Seorang Mahasiswa yang Menggabungkan Dunia Akademik dan Ojek Online

Di sepanjang jalan raya, terlihat seorang mahasiswa yang menghentikan motornya lalu melepas kemeja rapi yang ia kenakan dan menggantinya dengan jaket berlogo aplikasi ojek online. Saat teman-temannya memilih untuk bersantai atau menghabiskan waktu di kampus setelah pulang kuliah, Sahrul justru sibuk mengecek ponselnya dan menunggu pesanan masuk. Dalam sekejap, identitasnya berubah: dari seorang mahasiswa yang fokus pada IPK, menjadi seorang driver yang menjalani pekerjaan harian.
Bagi sebagian orang, kejadian ini mungkin terlihat biasa saja. Di tengah dinamika kehidupan kampus yang sering kali identik dengan gaya hidup dan gengsi, ada banyak mahasiswa yang memilih jalur berbeda. Mereka adalah individu yang memainkan dua peran dalam satu hari. Sahrul adalah salah satunya. "Sebenarnya awalnya saya ingin langsung bekerja setelah lulus sekolah, bukan melanjutkan kuliah. Tapi karena situasi membawa saya ke sini, saya harus mencari cara untuk tetap mandiri. Ngojol akhirnya saya pilih karena bisa memaksimalkan waktu: kuliah jalan, cari uang pun jalan," kata Sahrul.
Bagi Sahrul, jeda antar mata kuliah bukanlah waktu untuk bersantai di kantin, melainkan tanda dimulainya babak kedua perjuangan harian. "Kalau dibilang capek, ya memang capek. Tugas kuliah menumpuk, tapi kebutuhan juga harus dikejar," ujarnya. Seni mengatur lelah dalam menjalani kehidupan ganda tentu tidak mudah. Rasa lelah adalah musuh yang selalu mengikuti. Sahrul mengakui bahwa membagi pikirannya antara materi kuliah yang rumit dan navigasi jalanan yang macet sering kali menguras energi.
Namun, meskipun lelah dengan rutinitasnya, ia tetap menjalani semuanya dengan sepenuh hati. Ia bangga dengan dirinya sendiri karena pendapatannya dari ngojol mampu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah. Alasan utama Sahrul bertahan adalah karena pekerjaan ini bisa disesuaikan dengan jadwal perkuliahannya. Ia bisa memilih narik di malam hari atau meliburkan diri saat merasa penat.
Meski sangat menikmati peran gandanya sebagai mahasiswa yang memulai ojek online sejak tahun 2024, tugas kuliah tetap menjadi prioritas utamanya. Jika ruang kelas memberinya teori, maka jalanan memberinya pengalaman nyata. Di atas jok motornya, Sahrul bertemu dengan berbagai jenis manusia yang menjadi guru tak berseragam. Menunggu penumpang yang tak kunjung datang, pesanan yang dibatalkan, hingga aplikasi yang mendadak gangguan, adalah hal-hal yang sering ia alami. Namun, jalanan juga menyimpan kejutan manis.
Jalanan tidak selamanya ramah bagi Sahrul. Ia kerap merasa kecewa saat sistem tidak berpihak padanya. "Yang paling bikin kesal itu kalau sudah sampai titik penjemputan, tapi penumpangnya lama atau tiba-tiba di-cancel. Rasanya susah sekali mengontrol situasi itu," keluhnya. Namun, roda terus berputar, begitu pula semangatnya. Bagi Sahrul, kebahagiaan di jalanan itu sederhana. Bukan hanya soal nominal uang tip yang ia terima, melainkan interaksi manusianya. "Saya paling senang kalau penumpang mau berbagi cerita, biasanya bapak-bapak yang curhat pengalaman hidup. Itu membuat saya termotivasi untuk terus bangkit," ujarnya sambil tersenyum.
Sahrul mengingatkan bahwa musuh terbesar bukanlah lelah atau gengsi, melainkan waktu yang terbuang percuma. "Pesan saya, jangan pernah sia-siakan waktu karena ia terus berjalan," tuturnya. Bagi Sahrul, hidup harus memiliki arah yang jelas. "Kita harus punya tujuan dan mengejarnya semaksimal mungkin." Gelar sarjana yang kelak ia raih nanti adalah bukti nyata bahwa ia adalah pemenang dalam perlombaan melawan waktu.
Sahrul menyadari satu hal tentang sifat manusia: rasa tidak pernah cukup. Itulah sebabnya ia tidak pernah lupa diri. Meski kelak ia duduk nyaman dengan pekerjaan tetap, jalanan akan tetap menjadi 'kantor keduanya'. Ia memilih untuk tidak terpaku pada satu sumber penghasilan saja. Selagi ada waktu senggang, roda motornya akan terus berputar, membuktikan bahwa baginya, istirahat terbaik adalah tetap produktif.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar