Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Tengah pada Triwulan III 2025
Pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Tengah (Kalteng) pada triwulan III tahun 2025 tercatat sebesar 5,36 persen year on year (yoy) atau tahun ke tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,04 persen (yoy), serta rata-rata provinsi di Regional Kalimantan yang berada di kisaran 4,70 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalteng, Yuliansah Andrias, menyampaikan data tersebut saat memaparkan kinerja akhir tahun 2025, Rabu (31/12/2025). Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Kalteng berada di atas rata-rata nasional dan regional.
Selain itu, proyeksi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalteng masih diprakirakan meningkat antara 5,25 persen hingga 6,00 persen (yoy). Penyebab peningkatan ini, menurut Andrias, adalah adanya pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta meningkatnya konsumsi rumah tangga.
Sebaran PDRB Berdasarkan Lapangan Usaha
Berdasarkan sektor lapangan usaha, sektor pertanian masih menjadi dominasi dalam distribusi PDRB Kalteng pada tahun 2025, dengan kontribusi sebesar 23,37 persen. Sementara itu, sektor industri pengolahan menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar, yaitu sebesar 13,33 persen (yoy).
Andrias menjelaskan bahwa penopang utama pertumbuhan ekonomi Kalteng adalah sektor pertanian, khususnya komoditas minyak kelapa sawit. Selain itu, industri pengolahan dan perdagangan internasional juga turut berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia menegaskan bahwa sektor-sektor yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di Kalteng harus terus didorong agar angka pertumbuhan ekonomi terus meningkat. Dengan upaya yang tepat, Andrias yakin bahwa Kalteng mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional.
Faktor Risiko dan Catatan Penting
Meski ada progres positif, Andrias menyoroti beberapa hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Salah satunya adalah sektor pertambangan yang masih bergantung pada permintaan dari negara mitra. Selain itu, komoditas tanaman sawit yang sedang dalam proses tanam ulang berpotensi menjadi faktor risiko bagi pertumbuhan ekonomi Kalteng.
Selain itu, inflasi juga menjadi perhatian serius. Pada tahun 2025, angka inflasi di Kalteng tercatat sebesar 2,56 persen. Angka ini masih berada di bawah target nasional sebesar 2,72 persen. Namun, potensi kenaikan inflasi tetap ada karena faktor cuaca dan kenaikan harga BBM non-subsidi yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak global.
Upaya untuk Menjaga Stabilitas Harga
Andrias menambahkan bahwa stabilitas harga di Kalteng dapat terus terjaga jika ada upaya bersama dari lintas instansi. Ia optimis bahwa dengan koordinasi yang baik, pemerintah daerah dan instansi terkait dapat mengantisipasi berbagai risiko yang muncul.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar