Fitri Menemukan Orangtuanya Tewas Berpelukan Akibat Bencana Alam di Tapteng

Fitri Menemukan Orangtuanya Tewas Berpelukan Akibat Bencana Alam di Tapteng

Perjuangan Fitriyawanti Silalahi dalam Mencari Orang Tua yang Hilang Akibat Bencana

Di tengah keterpurukan akibat bencana banjir dan longsor, seorang perempuan bernama Fitriyawanti Silalahi (34) terlihat berada di lokasi bencana Desa Bair, Dusun Satu, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah. Ia datang dari kejauhan, mengenakan pakaian kaos berwarna pink, dan langsung menuju area pencarian mayat yang sedang dilakukan oleh petugas gabungan seperti polisi dan Timsar.

Desa Bair adalah salah satu dari 14 kecamatan yang terdampak bencana pada Selasa (25/12/2025). Saat itu, warga terpaksa menghadapi banjir dan longsoran tanah yang menimpa rumah-rumah dan korban jiwa. Fitri, yang kehilangan orang tuanya dalam bencana tersebut, memilih untuk tetap berada di lokasi bencana selama beberapa hari untuk mencari tahu nasib keluarganya.

Fitri menceritakan bahwa orang tuanya berhasil ditemukan dua hari lalu. Menurutnya, mereka kemungkinan sempat berpelukan sebelum akhirnya terpisah akibat guncangan bencana. Mayat sang ibu ditemukan cukup dekat dengan jenazah ayahnya, sehingga ia yakin bahwa mereka sempat berusaha melindungi satu sama lain.

"Kami sudah tiga hari ke atas ini. Hari kedua, orangtua kami ketemu. Memang hari itu, aku udah ada feeling orang tua bakal ketemu. Waktu dinyatakan sudah ketemu mamakku ditelungkupin pake sarung. Mungkin saat itu mereka (orangtuanya) berlindung atau kediginan makanya pake sarung," ujarnya.

Selang 15 menit setelah jenazah ibunya ditemukan, jenazah ayahnya juga ditemukan. Fitri mengaku, saat melihat jenazah ibunya, ia langsung mengenali punggung dan paha ibunya karena warna baju yang dikenakan. Meski hanya diberi waktu singkat untuk melihat, ia merasa lega karena bisa mengonfirmasi bahwa itu benar-benar ibunya.

Namun, Fitri tidak sempat melihat posisi pertama kali ayahnya ditemukan. Menurut informasi dari petugas, pencarian dihentikan sementara karena hujan deras. Ia hanya bisa melihat jenazah ayahnya di posko bencana.

Akhirnya, ketika di posko bencana, Fitri bersama keluarga dapat melihat kedua orang tuanya. Setelah itu, jenazah mereka diuburkan di tempat kuburan keluarga.

Fitri menyampaikan rasa kesedihan dan kekecewaannya terhadap penanganan bencana. Ia mengatakan, jika alat seperti eskavator cepat datang ke desanya, mungkin semua korban telah ditemukan lebih cepat.

"Sudah seminggu suami, abang saya dan warga disini menyewa alat dari perusahaan swasta seperti arit, senso dan lain-lain sejak satu hari setelah kejadian. Tapi itulah tidak berhasil," katanya.

Menurut Fitri, hampir 14 hari pasca-bencana, baru dua hari lalu tiga korban ditemukan. Tiga korban tersebut adalah ibunya, Normi Hutagalung (56), dan ayahnya, Marningot Silalhi (57).

Sementara itu, menurut laporan dari Tim Medis relawan Cakra Medika Jakarta, Abdul Latif menyebutkan bahwa kedua orang tua Fitri ditemukan dalam keadaan berpelukan.

  • Dua dari tiga korban yang ditemukan adalah sepasang suami istri yang ditemukan dalam keadaan berpelukan.
  • Proses pencarian korban masih berlangsung, meskipun banyak kendala dalam pengangkutan alat berat dan cuaca yang tidak mendukung.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan