Pertumbuhan Ekspor China ke Asia Tenggara
Ekspor China ke kawasan Asia Tenggara mengalami pertumbuhan yang signifikan, termasuk di Indonesia. Kenaikan ini terjadi setelah perang dagang yang digencarkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memaksa Beijing untuk memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga di kawasan.
Data dari enam ekonomi terbesar Asia Tenggara—Indonesia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Malaysia—menunjukkan bahwa ekspor China meningkat sebesar 23,5 persen dari 330 miliar dolar AS menjadi 407 miliar dolar AS pada sembilan bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data tersebut dikumpulkan oleh ISI Markets untuk harian Financial Times.
Menurut laporan Aljazeera, ekspor China ke enam negara itu juga telah berlipat ganda dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, surplus perdagangan China dengan kawasan mencapai rekor tertinggi tahun ini.
Kepala Ekonom Lowy Institute Roland Rajah menyatakan bahwa China sering dikritik karena dianggap membanjiri pasar Asia Tenggara dengan barang murah yang mengancam produsen lokal. Namun, beberapa tahun terakhir kondisi ini semakin diperparah oleh lonjakan tarif Amerika Serikat terhadap produk asal Negeri Tirai Bambu.
Beberapa ekonom menilai gelombang ekspor terbaru ini kemungkinan terkait upaya menghindari tarif tinggi AS terhadap barang produksi China, yang kini mencapai sekitar 47 persen. Sebagai perbandingan, tarif banyak negara Asia Tenggara berada di kisaran 19 persen.
Pemerintah AS memperingatkan perusahaan yang mencoba menyembunyikan asal-usul produk China dengan mengalihkan jalur pengiriman melalui negara ketiga demi menghindari tarif. Washington menegaskan barang semacam itu dapat dikenai biaya transshipment hingga 40 persen. Meski begitu, belum jelas bagaimana aturan itu diterapkan di lapangan.
Dalam makalah penelitiannya, Rajah memperkirakan ekspor China ke Asia Tenggara melonjak hingga 30 persen pada September lalu dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menyebut gelombang terbaru ini berbeda dari lonjakan-lonjakan sebelumnya.
“Meski mereka menekan ruang para eksportir lain di kawasan, banyak dari barang yang dikirim China justru berkontribusi terhadap pertumbuhan,” katanya.
Ia menambahkan penelitiannya menunjukkan hingga 60 persen ekspor China tahun ini berupa komponen yang dipakai industri manufaktur Asia Tenggara sebelum dikirim kembali ke pasar global.
Untuk barang konsumsi, China semakin mendominasi sebagai pemasok utama ke Asia Tenggara dengan merebut pangsa pasar dari negara lain. Ekonom Doris Liu, mantan peneliti di Institute for Democracy and Economic Affairs Malaysia, menilai surplus produksi China, khususnya barang konsumsi murah memerlukan pasar baru. Asia Tenggara, kata dia, menjadi tujuan paling logis karena faktor kedekatan geografis, logistik, dan skala pasar.
Perubahan Pasar Otomotif
Salah satu sektor yang paling mencolok adalah otomotif. Konsumen Asia Tenggara dalam jumlah besar berpindah dari mobil Jepang seperti Toyota, Honda, dan Nissan, ke kendaraan listrik berharga terjangkau buatan produsen China seperti BYD.
Menurut PricewaterhouseCoopers, pangsa pasar produsen Jepang turun menjadi 62 persen dari total penjualan mobil di enam pasar terbesar Asia Tenggara pada paruh pertama 2025. Angka ini turun dari rata-rata 77 persen pada dekade pertama abad ke-21.
China meningkatkan pangsa pasarnya dari level sangat kecil menjadi lebih dari 5 persen dari total penjualan tahunan 3,3 juta unit mobil di kawasan.

Mobil BYD Atto 1 dipamerkan pada acara Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (23/7/2025). - (aiotrade/Thoudy Badai)
Lonjakan Impor Mobil China
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa impor Indonesia secara kumulatif mencapai 198,16 miliar dolar AS pada Januari-Oktober 2025. Angka itu tumbuh 2,19 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Berdasarkan negara asal, impor dari China mencapai 70,19 miliar dolar AS atau naik 19,81 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Secara detail, komoditas yang menjadi perhatian diimpor dari China pada periode tersebut adalah kendaraan dan bagiannya. Impor kelompok barang tersebut mencapai 3,94 miliar dolar AS dengan pertumbuhan menembus 50,27 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
China juga masih menjadi penguasa pangsa impor nonmigas Indonesia selama Januari-Oktober 2025 yakni mencapai 40,90 persen.
Surplus Dagang China yang Meningkat
Surplus dagang tahunan China untuk pertama kalinya berhasil menembus angka 1 triliun dolar AS atau setara Rp16.692 triliun (kurs Rp16.692 per dolar AS). Hal ini terjadi meski ada penurunan tajam ekspor ke Amerika Serikat akibat perang tarif. Ekspor China berhasil merembet ke wilayah pasar lainnya termasuk di antaranya pasar Indonesia.
Menurut laporan Aljazeera, Administrasi Umum Kepabeanan China merilis data pada Senin (8/12/2025) yang menunjukkan surplus perdagangan Negeri Tirai Bambu mencapai 1,08 triliun dolar AS dalam 11 bulan pertama tahun ini. Pencapaian itu didorong kenaikan ekspor 5,9 persen secara tahunan pada November, membalikkan penurunan 1,1 persen pada bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi meski ekspor ke AS terus merosot tajam. Ekspor China ke pasar Amerika turun 28,6 persen menjadi 33,8 miliar dolar AS pada November.
Beijing dan Washington telah terjebak dalam perang dagang berkepanjangan dengan tarif tinggi sepanjang pemerintahan kedua Presiden Donald Trump. Kondisi itu memaksa eksportir China mengalihkan pasar mereka, meskipun kedua pemimpin sepakat melakukan jeda ketegangan saat bertemu di Korea Selatan pada Oktober lalu.
“Surplus perdagangan China tahun ini sudah melampaui capaian tahun lalu, dan kami memperkirakan akan semakin melebar tahun depan,” tulis Zichun Huang dari Capital Economics dalam sebuah catatan. Menurutnya, pelemahan ekspor ke AS “lebih dari terimbangi oleh peningkatan pengiriman ke pasar lain”.
Huang menyebut ekspor China kemungkinan tetap kuat berkat pengalihan jalur perdagangan dan meningkatnya daya saing harga produk China, seiring deflasi yang menekan nilai tukar efektif riil negara tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar