Dulu Botak Karena Stres, Erika Carlina Akui Anak Jadi Sumber Bahagia

Kehidupan Seorang Ibu yang Berubah Total

Menjadi seorang ibu adalah perjalanan yang penuh dengan perubahan, baik dari segi rutinitas harian maupun dari segi mental dan emosional. Erika, seorang ibu muda yang kini memiliki bayi berusia empat bulan, mengalami transformasi yang luar biasa dalam hidupnya. Dalam wawancara dengan media, ia berbagi pengalaman tentang bagaimana kehidupannya berubah setelah melahirkan, serta tantangan-tantangan yang ia hadapi.

Erika mengakui bahwa kehidupannya sekarang sangat berbeda dibanding sebelumnya. Peran sebagai ibu membuat fokusnya bergeser, bahkan saat ia masih harus menjalani pekerjaannya.

"Kesehariannya pasti berubah banget ya, jadi seorang ibu pasti beda lah. Kesehariannya support sama anak… walaupun kerja tetap fokusnya tetap ke anak," ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa aktivitasnya kini tidak bisa terlalu jauh dari rumah. Bayinya yang masih berusia empat bulan memaksa ia untuk selalu siaga. Terkadang ia membawa sang anak ketika bekerja, namun jika tidak memungkinkan, ia harus segera pulang setelah selesai bertugas.

"Sekarang kalau aktivitas enggak bisa jauh-jauh ya, karena baby masih 4 bulan. Kadang harus dibawa, kalau enggak dibawa paling cepat-cepat pulang," tambahnya.

Emosi yang Stabil dan Bahagia

Berbeda dari sebagian ibu baru yang mengalami baby blues atau mood swing setelah melahirkan, Erika justru merasa lebih bahagia. Ia bersyukur tidak mengalami gejolak emosional yang berat setelah melahirkan.

"Puji Tuhan enggak ada mood swing. Happy aja sih. Aku punya baby happy, senang, bahagia," katanya.

Menurut Erika, kepenatan dari pekerjaan justru hilang saat melihat buah hatinya.

"Kalau lagi ada stres di luar, capek kerja, pulang tuh capeknya hilang," sambungnya.

Pengalaman Masa Lalu dengan GAD dan Autoimun

Erika juga sempat menyinggung pengalaman masa lalunya ketika menghadapi dua kondisi sekaligus yaitu Generalized Anxiety Disorder (GAD) dan autoimun. Ia mengaku tidak memahami betul soal gangguan mental sebelum akhirnya mengalami sendiri.

Awalnya, Erika mendapati rambutnya rontok secara tidak wajar, bukan sekadar rontok biasa, tetapi membentuk patch botak di beberapa titik sekaligus.

"Rontoknya itu bukan satu-satu, tapi langsung botak di sekitaran ada empat titik… dan enggak ada pori-porinya," cerita Erika.

Keadaan itu membuatnya memeriksakan diri ke dokter spesialis. Namun setelah serangkaian pemeriksaan, ia justru dirujuk ke psikiater.

Erika bercerita bahwa kondisi autoimun dan stres yang tidak ia sadari saling berhubungan. Ia tidak merasa sedang stres pada saat itu, namun tubuhnya menunjukkan hal sebaliknya.

"Aku tuh katanya stresnya enggak dirasain… efeknya ke rambut," ungkapnya.

Dari situ, Erika belajar bahwa emosi yang tidak dikeluarkan bisa mengganggu kesehatan.

"Kalau pengen nangis, marah, itu harus dikeluarin. Jangan dipendam," tambahnya.

Pentingnya Memahami Kondisi Mental

Pengalaman itu membuka mata Erika tentang pentingnya memahami kondisi mental diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa mental illness bukan hal sepele dan bisa menimpa siapa saja.

Ia bahkan pernah mengunggah pengalaman lengkapnya di YouTube dengan judul “Ternyata Aku Sakit” untuk berbagi kesadaran kepada publik. Melalui pengalamannya, Erika berharap banyak orang lebih peka terhadap gejala stres, lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan, dan tidak ragu mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan.

Kini, dengan peran barunya sebagai ibu dan dengan kondisi mental yang lebih stabil, Erika merasa hidupnya lebih penuh warna. Kebahagiaan itu terutama datang dari kehadiran sang buah hati yang menjadi sumber energi positifnya setiap hari.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan