Emas Tetap Aman, Saham dan Obligasi Juga Menarik 2026


Harga emas diperkirakan akan tetap stabil sepanjang tahun 2026, mengingat ketidakstabilan kondisi ekonomi dan geopolitik global yang masih terus berlangsung. Hal ini membuat emas tetap menjadi pilihan utama bagi investor sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun, di sisi lain, para investor juga mulai memperhatikan instrumen investasi lain seperti obligasi, saham, hingga kripto.

Andy Nugroho, perencana keuangan dari Advisors Alliance Group, menyatakan bahwa emas memiliki peluang untuk terus menguat pada tahun depan. Menurutnya, situasi geopolitik dan ekonomi yang belum stabil akan terus mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman.

"Emas berpotensi terus menguat karena situasi geopolitik dan ekonomi global yang masih tidak menentu," ujar Andy.

Menurut Andy, fluktuasi harga emas selama tahun ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman.

"Masih belum stabilnya kondisi ekonomi dan geopolitik global membuat para investor cenderung memilih aset safe haven seperti emas," jelasnya.

Meski demikian, Andy menegaskan bahwa belum ada proyeksi harga emas yang benar-benar ekstrem dalam waktu dekat. Pergerakan harga emas masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dunia.

"Belum ada prediksi signifikan, namun jika kondisi geopolitik membaik, misalnya Rusia dan Ukraina menuju arah damai, maka harga emas bisa turun. Sebaliknya, jika kondisi memburuk, harga emas akan semakin naik," ujarnya.

Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global pada 2026, Andy menilai emas tetap layak dipertahankan sebagai pilihan investasi, khususnya untuk jangka panjang.

"Namun, meskipun tergantung pada situasi global, berinvestasi pada emas untuk jangka panjang tetap merupakan salah satu alternatif yang menarik. Jadi, bagaimanapun kondisinya nanti, emas bisa menjadi pilihan investasi yang menarik," jelasnya.

Terkait posisi emas di tengah perkembangan teknologi dan semakin beragamnya instrumen investasi, Andy menilai semua kembali kepada karakter investor.

Menurutnya, kemajuan teknologi telah membuat akses ke berbagai instrumen investasi semakin mudah. Mulai dari saham, kripto, reksa dana, emas, hingga deposito, semuanya tersedia dengan lebih cepat dan efisien.

Selain emas, Andy memprediksi obligasi ritel negara akan menjadi salah satu pilihan favorit masyarakat pada 2026, terutama jika tren penurunan suku bunga berlanjut.

"Selain itu, pasar saham juga menarik karena tercermin dari kenaikan IHSG yang mencapai 21 persen YTD 2025, sehingga berpotensi semakin naik lagi di tahun 2026," ujarnya.

Menurut Andy, dengan dukungan teknologi, pasar saham dan pasar modal Tanah Air berpotensi berkembang lebih pesat dibandingkan instrumen tradisional seperti properti atau emas.


Sementara itu, Eddy Junarsin, ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa harga emas pada dasarnya ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran global. Ketidakpastian ekonomi dan politik dunia menjadi faktor kunci yang mendorong aliran dana ke emas.

"Harga emas sebenarnya tidak hanya di Indonesia, tapi berlaku global. Harga emas tentunya ditentukan oleh demand and supply mechanism," ujar Eddy.

Ia menjelaskan, ketika kondisi global tidak menentu, investor cenderung memindahkan dananya dari saham dan obligasi ke aset aman seperti emas dan surat berharga pemerintah.

"Akibatnya, yield (suku bunga) obligasi akan naik, harga obligasi turun, harga saham anjlok, harga emas meroket," jelasnya.

Sebaliknya, saat kondisi ekonomi dan politik global membaik, dana investor biasanya keluar dari emas dan masuk ke aset berisiko.

"Oleh karenanya, yield obligasi akan turun, harga obligasi naik, harga saham naik, harga emas turun," kata Eddy.

Melihat kondisi saat ini, Eddy menilai peluang harga emas untuk terus naik masih terbuka. Namun, dia juga melihat instrumen pasar modal di Indonesia tetap memiliki prospek positif.

"Dilihat dari kondisi zaman, kemungkinan besar harga emas akan terus naik tahun ini. Instrumen pasar modal seperti obligasi dan saham juga akan terus naik di Indonesia, namun kemungkinan bukan karena gairah investasi masyarakat umum, namun lebih ke arah masuknya uang oleh para pengusaha super kaya," ujarnya.

Selain itu, Eddy menambahkan bahwa aset kripto juga berpotensi semakin diminati seiring perkembangan teknologi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan