluruhan, rencana investasi Danantara mencapai US$10 miliar atau setara dengan Rp165,8 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 80% akan dialokasikan untuk proyek domestik, sementara sisanya akan ditempatkan di luar negeri.
"Untuk tahun ini, sekitar 80% investasi akan dilakukan di dalam negeri, sebagian diinvestasikan di pasar publik, obligasi, dan pasar modal," jelas Pandu.
Selain itu, Danantara juga menargetkan peningkatan bobot saham Indonesia di Morgan Stanley Capital International (MSCI) hingga 5%-8%. Pandu menyatakan bahwa posisi Indonesia saat ini telah mengalami penyusutan dari level 2,5% menjadi 1%. Oleh karena itu, dia berharap bobot tersebut dapat meningkat seiring dengan menguatnya likuiditas pasar modal.
Kalau tidak salah dulu 2,5%, sekarang tinggal 1%. Masa sih kita tidak bisa 5% atau 8%? Jadi, kalau boleh ke depannya, bursa bisa dong US$8 miliar trading volume per hari dan 8% dari bagian MSCI, pungkasnya.
Perkembangan Terbaru: Penawaran Umum Perdana Saham BUMN
Sebagai informasi, BUMN yang terakhir kali listing di BEI adalah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO). Entitas anak PT Pertamina (Persero) ini melantai pada 24 Februari 2023 dengan raihan dana sebesar Rp9,06 triliun.
Dengan adanya Danantara dan rencana investasi yang besar, potensi IPO BUMN kembali menjadi perhatian. OJK pun terus berupaya memastikan proses IPO berjalan secara profesional dan transparan, serta melindungi kepentingan investor.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Berita tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar