Fahmi, Mahasiswa Double Degree UIII-SOAS Jadi Imam Masjid London

Latar Belakang dan Proses Pemilihan

Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi menjadi kandidat terpilih sebagai Imam Masjid di Indonesian Islamic Centre London. Dari ratusan pelamar dengan kompetensi yang menawan, namanya muncul sebagai pemenang. Pendidikan pesantren selama 13 tahun serta studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dengan jurusan Hukum menjadi dasar mengapa ia dapat mengungguli kandidat lainnya.

“Pada awalnya ada sekitar 32 kandidat. Setelah melalui beberapa tahapan, hanya empat orang yang masuk ke tahap wawancara dan pemaparan grand design. Ketika keputusan akhir diumumkan, saya benar-benar terkejut,” kenang Fahmi, seperti dilaporkan oleh Kemenag.

Menurut Fahmi, kemampuan hafalan al-Qur’an dan penguasaan khazanah keislaman dari kandidat lain jauh lebih mendalam dibanding dirinya. Namun, ia tetap merasa bahwa pengalaman intelektual dan spiritual yang dimilikinya menjadi fondasi kuat untuk memulai perjalanan barunya sebagai imam.

Perjalanan Intelektual dan Spiritual

Perjalanan intelektual dan spiritual yang panjang membawa Fahmi berdiri di mimbar sebuah masjid yang memiliki makna istimewa: masjid pertama milik Indonesia di London. Bagi Fahmi, amanah tersebut merupakan kelanjutan dari perjalanan yang telah ia tempuh.

Latar belakang pesantren tidak serta merta membuatnya merasa siap sepenuhnya. Ia merasa bahwa ilmu yang ia peroleh belum cukup untuk menjawab kebutuhan umat dan tantangan zaman secara komprehensif.

“Namun Alhamdulillah, setidaknya itu menjadi titik awal yang kuat, sebuah pondasi untuk berpijak,” tuturnya.

Tanggung Jawab di Tengah Keberagaman

Berdiri di tengah aktivitas Indonesian Islamic Centre London menempatkan Fahmi pada persimpangan antara identitas, tradisi, dan keberagaman. Masjid tersebut bukan hanya rumah spiritual bagi masyarakat Indonesia di Inggris, tetapi juga ruang ibadah bagi jamaah dari berbagai latar budaya dan kebangsaan.

Fahmi mengakui bahwa tanggung jawab ganda ini penuh makna sekaligus menantang. “Di satu sisi, ada kewajiban untuk menjaga dan merepresentasikan tradisi keagamaan Indonesia serta melayani jamaah Indonesia. Di sisi lain, kami juga dituntut untuk responsif terhadap komunitas Muslim yang lebih luas dan sangat beragam,” ungkapnya.

Perbedaan dalam praktik ibadah sehari-hari dipandang sebagai peluang, bukan hambatan. Menurutnya, perbedaan tidak memisahkan, tetapi menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan serta menguatkan pemahaman.

Perspektif Baru Sebagai Minoritas

Menjadi seorang minoritas di London turut mengubah cara pandang Fahmi. Alih-alih sibuk berdebat soal siapa yang paling benar, ia justru berfokus pada upaya menghadirkan ruang ibadah yang damai dan inklusif.

Di tengah komitmen akademik dan tanggung jawab keagamaan, Fahmi menyimpan harapan untuk masa depan. Ia membayangkan mahasiswa lain dari Program Dual Degree UIII–SOAS dapat melangkah ke peran serupa, melanjutkan apa yang ia sebut sebagai “estafet dakwah” yang merupakan mata rantai pengabdian dan komitmen.

“Kebutuhan akan terus bertambah. Dan pelayanan terbaik harus senantiasa diupayakan bagi jamaah dan masyarakat luas,” tegasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan