Evia sempat kirim live location ke grup WA, sebelum masuk mobil dosen Danny

Evia sempat kirim live location ke grup WA, sebelum masuk mobil dosen Danny
Ringkasan Berita:
  • Mahasiswi Unima Evia Maria Mangolo (21) ditemukan tewas tak wajar di indekosnya di Tomohon, 30 Desember 2025.
  • Sebelum meninggal, Evia sempat bertemu dosen Danny A Masinambow di mobil kampus dan mengirim live location ke teman.
  • Evia menulis surat mengaku dipaksa memijat dan dicium, hingga mengalami trauma.
  • Awalnya tak diautopsi karena ditolak keluarga, namun kemudian disetujui setelah ditemukan lebam.
  • Kasus masih diselidiki, dosen diperiksa kepolisian.

nurulamin.pro, Tomohon- Terungkap, sebelum Evia Maria Mangolo (21) ditemukan tewas, mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima) itu sempat bertemu dengan dosen Danny A Masinambow.

Pertemuan dengan dosen Danny A Masinambow itu terjadi di dalam mobil sang dosen di halaman parkir kampus.

Sebelum Evia Maria masuk ke dalam mobil dosen Danny A Masinambow, ia masih sempat mengirimkan live location ke grup WA yang berisi teman-temannya.

Evia Maria ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar di kamar indekosnya di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, pada Selasa (30/12/2025).

Kota Tomohon, Sulawesi Utara adalah kota di Provinsi Sulawesi Utara yang berada di wilayah pegunungan, sekitar 23 km dari Kota Manado.

Tomohon dikenal berudara sejuk, dikelilingi gunung berapi seperti Gunung Lokon dan Mahawu, serta terkenal sebagai kota bunga dan destinasi wisata alam maupun budaya.

Dikutip nurulamin.prodari TribunnewsBogor.com, pertemuan Evia dengan dosen Danny, dituangkannya dalam sepucuk surat.

Kejadian terjadi pada 12 Desember 2025, Danny mengirim chat ke Evia menanyakan soal urut atau pijat.

"Beliau bertanya kepada saya kalau saya bisa urut ke dia, saya jawab, 'Maria tidak tau ba urut'. Mner bilang mener capek sekali, dalam pikiran saya itu bukan hak saya untuk melayani dia seperti itu," tulisnya.

Sebelumnya sudah ada percakapan di chat tentang hal serupa.

Dua teman Evia sudah melarangnya untuk menemui Danny.

"Tapi Danny sudah mengalihkan pembicaraan menyangkut rekapan nilai yang sebenarnya sudah saya selesaikan. Tapi karena saya pikir ada yang akan diubah, saya berpikir untuk pergi ke Danny di depan parkir mobil kampus," katanya.

Pukul 14.20 Evia mengirimkan live location ke grup WA yang berisikan temannya.

Sesampainya di lokasi, Evia Maria Mangolo langsung disuruh masuk ke dalam mobil.

"Saya pun naik dan saya bertanya kepada beliau bahwa saya ke sini mau ngapai ada yang mau diubah nilainya? Terus beliau hanya bilang mner capek sekali," katanya.

Evia meminta teman-temannya untuk terus memantau.

Lama kelamaan, Danny menurunkan posisi tempat duduk menjadi berbaring.

Di situlah ia mulai memaksa Evia untuk memijat tubuhnya.

Bahkan Danny lancang menarik pipi Evia untuk mencium.

"Tiba-tiba beliau sudah menarik pipi untuk diciumnya. Posisi tangan kiri saya pakai untuk menutup mulut saya dan tangan kanan saya mendorong mner," katanya.

Sayangnya bukti chat di tanggal tersebut sudah hilang.

"Karena chatnya pakai batas waktu," katanya.

Atas tindakan dosen UNIMA Danny A Masinambow, Evia Maria Mangolo mengalami trauma mendalam.

"Trauma dan ketakutan. Saya takut bila bertemu maer Danny. Saya malu jika ada mahasiswa yang melihat saya naik di mobilnya akan jadi pembicaraan. Saya tertekan dengan masalah tersebut," katanya.

Kepala Humas Unima Titof Tulaka mengatakan Danny sudah diperiksaan kampus dan kepolisian.

"Sudah diperiksa. Oknum tersebut langsung menuju ke polisi untuk pemeriksaan," katanya.

Kapolsek Tomohon Tengah Iptu Stenly Tawalujan mengatakan justru mengatakan tidak memeriksa dosen Danny.

"Laporan tidak masuk ke kami. Dia diperiksa ke Polda Sulut," katanya.

Sempat Tak Dilakukan Autopsi

Di sisi lain, awalnya Evia diduga mengalami depresi lalu mengakhiri hidup.

Kapolsek Tomohon Tengah Iptu Stenly Tawalujan mengatakan dari hasil pemeriksaan sementara tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh Evia.

"Tidak ditemukan tanda kekerasan," katanya.

Ia mengatakan polisi tidak bisa melakukan otopsi karena pihak keluarga menolak.

Namun begitu keluarga justru menemukan kejanggalan.

Tante Evia, Ketsia mengatakan terdapat banyak luka lebam di bagian kakinya.

"Saat itulah ada tanda biru, serta tanda seperti luka," katanya.

Oleh karenanya keluarga sepakat untuk melakukan otopsi.

"Lantas diputuskan untuk dilakukan otopsi," katanya.

Ditambah lagi ditemukan pula surat tulisan tangan Evia Maria Mangolo.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan