Duka Semen Padang dan Persija di Bencana Sumatra, ILeague Tolak Tukar Kandang

Duka Semen Padang dan Persija di Bencana Sumatra, ILeague Tolak Tukar Kandang

Situasi Bencana di Sumatra Barat dan Dampak pada Kompetisi Sepak Bola

Bencana alam yang melanda Sumatra Barat tidak hanya menyebabkan duka bagi masyarakat, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk kompetisi sepak bola. I.League, otoritas kompetisi sepak bola Indonesia, menghadapi tantangan dalam menjaga kelancaran pertandingan meskipun situasi darurat masih berlangsung.

Semen Padang FC, salah satu klub peserta Super League, secara resmi mengajukan permohonan untuk menukar status pertandingan melawan Persija Jakarta menjadi laga tandang lebih dulu. Permintaan ini dilakukan karena kondisi Kota Padang dan Stadion H. Agus Salim masih terdampak parah akibat bencana. Namun, permohonan tersebut ditolak oleh I.League dan juga didukung oleh Persija Jakarta.

Permohonan dari Semen Padang disampaikan melalui surat tertanggal 6 Desember 2025 yang ditandatangani oleh Direktur Utama PT Kabau Sirah SP, Hermawan Ardiyanto, dan dikirim kepada Direktur Kompetisi I.League. Dalam surat tersebut, Semen Padang meminta perubahan status pertandingan menjadi laga tandang di kandang Persija Jakarta pada putaran pertama Super League 2025-2026, serta laga kandang di Stadion H. Agus Salim pada putaran kedua.

Permohonan ini disampaikan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi Kota Padang serta area sekitar Stadion Haji Agus Salim yang masih terdampak bencana alam. Kondisi pascabencana tersebut menyebabkan gangguan dalam kesiapan infrastruktur, keamanan, kenyamanan, serta kelayakan pelaksanaan pertandingan sesuai standar operasional yang ditetapkan oleh PT Liga Indonesia Baru dan PSSI.

Namun, surat itu dibalas oleh I.League pada 8 Desember 2025 dengan penolakan. Balasan I.League menunjukkan bahwa setelah melalui proses pertimbangan dan koordinasi dengan stakeholder terkait, permohonan yang dimaksud tidak dapat dikabulkan. Oleh karena itu, klub Semen Padang FC diminta untuk tetap melaksanakan pertandingan melawan Persija Jakarta pada tanggal 22 Desember 2025 di Stadion H. Agus Salim, Padang, sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Penolakan juga diberikan oleh Persija lewat surat mereka sendiri yang ditujukan pada I.League pada tanggal 9 Desember 2025. Persija berargumen tidak bisa menjadi tuan rumah laga melawan Semen Padang pada 22 Desember karena Jakarta International Stadium (JIS) belum siap dipakai. Sampai tanggal surat ini dikeluarkan, JIS masih dalam tahap pemeliharaan rumput sebagai bentuk persiapan agar laga kandang Persija selanjutnya dapat terselenggara secara optimal.

Selain itu, Persija juga menyatakan mereka telah "terusir" dari JIS karena sedang diperbaiki dalam dua dari tiga laga kandang terakhirnya. Mereka harus menggelar laga kandang melawan PSBS Biak pada 31 Oktober 2025 dan Persik Kediri pada 20 November 2025 di Stadion Manahan, Solo.

Korban Jiwa Bertambah Akibat Bencana

Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, korban tewas akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bertambah menjadi 1.053 jiwa per Selasa (16/12/2025). Data per tanggal 16 Desember 2025 menunjukkan total korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di tiga provinsi itu sebanyak 1.053 jiwa.

Muhari menyampaikan bahwa total korban meninggal dunia bertambah 23 jiwa dari hari sebelumnya. Di Aceh Tamiang ditemukan 17 korban tewas, di Aceh Utara ada 1 korban tewas, dan 5 korban tewas di Tapanuli Tengah. Secara akumulasi, terdapat 449 korban tewas berasal dari Aceh, 360 jiwa dari Sumatera Utara, dan 244 jiwa dari Sumatera Barat.

Sementara itu, 200 orang masih dinyatakan hilang akibat bencana di Sumatera. Korban hilang yang masih dalam proses pencarian hari ini berkurang 6 nama, menjadi 200 orang. Aceh 31, Sumut 79, dan Sumbar 90 jiwa. Pengungsi total 606.040 jiwa.

Komentar Pelatih Semen Padang

Pelatih Semen Padang, Dejan Antonic, mengungkapkan kekecewaannya atas situasi yang terjadi. Ia menyoroti pentingnya menjaga rasa kemanusiaan untuk melihat mana yang lebih penting antara hidup atau sepak bola. Antonic mengingatkan bahwa 10 kilometer dari lapangan tempat tim bertanding, banyak rumah rusak dan banyak orang meninggal dunia.

Ia juga menyampaikan bahwa saat melawan Persik, situasi lebih parah, dengan 2 sampai 3 pemain yang rumahnya sudah rusak tetapi tetap diwajibkan bermain. Antonic menegaskan bahwa kini para pemain lebih fokus pada keluarga daripada urusan sepak bola.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan