Dulu Pemilik Roti, Kini Wawan Sukses Jadi Bos Kerupuk di Bogor: Produksi 20 Ribu Bijik Per Hari

Dulu Pemilik Roti, Kini Wawan Sukses Jadi Bos Kerupuk di Bogor: Produksi 20 Ribu Bijik Per Hari

Sejarah dan Perkembangan Pabrik Kerupuk Nineung di Kota Bogor

Di tengah kebiasaan masyarakat yang sering memperhatikan tekstur renyah dan rasa gurih dari kerupuk, sebagian besar orang merasa bahwa makanan tidak akan lengkap tanpa adanya hidangan kerupuk. Di Kota Bogor, ada sebuah usaha rumahan yang telah konsisten menyediakan kerupuk bagi warga sekitar selama belasan tahun terakhir. Usaha tersebut bernama Pabrik Kerupuk Nineung, yang berlokasi di Kampung Pasir, Kecamatan Ciomas, Kota Bogor.

Pemilik Pabrik Kerupuk Nineung, Wawan Hermawan, awalnya tidak menjalankan usaha kerupuk. Sebelum menjadi pengusaha kerupuk, ia lebih dulu menjalani usaha roti. Namun, perubahan harga bahan baku membuat usaha rotinya semakin sulit bertahan. Dari situ, Wawan mencari peluang lain dan akhirnya menemukan kesempatan di bidang makanan ringan, seperti kerupuk.

“Dulunya itu pabrik roti, tapi karena bahan pokoknya semakin mahal, akhirnya saya coba buka usaha makanan ringan seperti kerupuk ini. Alhamdulillah banyak yang suka dan masih bertahan sampai sekarang,” ujar Wawan saat ditemui langsung di pabriknya.

Proses Produksi dan Jenis Kerupuk yang Disajikan

Pabrik Kerupuk Nineung tidak memproduksi kerupuk mentah sendiri. Bahan dasar kerupuk mentah dikirim langsung dari beberapa daerah, terutama dari Kota Ciamis, yang terkenal sebagai salah satu sentra kerupuk. Wawan dan karyawannya melakukan proses penggorengan, pengemasan, dan distribusi.

Jenis kerupuk yang dijual pun beragam, mulai dari kerupuk koin, kerupuk sidoarjo, hingga berbagai varian lainnya. “Di sini bahan kerupuk mentahnya beli, jadi kita hanya menggoreng dan mengemas saja,” kata Wawan menambahkan.

Pengembangan Usaha dan Peluang Kerja

Kini, Pabrik Kerupuk Nineung telah berkembang dan mempekerjakan 26 karyawan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga. Secara tidak langsung, Wawan membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Beberapa bekerja sebagai penggoreng kerupuk di pabrik, sebagian lainnya menjadi penjual.

Sistem kerja di pabrik ini menggunakan sistem shift sehingga pekerjaan lebih teratur dan bergantian. Dalam sehari, pabrik ini mampu menghasilkan sekitar 20.000 biji kerupuk. Harga satu biji kerupuk dibanderol Rp500. Jika sudah dikemas dalam satu bungkus berisi 10 kerupuk, harga jualnya menjadi Rp5.000.

Distribusi dan Omzet Bulanan

Kerupuk Nineung dipasok ke sejumlah pasar dan warung di wilayah Bogor. Selain itu, kerupuknya juga dikirim ke daerah lain seperti Ciawi, Parung, dan Leuwiliang. Dari usahanya ini, Wawan dapat meraih omzet rata-rata sekitar Rp10 juta per bulan.

Namun, seperti pelaku UMKM lainnya, Wawan juga menghadapi kendala dalam mengembangkan usahanya. Modal usaha merupakan tantangan terbesar, terutama karena sistem penitipan barang di warung tidak dibayar secara langsung.

“Kalau pelaku usaha kecil seperti saya, tantangannya ada di modal. Karena kalau kerupuk dititip di warung itu tidak langsung dibayar. Biasanya minggu depan baru bayar. Jadi harus punya modal mutar,” jelas Wawan.

Harapan Masa Depan

Ke depan, Wawan berharap dapat memiliki modal lebih besar agar bisa mengembangkan Pabrik Kerupuk Nineung. Ia ingin meningkatkan kapasitas produksi, menambah karyawan, serta memperluas jangkauan pemasaran.

Dengan konsistensi, kerja keras, dan kualitas produk yang tetap dijaga, Pabrik Kerupuk Nineung menjadi bukti bahwa UMKM lokal dapat terus bertahan dan berkembang di tengah persaingan usaha yang semakin ketat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan