Kecemasan Warga Nanggalo Pasca Banjir Bandang
Banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu telah mengubah alur sungai dan mengancam permukiman warga di kawasan Tabing Kampung Koto, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat. Perubahan alur sungai tersebut menyebabkan tanah di bawah rumah-rumah warga tergerus, sehingga sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah.
Rumah-Rumah Terancam Hanyut
Belasan rumah warga di kawasan tersebut kini terancam hanyut akibat derasnya aliran Sungai Batang Kuranji. Sejak peristiwa banjir bandang, aliran sungai terus menggerus tepian permukiman, menciptakan rasa kecemasan bagi para penghuninya. Salah satu warga, Juli, mengatakan bahwa sejak peristiwa itu hingga kini sekitar empat unit rumah telah roboh dan hanyut terbawa arus sungai.
Rumah-rumah tersebut sebelumnya berdiri cukup jauh dari bibir sungai. Namun, setelah banjir bandang, alirannya berubah mendekat ke sini dan menggerus tanah di bawah rumah. "Dulunya aliran sungai itu jauh dari rumah kami. Setelah banjir bandang, alirannya berubah mendekat ke sini dan menggerus tanah di bawah rumah. Sejak kejadian itu, sekitar empat rumah sudah hanyut," ujar Juli saat ditemui.

Alur Sungai Berubah dan Struktur Tanah Tidak Stabil
Pantauan di lokasi menunjukkan sedikitnya dua unit rumah berada dalam kondisi paling mengkhawatirkan. Jarak antara rumah dengan bibir sungai hanya sekitar satu hingga tiga meter. Struktur tanah di bawah bangunan tampak tidak rata dan terus terkikis oleh arus sungai. Satu rumah diketahui telah dikosongkan oleh pemiliknya, sementara satu rumah lainnya masih dihuni oleh satu keluarga meski berada dalam kondisi rawan.
Warga Mulai Kosongkan Rumah
Rumah milik Juli yang sebelumnya dihuni oleh orang tuanya kini telah dikosongkan. Seluruh barang-barang berharga sudah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Meski demikian, Juli mengaku masih terus memantau kondisi rumahnya dari kejauhan. "Sayang rasanya, dari dulu kami tinggal di sini. Sekarang rumah sudah terancam seperti ini. Kami takut rumah ini tiba-tiba rubuh dan hanyut," katanya.
Ia pun berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan rumah warga dari ancaman abrasi sungai. "Kami sangat memohon bantuan pemerintah. Kalau belum bisa membangun pondasi penahan, setidaknya aliran sungainya bisa diarahkan agar tidak terus menggerus ke sini," tambahnya.
Ada yang Terpaksa Bertahan
Tidak semua warga bisa pergi. Onang memilih bertahan di rumahnya yang berjarak sekitar tiga meter dari bibir Sungai Batang Kuranji, Padang. Bukan karena merasa aman, melainkan karena tak ada pilihan lain bagi keluarganya. "Mau bagaimana lagi, kami terpaksa bertahan di sini karena tidak ada tempat lain," ujarnya.
Ancaman banjir membuat rasa tenang sulit datang. Suara deras aliran sungai kerap mengganggu waktu istirahat, terutama ketika hujan turun. Dalam kondisi tertentu, Onang memilih mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman, menunggu air kembali surut. Ia mengingat, sejak era 1990-an, pemerintah pernah menyampaikan rencana pengendalian banjir di kawasan tersebut. Namun hingga hari ini, rencana itu belum terwujud.
Air Sungai Meluap dan Pengungsian Sementara
Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji meluap menyebabkan ratusan warga di Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), terpaksa mengungsi akibat banjir susulan. Pantauan menunjukkan hujan lebat masih mengguyur kawasan tersebut. Genangan air setinggi pinggang orang dewasa masih merendam pemukiman warga.
Perumahan Griya Kubu Tama diketahui berada tidak jauh dari aliran Sungai Batang Kuranji, dengan jarak sekitar 100 hingga 200 meter. Sejumlah warga tampak mengungsi ke tempat yang lebih aman sambil memantau kondisi rumah mereka dari pos ronda yang posisinya lebih tinggi dari kawasan perumahan.
Salah seorang warga, Nelmawati (40), mengatakan hujan mulai turun sejak Kamis (1/1/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Dua jam kemudian, air mulai masuk ke kawasan perumahan dan terus meningkat hingga Jumat pagi. "Sejak tadi malam setelah salat Isya hujan mulai lebat. Sekitar pukul 22.00 WIB air mulai naik. Sampai sekarang hujan belum reda dan air juga terus bertambah," ujarnya.
Menurut Nelmawati, sedikitnya lebih dari 40 rumah di perumahan tersebut terdampak banjir. Namun, warga telah melakukan evakuasi mandiri lebih awal karena banjir kerap berulang terjadi di kawasan itu. "Alhamdulillah semua warga aman. Karena banjir sudah sering terjadi, masyarakat sudah stand by. Begitu air naik, langsung mengungsi ke tempat aman," katanya.
Ia menambahkan, sebagian warga sebelumnya sempat kembali ke rumah setelah membersihkan sisa banjir. Namun, hujan lebat yang kembali turun memaksa mereka mengungsi lagi. Nelmawati juga menjelaskan, pasca banjir bandang pada akhir November 2025 lalu, aliran Sungai Batang Kuranji dipenuhi lumpur dan sedimen. Kondisi tersebut menyebabkan sungai mudah meluap meski hujan hanya turun selama beberapa jam. Selain itu, posisi perumahan yang lebih rendah dan hampir sejajar dengan permukaan sungai turut memperparah dampak banjir. Kiriman air dari drainase di kawasan yang lebih tinggi juga mengalir ke permukiman warga. "Posisi perumahan ini memang lebih rendah. Air dari bagian atas semuanya mengalir ke sini, ditambah posisi sungai hampir sama tinggi dengan perumahan, jadi banjir gampang terjadi," jelasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar