FamChips Perluas Pasar Melalui Pertamina SMEXPO dengan Camilan Sehat


aiotrade,
JAKARTA - Industri makanan ringan atau camilan terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Segmen ini bukan sekadar pelengkap konsumsi harian, tetapi telah berkembang menjadi salah satu sektor bisnis yang paling dinamis.

Secara global, Statista Market Insight mencatat pasar makanan ringan dunia diperkirakan mencapai US$269,45 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) 6,20% hingga 2030. Indonesia menjadi salah satu pasar yang paling menjanjikan. Pada 2025, pendapatan pasar makanan ringan nasional diperkirakan menyentuh US$4,54 miliar, dengan CAGR 8,74% pada 2025–2030, jauh di atas rata-rata global.

Menariknya, saat ini masyarakat terutama kelompok usia muda yang mencakup sekitar 55% konsumen snack di Indonesia, mulai memilih camilan yang lebih sehat serta menggunakan bahan yang lebih natural. Hal ini kemudian ditangkap para pelaku UMKM yang menghadirkan camilan lokal berbasis bahan alami dengan kualitas premium. Salah satunya adalah FamChips, produsen camilan sehat asal Batu, Malang yang mengolah berbagai sayur dan buah dalam 28 varian keripik sehat.

Hadir di Pertamina SMEXPO 2025, FamChips menggunakan panggung ini untuk memperkuat penetrasinya di dalam negeri setelah bertahun-tahun berfokus pada ekspor. FamChips didirikan pada 2011 oleh Tuti yang memulai usaha ini dengan produk keripik tempe sebelum akhirnya mengembangkan teknologi pengolahan chips dari sayur dan buah.

Dari varian nanas, paprika, bayam, apel, pisang, hingga durian, setiap produk diproses dengan tiga metode berbeda yakni deep fry, vacuum frying, dan freeze-dry yang semuanya disesuaikan dengan kandungan air dan karakter bahan bakunya.

“Kami ingin buah dan sayuran bisa dinikmati dengan cara yang lebih mudah, sehat, dan enak. Karena itu teknik pengolahan harus disesuaikan, supaya rasa dan nutrisinya tetap terjaga,” ujarnya.

Teknologi vacuum frying menjadi salah satu kunci ciri khas FamChips. Proses penggorengan dengan suhu rendah ini menjaga warna, rasa, serta menghasilkan tingkat minyak yang lebih rendah. Sementara metode freeze-dry diterapkan untuk buah tertentu seperti durian, sehingga aroma dan teksturnya tetap bertahan tanpa tambahan pengawet.

“Renyah itu lahir dari minimnya kadar air. Prinsip kami, kriuk boleh, tapi rasa aslinya tidak boleh hilang,” tuturnya.

Saat ini, bahan baku FamChips dipasok dari petani pilihan di Batu, Malang. Setelah melalui proses seleksi ketat, bahan diproses berdasarkan metode yang paling sesuai, dikemas dalam desain modern, lalu dipasarkan secara daring. Untuk penjualan lokal, FamChips tersedia di marketplace seperti Shopee dan Tokopedia, sementara untuk pasar global, penjualan dilakukan dengan model B2B melalui distributor.

Sejak 2012, FAMCHIPS telah rutin menembus pasar internasional. Produk-produknya kini hadir di Hong Kong, Singapura, Rusia, dan Arab Saudi. Sertifikasi halal, HACCP, hingga ISO 22000 juga memastikan kualitas produk dapat diterima pasar global.

“Secara volume, kontribusi ekspor masih lebih besar karena permintaannya datang dari distributor yang membeli dalam jumlah besar,” ucapnya.

Namun setelah menjadi mitra binaan Pertamina, arah bisnis FAMCHIPS mulai berubah. Keikutsertaan dalam Pertamina SMEXPO 2025 membuka peluang baru, sekaligus memperlihatkan bahwa pasar lokal memiliki potensi besar untuk produk camilan sehat.

“Selama ini kami pikir minat terbesar ada di pasar luar. Namun lewat SMEXPO, kami sadar konsumen Indonesia ternyata sangat melek kesehatan dan terbuka dengan inovasi chips dari buah dan sayur,” ujarnya.

Varian yang paling diminati pasar lokal antara lain pisang oven, onion ring, dan bawang merah crispy, produk yang justru lahir dari keresahan pribadi pemilik yang ingin menikmati bawang goreng dalam bentuk yang lebih mudah dicemil.

Dengan harga mulai Rp17.000 hingga Rp45.000 dan ketahanan produk hingga 12 bulan tanpa pengawet, FamChips membidik konsumen sehat lintas usia, termasuk keluarga muda dan anak-anak.

FamChips merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan