
Impian yang Menjadi Kenyataan Setelah 17 Tahun Berjuang
Dulu, ketika kami berani menyampaikan impian hidup, orang-orang justru menganggap kami tidak waras karena kehidupan kami terasa sangat berat. Salah satu komentar yang masih melekat kuat di ingatan saya adalah:
“Ini laki bini sudah gila. Sebungkus nasi rames saja masih berutang, berani pula bermimpi mau ke luar negeri. Hambuanglah ngarai.”
Sindiran itu seperti sembilu yang ditorehkan perlahan ke lubuk hati terdalam. Bukan hanya menyakitkan, tetapi juga merendahkan harga diri sebagai manusia yang sedang berjuang bertahan hidup. Namun hari ini, justru kata-kata itu menjadi pengingat bagi kami agar tidak pernah lupa untuk bersyukur kepada Tuhan atas setiap langkah kehidupan yang telah kami lalui.
Pada masa itu, putra pertama kami baru berusia tiga tahun. Kehidupan kami jauh dari kata layak. Setiap hari adalah perjuangan, dan esok hari sering kali terasa lebih menakutkan daripada hari ini. Namun di tengah keterbatasan itulah, kami berani memelihara satu hal yang tidak bisa dirampas siapa pun: harapan dan mimpi.
Puji syukur ke hadirat Tuhan, tujuh belas tahun kemudian, kami berdua berdiri di sebuah aula wisuda di California. Dengan mata berkaca-kaca dan hati yang penuh rasa syukur, kami menghadiri wisuda putra pertama kami di California State University. Ia lulus sebagai Master of Computer Science dengan predikat Summa Cum Laude, dalam usia yang bahkan belum genap 21 tahun.
Bagi dunia, ini mungkin hanya sebuah kisah sukses akademik. Namun bagi kami, ini adalah bukti nyata bahwa Tuhan tidak pernah menutup jalan bagi mereka yang mau berjalan, meski tertatih.
Kami adalah saksi hidup bahwa bagi Tuhan, nothing is impossible bagi orang yang berani bermimpi besar, siap bekerja keras dengan cerdas, dan tetap bersandar penuh pada kebesaran-Nya.
Karena itu, izinkan saya menuliskan pesan sederhana ini, bukan sebagai slogan kosong, melainkan sebagai kesaksian hidup:
- Dare to dream.
- Do it.
- Believe it.
- And you’ll get it.
Tulisan ini bukan untuk pamer diri. Sama sekali bukan. Tulisan ini saya persembahkan sebagai penguat hati bagi sahabat-sahabat yang hari ini masih berjuang, yang mungkin sedang ditertawakan karena bermimpi terlalu tinggi, yang mungkin sedang diremehkan karena hidup terasa begitu berat.
Jika hari ini hidup masih susah, jangan buru-buru menyerah. Jangan matikan mimpi hanya karena kenyataan belum berpihak. Bisa jadi, Tuhan sedang membentuk diri kita melalui proses yang tidak mudah, agar kelak mampu berdiri tegak dan berkata: “Aku pernah jatuh, tetapi tidak pernah berhenti berharap.”
Tetaplah bermimpi. Tetaplah bekerja. Tetaplah percaya.
Karena waktu Tuhan selalu tepat, dan hasil-Nya selalu indah bagi mereka yang setia berjuang.
Renungan di Pagi Hari
Tjiptadinata Effendi
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar