Empat Pekerja Ditemukan Tewas di Longsoran Cisempur


Pada senja yang semakin gelap, harapan terakhir akhirnya sirna di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Di bawah cahaya lampu darurat dan tangan-tangan para penyelamat yang kelelahan, satu per satu jenazah pekerja konstruksi ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Tragedi kecelakaan kerja yang dipicu oleh longsoran tanah ini merenggut empat nyawa pada Jumat (2/1/2025).

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Bandung, Muhammad Adip, memastikan bahwa seluruh korban telah ditemukan sekitar pukul 19.00 WIB. Dengan suara berat, ia menyampaikan bahwa pencarian resmi dihentikan setelah korban terakhir berhasil dievakuasi.

“Korban terakhir ditemukan sekitar pukul 19.00 WIB. Total korban meninggal dunia empat orang. Dipastikan tidak ada lagi korban yang tertimbun dan proses evakuasi telah selesai,”

ujarnya kepada awak media di lokasi kejadian.

Proses evakuasi berlangsung dalam kondisi yang sangat sulit. Tanpa alat berat, para petugas harus mengandalkan tenaga manual demi menghindari kemungkinan longsoran susulan. Tanah yang labil dan material setinggi sekitar tiga meter membuat setiap langkah menjadi risiko keselamatan.

“Evakuasi dilakukan secara manual. Tidak ada alat berat yang diturunkan karena kondisi lokasi yang tidak memungkinkan. Keselamatan petugas menjadi prioritas utama,”

kata Adip.

Di tengah rasa duka, dua warga Desa Cisempur, Dian (41) dan Ahmid (71), berhasil selamat dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Padjadjaran untuk mendapatkan perawatan medis. Seorang pekerja lainnya, Dahlan (42), dilaporkan selamat karena berada di lokasi saat kejadian, sementara satu pekerja lain berhasil lolos dari timbunan longsor.

Namun tidak semua seberuntung itu. Empat pekerja harus meregang nyawa di lokasi yang semula menjadi tempat mereka menggantungkan harapan. Mereka adalah Ivan dan Ujang, warga Rancaekek, Kabupaten Bandung; Ade Hilir dari Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung; serta Heri, warga Karasak, Kabupaten Sumedang.

Hampir 200 personel gabungan dari berbagai unsur dikerahkan untuk pencarian dan evakuasi. Mereka disebar di titik utama longsoran dan area bawah untuk pengamanan, bekerja dalam diam yang sarat ketegangan dan doa.

Di balik tragedi ini, muncul pertanyaan besar soal keselamatan kerja. Polres Sumedang kini tengah menyelidiki dugaan kelalaian dalam aktivitas proyek tersebut. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sumedang, AKP Tanwin Nopiansah, mengatakan penyelidikan difokuskan pada kronologi kejadian dan aktivitas kerja sebelum longsor terjadi.

“Kami sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui apakah terdapat unsur kelalaian kerja atau faktor lain. Proses ini akan kami lakukan secara mendalam,”

ujarnya, Jumat (2/1/2026).

Sebanyak sembilan saksi telah diperiksa, terdiri dari mandor, pekerja yang selamat, serta pihak-pihak yang berkaitan dengan proyek. Lokasi tersebut diketahui direncanakan sebagai area pembangunan fasilitas lapangan sepak bola mini (mini soccer).

Terkait kemungkinan sanksi pidana atau bentuk pertanggungjawaban lainnya, polisi menyatakan masih menunggu hasil penyelidikan menyeluruh.

“Untuk sanksi atau hukuman, kami masih dalam tahap penyelidikan. Perkembangannya akan kami sampaikan kemudian,”

kata Tanwin.

Kini, Cisempur bukan hanya menyisakan gundukan tanah dan alat kerja yang terdiam, tetapi juga duka mendalam bagi keluarga korban. Sebuah proyek yang semula menjanjikan ruang bermain, berubah menjadi saksi bisu hilangnya empat nyawa pencari nafkah, pengingat pahit bahwa kelalaian sekecil apa pun dapat berujung pada tragedi yang tak tergantikan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan