Fakta Terbaru: Semua Korban Ditembak dalam Penyerangan Tambang Emas Ratatotok

Fakta Terbaru: Semua Korban Ditembak dalam Penyerangan Tambang Emas Ratatotok

Perkembangan Terbaru Kasus Penyerangan dan Pembunuhan di Tambang Emas Ratatotok

Polres Minahasa Tenggara telah mengungkapkan perkembangan terbaru hasil penyidikan kasus penyerangan dan pembunuhan yang terjadi di area pertambangan emas Ratatotok, Mitra, Sulawesi Utara. Penyidikan adalah tahapan proses penegakan hukum kasus pidana yang dilakukan oleh penyidik, dalam kasus ini yakni pihak kepolisian.

Dalam tahap ini, penyidik sudah dalam langkah mengumpulkan barang bukti dan penetapan tersangka. Kepada Tribun Manado, Kasat Reskrim Polres Mitra AKP Lutfi Arinugraha Pratama menjelaskan tentang hasil autopsi tiga korban meninggal dalam tragedi ini hingga barang bukti yang diamankan.

Semua Korban Meninggal Ditembak

AKP Lutfi menyebut bahwa tiga korban yang meninggal dalam kasus ini semuanya tertembus peluru. "Dari hasil otopsi ketiga korban ini tewas setelah tertembus oleh peluru," ucapnya, Jumat 26 Desember 2025 via telepon. Dirinya bahkan menyebut menemukan satu selongsong peluru di TKP. Dirinya memastikan, melihat dari ukurannya peluru tersebut berasal dari senapan angin yang sering dibawa penambang ke lokasi PETI. "Ukurannya tidak sama dengan pistol yang dimiliki polisi. Ini peluru dari senapan angin," bebernya.

9 Orang Ditetapkan Tersangka

Mantan Kanit Tipiter Polda Sulut itu menjelaskan pihaknya masih terus mendalami kasus di PETI Ratatotok tersebut. "Kita masih terus dalami, pada dasarnya sudah ada sembilan orang yang ditetapkan sebagai tersangka," tegasnya. AKP Lutfi Arinugraha Pratama menegaskan pihaknya terlebih khusus sedang mendalami dua kasus dalam tragedi ini. “Atas insiden tersebut, ada dua kasus yang kami tangani, yakni pembunuhan dan penyerangan,” ungkap, Jumat 26 Desember 2025.

Perwira tiga balok ini menegaskan dalam proses penyelidikan dan penyidikan, pihaknya menyimpulkan peristiwa yang menelan korban jiwa tersebut diduga dipicu soal lahan tambang. Awalnya salah satu kelompok bertujuan ingin bekerja mencari rejeki di lokasi tambang yang diklaim milik oknum berinisial SM. "Kelompok ini ingin bicara baik-baik namun terjadi perdebatan sehingga situasi pada saat itu tidak terkontrol lagi,” paparnya. Ia meminta agar masyarakat bisa menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada pihaknya. "Kami akan menyelesaikan masalah ini. Jadi tolong serahkan proses hukumnya pada kami," tegasnya.

10 Barang Bukti Disita Polisi

Polres Ratatotok telah menyita 10 barang bukti dari kasus ini. Empat diantaranya adalah senapan angin. Sedangkan enam sisanya adalah parang dan pisau badik. Kasat Reskrim Polres Mitra AKP Lutfi Arinugraha Pratama mengatakan 10 barang bukti tersebut disita dari para terduga pelaku. "Para terduga pelaku sudah kita tangkap, dan ada 10 barang bukti yang disita," ujarnya via telepon, Jumat 26 Desember 2025. Barang bukti ini diduga kuat dipakai saat para pelaku melakukan penyerangan di PETI Kebun Raya. "Ini yang dipakai saat kericuhan di Kebun Raya kemarin," ungkapnya.

Perwira tiga balok tersebut menegaskan kalau senjata angin yang dipakai para pelaku dibeli sendiri. "Mereka beli sendiri dan bawa ke lokasi pertambangan," ucapnya. Saat ini pihaknya masih terus mendalami peran masing-masing tersangka dalam kasus ini. "Intinya sudah ada sembilan orang yang jadi tersangka. Kalau perannya masih kami dalami," ucapnya.

Kronologi Kejadian

Sebelumnya diketahui, kasus penembakan terjadi lagi di lokasi PETI Kebun Raya, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Mitra. Berdasarkan kesaksian pihak korban, terungkap bahwa mereka memang diserang oleh para pelaku. Peristiwa berdarah itu terjadi pada Sabtu, 20 Desember 2025. Empat orang jadi korban. Tiga meninggal. Satu kritis hingga dilarikan ke RS Prof Kandou kesokan harinya, Minggu (21/12/2025).

Korban meninggal yakni Safrudin Makalalag warga Borgo Satu, Mawandi Lakamunte, warga Basaan Satu, dan Fathan Kalipe warga Belang. Korban kritis, seorang perempuan bernama Anisa Mamonto (57), warga Belang, Kabupaten Mitra. Yamin, suami dari Anisa Mamonto, saat diwawancarai wartawan Tribun Manado di RS Kandouw menuturkan kronologis penembakan hingga menyebabkan tiga rekannya meninggal dan istrinya kritis.

Ia mengaku sudah dapat ancaman sehari sebelumnya. "Ada yang katakan nanti ada kado," katanya. Pada Sabtu siang, datang sekelompok orang menyerang daseng tempat mereka. Melihat tembakan deras dan rekan-rekannya diburu, ia sempat keluar dan mengangkat tangan. "Saya katakan di sini ada perempuan," kata dia. Tapi tembakan terus berdatangan. Saat tengah berlindung, dirinya mendengar suara seorang rekannya. "Dia katakan saya kena, dan dia akhirnya wafat," kata dia. Sibuk mengurus rekannya, Yamin belakangan sadar sang istri tertembak. Dibekapnya sang istri. "Saya lantas teriak, istri saya kena dan mereka pun teriak bawa saja," katanya.

Hujan turun tak berapa lama setelah serangan itu. Dia pun menggendong sang istri yang sudah terluka di tengah hujan deras. Mengenai para penyerang, ia melihat ada di antara mereka bawa semacam tabung dan benda mirip teleskop. Ia mengaku juga tertembak di dada. "Tapi tak luka serius," kata dia. Ia mengatakan, Bupati Mitra membantu biaya pengobatan istrinya. "Dari pak Bupati membantu biaya pengobatan istri saya," katanya. Dirinya berharap para pelaku penembakan dapat ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.

Ada Penertiban Aktivitas PETI

Polda Sulut dan Polres Mitra sempat melakukan penertiban aktivitas PETI di Kebun Raya Ratatotok. Namun meski sudah dilakukan penertiban, aktivitas PETI masih terus berlangsung secara diam-diam. Bahkan alat berat yang sempat diturunkan kembali dinaikkan ke Kebun Raya Ratatotok Mitra. Aktivitas pertambangan di Ratatotok memang sudah tak terbendung. Kecamatan yang jaraknya sekitar 96 kilometer dari kota Manado sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Ratatotok memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil emas di Sulut.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan