Energi Langit dari Pintu Silaturahmi

Perjalanan Kecil yang Membawa Pengaruh Besar

Pagi ini, langkah kaki membawa saya pada sebuah perjalanan kecil yang ternyata berdampak besar bagi jiwa. Bukan perjalanan bisnis, bukan pula liburan mewah. Ini hanyalah sebuah perjalanan napak tilas, sebuah silaturahmi sederhana menyusuri lorong waktu ke masa lalu. Menemui wajah-wajah sepuh yang pernah menjadi pilar kokoh dalam fase kehidupan saya sebelumnya.

Seringkali kita meremehkan kekuatan dari sebuah kunjungan. Padahal, bagi saya pribadi, silaturahmi bukan sekadar tradisi lisan atau basa-basi sosial. Ia adalah mekanisme penyembuhan (healing) yang paling murah namun paling manjur.

Bertemu Sang Legenda Hidup

Pemberhentian pertama saya adalah kediaman Bapak Iskandar. Di usia beliau yang kini mendekati angka 90 tahun, ketajaman ingatan beliau sungguh membuat saya takjub. Beliau adalah mantan anggota BIN (Badan Intelijen Negara), seorang tokoh masyarakat, dan bagi saya, beliau adalah ayah sekaligus guru.

Ada rasa haru yang membuncah ketika beliau masih mengingat nama saya dengan jelas. Bahkan, sempat berkelakar menyebut saya sebagai orang yang "populer" di lingkungan Darussalam. Mendengar suara beliau, menatap kerutan di wajahnya yang menyimpan ribuan pengalaman, rasanya seperti sedang membaca buku sejarah yang hidup.

Tidak jauh dari sana, saya juga menemui Bapak Leo. Usianya kini 81 tahun. Beliau adalah mantan pelaut tangguh yang kini menghabiskan masa tuanya di perumahan yang sama. Pertemuan dengan Pak Leo menyeret ingatan saya mundur ke belakang, ke masa-masa di mana saya masih menjadi pemuda yang "lapar" akan bimbingan---dan harfiahnya, lapar akan makanan.

Saya teringat bagaimana dulu Pak Leo sering memasakkan makanan untuk kami. Saya, dan kawan-kawan seperjuangan, seringkali mengambil jatah makan pekanan dari dapur beliau. Obrolan kami pagi ini begitu hangat, sehangat masakan beliau di masa lalu. Diskusi panjang lebar mengalir begitu saja, membuktikan bahwa perbedaan usia puluhan tahun bukanlah sekat untuk frekuensi hati yang sama.

Dari Marbot Menjadi Manusia

Mengunjungi mereka sama artinya dengan memutar ulang film dokumenter hidup saya sendiri. Di lingkungan inilah, di bawah bimbingan para pengurus masjid dan tokoh-tokoh sepuh ini, karakter saya ditempa. Saya terkenang masa-masa awal menjadi marbot masjid. Dari sekadar membersihkan lantai, saya didorong untuk belajar menjadi imam, memberanikan diri mengajar di TPA, hingga akhirnya dipercaya naik mimbar untuk menyampaikan Khotbah Jumat. Itu bukan proses yang instan, dan itu semua terjadi karena tangan dingin orang-orang tua ini yang memberi ruang bagi anak muda untuk tumbuh.

Dan Alhamdulillah, keberkahan lingkungan tersebut terbukti nyata. Jika saya melihat kawan-kawan "alumni" lepasan dari didikan masjid dan lingkungan Darussalam ini, mereka kini telah menyebar menjadi orang-orang hebat di bidangnya. Ada diantara kami yang menjadi pengusaha sukses, pemilik travel haji dan umrah, pendakwah kondang, dosen, penulis, anggota DPR, hingga abdi negara (PNS). Kami semua berhutang rasa pada lingkungan yang kondusif dan para orang tua yang peduli.

Energi Baru untuk Langkah Baru

Namun, poin terpenting dari catatan pagi ini bukanlah tentang nostalgia semata. Saya menyadari satu hal: Silaturahmi melahirkan energi baru. Ketika kita sedang merasa terpuruk, entah karena masalah pekerjaan yang menumpuk, bisnis yang sedang lesu, atau dinamika keluarga yang rumit, datanglah kepada orang-orang saleh, datanglah kepada orang tua.

Ada transfer energi positif yang tidak kasat mata saat kita menjabat tangan mereka. Silaturahmi, bagi saya, adalah cara untuk menyambung tali yang mungkin sempat kendor, untuk kemudian merajut langkah yang baru. Ia menyehatkan segalanya---menyehatkan usia, menyehatkan tubuh, dan yang paling vital, menyehatkan jiwa.

Pak Iskandar, dengan ketegasan prinsipnya, menyampaikan pesan yang menancap kuat di hati saya pagi ini: "Silaturahmi itu sebagian dari Iman." Ujar beliau. Kalimat itu sederhana, tapi berat maknanya. Orang yang senantiasa menjaga silaturahmi, insya Allah, jalannya akan dimudahkan menuju surga Allah, berkumpul bersama para Aulia dan Rasulullah. Lagi dan lagi beliau menegaskan arti penting silaturahmi.

Mungkin tulisan ini terdengar seperti catatan harian biasa bagi sebagian orang. Namun, saya merasa perlu menyebarkannya. Bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia yang menuntut kita berlari kencang, kadang yang kita butuhkan hanyalah berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan menyapa mereka yang pernah berjasa dalam hidup kita.

Percayalah, silaturahmi itu ajaib. Ia membuka pintu rezeki, pintu kesehatan, dan pintu hati yang mungkin selama ini tertutup rapat. Bahkan menguatkan kita saat berada di titik terandah sekalipun dalam hidup.

Salam takzim untuk para guru kehidupan. Hormat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan